HIGHLIGHT HEADLINE

Mana Lebih Keren, Menulis Status di Facebook atau Menulis Artikel di Kompasiana?

28 Januari 2010 11:39:00 Dibaca :

Itu judul yang nakal, yang pasti bikin marah Mark Zuckenberg, si empunya sekaligus si pencipta Facebook, kalau ia baca tulisan ini dan mengerti bahasa Indonesia. Lha, masak iya Facebook yang sudah nongkrong di peringkat dua situs terbesar di jagat raya ini mau dibandingkan dengan Kompasiana yang baru "yesterday afternoon site"? Ya belum kelaslah! Sebentar, saya adalah pengguna aktif Facebook maupun Twitter. jadi, please teman-teman yang fanatik Facebook dan Twitter jangan marah dulu dengan judul di atas. Dalam tulisan ini saya justru menguraikan manfaat tersembunyi kedua situs pertemanan tersebut. Sebelumnya, ikuti uraian atau kupasan saya di bawah ini: Baru-baru ini, DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), lembaga riset di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang khusus meneliti teknologi untuk kepentingan pertahanan, mengadakan perlombaan unik. Tidak terkait langsung dengan teknologi, lomba itu berupa pelepasan 10 balon cuaca ke udara. Kesepuluh balon cuaca itu akan mendarat kembali di bumi dan tersebar di seantero Amerika. Tercatat 4.000 tim mengikuti lomba unik ini. Harian The Washington Post melaporkan, pemenang lomba mencari balon udara itu adalah mahasiswa MIT, yang berhasil menemukan kesepuluh balon udara itu dengan catatan waktu kurang dari 9 jam! Apa rahasia kemenangan mahasiswa MIT itu? Sederhana, mereka menggunakan keampuhan jejaring sosial (social networking) dengan memanfaatkan situs pertemanan Facebook dan Twitter! Tim MIT sebelumnya sudah menghidupkan jejaring sosial dengan berbagai lapisan masyarakat yang mereka miliki di seantero negeri. Dari hasil pertemanan itu, diumumkanlah bahwa pada hari yang ditentukan saat balon udara dilepaskan, mereka harus melaporkan keberadaan balon udara itu kepada tim MIT lewat Facebook maupun Twitter. Hasilnya seperti yang ditulis di atas, tim MIT keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, hal terpenting dari proyek penelitian ambisius ini,  adalah sebuah contoh bagaimana proses dan kesempatan pendidikan dapat disediakan oleh sosial media seperti Facebook dan Twitter. Kevin Doole dalam blog The Manitoban menulis, jejaring sosial online dan teknologi web terus berlanjut menuju dewasa dan secara realistis keuntungannya dapat digunakan di universitas untuk keperluan pengajaran. Lebih dari itu, kata Doole, penelitian yang dilakukan DARPA itu menunjukkan sebuah kecenderungan (trend), situs pertemanan yang semula hanya dianggap main-main itu bisa difungsikan sebagai media proses belajar-mengajar di kampus. Bahkan di masa mendatang, universitas dapat memperkerjakan spesialis yang risetnya memfokuskan diri pada bagaimana teknologi yang relevan ini dapat digunakan dalam proses pengajaran yang lebih baik tersebut. Sulit disangkal, situs pertemanan saat ini merupakan barang terpanas  di dunia online. Menurut Nielsen Company, pada Augustus 2009, situs pertemanan mencatat 17 persen seluruh waktu online. Ini berarti, satu dari enam menit waktu yang dihabiskan untuk berinternet di Amerika Serikat dihabiskan untuk online di situs pertemanan seperti Facebook dan Twitter. Uniknya, secara demografis pertumbuhan tertinggi dari pengguna Facebook adalah perempuan, yakni di atas 55 persen. Sebaliknya, pengguna terbanyak Twitter adalah kaum pria berusia 25-54 tahun. Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan, Facebook dan Twitter bukan semata situs buat anak-anak, akan tetapi kedua situs itu sudah merupakan bagian dari rutinitas online bagi remaja dan orang dewasa. Bagi saya sendiri, tergantung bagaimana saya memperlakukan kedua situs pertemanan itu. Kalau sekedar membuat status kegiatan sehari-hari seperti saya makan di sini, saya ngopi sama teman di sana, saya lagi marahan sama si A atau saya lagi demenan sama si B, yang orang nggak peduli sama sekali dengan apa yang saya perbuat, ya nggak akan menghasilkan apa-apa. Artinya saya memperlakukan situs pertemanan itu sekedar iseng saja. Berbeda kalau saya membuat status di Facebook atau Twitter yang isinya berupa tautan terhadap informasi terkini di bidang yang saya suka, besar kemungkinan orang yang sesuka dan seminat dengan saya, yang kebetulan menjadi teman saya, akan mengklik tautan yang saya berikan itu. Di sini, proses belajar tanpa batas (studies without wall) dimulai! Menurut Doole, pebisnis, pemasar, komunitas, dan bahkan kelompok studi, dengan mudah akan memanfaatkan sosial media berupa situs pertemanan ini untuk kebutuhan masing-masing. Saya ingin menambahkan, politisi, polisi, swasta dan orang-orang pemerintah, dapat memanfaatkan Facebook dan Twitter ini untuk kepentingan masing-masing. Peneliti dapat memanfaatkan Facebook dan Twitter untuk melihat berbagai kecenderungan yang terjadi. Sebagai jurnalis, saya menerima ribuan informasi melalui Facebook dan Twitter setiap harinya sebagai rujukan awal sebuah berita atau tulisan. Harap dicatat, tulisan ini hadir juga lewat "keajaiban" Twitter! Sekarang, kelompok mahasiswa yang memanfaatkan sosial media dibandingkan kelompok mahasiswa yang tidak memanfaakannya, dapat terlihat dari prestasi belajar yang mereka raih. Penelitian terbaru di Ohio State University menunjukkan, mahasiswa yang menggunakan Facebook untuk wahana belajar satu hingga lima jam per minggu mendapat nilai rata-rata 3,0 hingga 3,5. Sementara, mahasiswa yang menggunakan Facebook selama 11 atau lebih per minggu mendapat nilai rata-rata lebih tinggi, yakni 3,5 dan 4,0. Meskipun ini penelitian di Amerika Serikat, setidak-tidaknya menggambarkan sebuah kecenderungan bahwa situs pertemanan bisa menjadi media pembelajaran. Tetapi, itu semua terpulang pada kita, saya, dan Anda semua, bagaimana memperlakukan berbagai situs pertemanan itu secara bijak. Facebook dan Twitter bagaimanapun "benda tak bernyawa". Jika saya memperlakukan situs pertemanan itu sekedar main-main, ya hasilnya pun akan kepuasaan sesaat yang didapat. Berbeda kalau saya memperlakukan Facebook dan Twitter sebagai media pembelajaran dan saya anggap sebagai kampus virtual terbuka, hasilnya juga akan lain. Sudah saya katakan tadi, tulisan ini ada karena hasil memasuki kampus virtual terbuka bernama Twitter! Bagaimana dengan Kompasiana dibanding Facebook? Di Facebook Anda bisa menulis status tentang keberadaan diri Anda atau sesuatu yang Anda pikirkan dalam beberapa kata saja. Dan, yang mengomentari status Anda hanyalah netter yang telah menjadi teman Anda. Di Kompasiana, Anda bisa menulis pemikiran yang dahsyat dan orisinil tidak hanya dalam beberapa kata, tetapi bisa dalam dalam beberapa kalimat, dalam beberapa alinea, atau bahkan dalam beberapa halaman. Dan, yang mengomentari pikiran serta gagasan Anda di Kompasiana tidak hanya netter yang menjadi teman Anda, tetapi Kompasianer yang telah ter-register serta jutaan pembaca Kompasiana lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Dan, jangan lupa.... tulisan di Kompasiana bisa dipajang juga di Facebook! Jadi, mana yang lebih cool bin keren?

Pepih Nugraha

/pepihnugraha

TERVERIFIKASI (BIRU)

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis di funpage Facebook "Nulis bareng Pepih" dan situs pribadi http://pepih.com, mempraktikkan dan mengobarkan citizen journalis dan hybrid journalism. Bermimpi lahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal sebagai sebuah obsesi. Upaya dan langkah untuk mewujudkan obsesi itu dengan mengajar dan memberi pelatihan menulis/jurnalistik di dalam dan luar negeri, serta menjadi juri berbagai lomba menulis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?