PILIHAN

Djoko dan Soesila Berteman Baik

16 Februari 2017 06:16:46 Diperbarui: 16 Februari 2017 07:41:05 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Dua anak berteman baik ini, meski tidak bisa dikatakan karib, namun cukup baik lah. Memang mereka beda generasi dan beda latar belakang. Sangat berbeda, namun sama-sama populer di muka teman-teman sepermainannya. Sebagai anak cowok, wajar saja kalau bermain di kali, di sawah, main kelereng, bola, dan panjang pohon, dan kadang juga nyolong buah tetangga. Tidak ada yang aneh dan luar biasa, kenakalan pun wajar sebagai anak-anak, tidak ada yang mengeluhkan.

Keduanya, memiliki keunikan yang bertolak belakang. Djoko badannya kecil, pendiam, dan tekun dalam banyak hal. Beda dengan Soesila yang badannya besar, kalau bermain ataupun belajar sangat lama, tidak heran nilainya bagus. Persamaan keduanya selain populer di antara teman-temannya, mereka selalu memenangkan aneka permainan, baik tunggal ataupun beregu.

Mereka ini awalnya tidak satu kampung, bahkan dari daerah lain yang kemudian hidup di satu desa karena tuntutan nasib keluarga mereka. Soesila anak ki lurah yang sangat bersih, jarang main di tempat anak lain bermain. Memang bermain hanya saja tidak sebebas rekan-rekannya. Ke sawah atau panjat pohon iya, hanya saja kadang kala, sepanjang orang tuanya sedang keluar desa sehingga tidak akan kena marah. Kesempatan juga kadang ambil mangga milik tetangga atau ambil ketela dan dibakar ramai-ramai.

Djaka hidup di kampung itu karena bapaknya kena PHK dan harus pulang ke tanah dari kakeknya yang puluhan tahun sudah tidak pernah lagi diurus. Dan inilah awal dari perubahan sikap dan perilaku Soesila. Awalnya lebih banyak diam, banyak pertimbangan dan mikir, tiba-tiba berubah setiap pulang ke rumah baik dari sekolah atau dari bermain pasti marah-marah tidak jelas. Tidak akan marah ke ibu dan bapaknya, mau tidak mau inang pengasuhnya yang menjadi pelampiasan. Awalnya hanya cemberut dan mengucir bibirnya, lama-lama makin menjadi, melempar sepatu yang usai dibuka, tas sekolah ke sembarang tempat. Padahal dulu mana melempar, menaruh miring sedikit saja akan dibenarkan. Hal ini membuat prihatin bibi pengasuh.

Anak-anak kampung menerima dengan tangan terbuka kehadiran Djaka. Ia supel, kalau bermain apa saja mau, main lumpur dengan kerbau ayo, main di sungai jalan, lempar jambu di kebun dekat kuburan di jalani. Apapun pokoknya dilakukan bersama rekan-rekannya. Anak-anak lebih dekat dan tiap pulang sekolah selalu saja membuat rencana main dengan Djaka. Soesila sebagai jagoan di kampung selama ini merasa tersisih. Susah mengajak Soesila ke kebun jambu dekat kuburan. Beda kalau main bola, congklak, kelereng, dan aneka macam mainan yang dekat rumah akan dijalani. Sebenarnya Djaka sendiri juga jago main itu semua. Lebih menyenangkan anak-anak adalah petualangan yang selama ini mereka tidak pernah dijalani bersama Soesila. Tahu sendiri anak sukanya tantangan.

Ternyata ini yang membuat Soesila jadi sensi. Tiba-tiba saja ia cerita ke bibi, katanya “Bi, Djaka jahat, semua temanku dibajaknya. Aku bukannya kalah, hanya saja ia curang, ngajak ke kuburan, kan gak boleh ya Bi?”

Bibi tahu, bahwa si bagus sedang gundah biasa anak-anak cemburu kalau ada teman baru yang lebih punya banyak teman. Ia hibur dengan bahasa yang ia pahami, “Gus, bagus kan pinter main bola, congklak, dan sebagainya, napa juga khawatir hanya karena tidak suka ke kuburan?”

“La, La, ayo main bola....” teriak anak-anak.

“Ogah, aku mau belajar....”jawab Soesila sedikit emosi dan kasar. Bibi mengelus dadanya karena melihat asuhannya berubah begitu drastis.

“Gus, sana buktikan kalau bagus bisa, Bibi yakin Bagus menang nanti...”

“Ayo, ajak teman baru kalian itu, aku mau bertanding dengannya...” sambil lari mengejar teman-temannya ia ketus sekali menantang sepak bola si Djaka.

Eh lha dalah, selama ini si Soesila si jagoan bola, kali ini dikalahkan oleh kelincahan Djaka. Makin jengkelah Soesila. Lebih uring-uringan lagi dari pada yang kemarin. Dari hari ke hari kejengkelan dan ketidaksukaannya makin menjadi.

Hampir semua permainan yang ia kuasai dan yakin menang ia katakan pada temannya untuk ditantangkan ke Djaka. Teman-temannya suka ria saja melihat persaingan tidak langsung dua  anak yang memang jagoan itu. Tiap pulang sekolah ada saja perlombaan di antara keduanya, dan kasihannya di Soesila hampir selalu kalah. Sebenarnya tidak kalah kalau ia tidak emosi dan terlalu berambisi. Teknik yang ia kuasai jadi tidak mampu ia lakukan karena dipenuhi kehendak tidak mau kalah. Sorak sorai rekan-rekannya membuat ia makin panas dan mencurigai teman-temannya sudah bersekongkol untuk lebih memilih Djaka.

Si bibi yang menyaksikan perubahan makin parah bagusnya menasihati, “Gus tidak perlu marah atau jengkel. Di atas langit masih ada langit, kalah bukan berarti kiamat, masih banyak hal yang bisa Bagus lakukan agar makin disukai teman-teman. Sana cuci kaki dan kemudian makan, sudah Bibi masakan kesukaan Bagus.”

Jayalah Indonesia

Salam

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana