Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Bahaya jika Ahok Menang

18 April 2017   12:15 Diperbarui: 18 April 2017   12:26 4195 33 29

Bahaya jika Ahok Menang

Pilkada DKI tinggal sehari, banyak cara baik lurus, biasa saja, hingga provokatif berseliweran untuk membentuk opini bagi masing-masing, bagaimana tidak, ada berita mengatakan, Anies Menang Bersyukur, Ahok Menang Kami ke MK, atau kalau Ahok Menang Dengan Curang Akan Ada Gerakan, ini berita media-media arus utama, lebih heboh lagi media sosial termasuk Kompasiana, ada judul, ini empat tokoh nazar yang aneh, jika Ahok menang, atau Mereka yang bernazar jika Ahok menang: ajakan bunuh diri massal.

Jadi hati-hati ini serius juga lucu-lucuan saja sebenarnya, bagaimana tidak kala salah satu kandidat yang mau bertarung esok belum-belum sudah melempar perang urat syaraf yang berlebihan menyambut gubernur aktif lagi, jangan menggunakan kekuasaan untuk mencapai kemenangan. Hal ini, baik yng bernazar, “mengintimidasi dengan baikk bahasa seolah halus ataupun vulgar, itu tokoh nasional lho. Mengerikan, karena mereka saya yakin didengar banyak orang, banyak pengikut setia yang bisa saja menerima begitu saja apa yang mereka katakan sebagai kebenaran, yang harus ditaati, apapun pasti seperti itu, jika tidak pasti salah, pihak lain pasti keliru, dan sejenisnya.

Berbahaya sekali berita, pernyataan, atau nazar yang mereka ucapkan. Jika tidak hanya lucu-lucuan semacam kata Pak Anies, jalan Jogya-Jakarta bisa patah kaki bagi yang sepuh, meskipun membual toh kali ini juga mengatakan nada provokatif lagi. Ada yang kehilangan burung,yang dulu belum dijalani kali ini ada pengikutnya, ujung-ujungnya juga sama. Ada pejabat yang gak punya kuping dan hidung, apa tidak malah medeni bocahcoba. Ada yang mau pindah wilayah, ini sih jargon bualan sebagai kebalikan dari lucu-lucuan.

Kalimat, kalau Anies menang syukur Ahok menang ke MK mau menunjukkan keadaan apapun tetap harus yang didukung menang. Apa ini demokrasi? Belajar lagi saja mau menangnya sendiri, sangat identik dengan bocah katrok [kathoke mlotrok]bocah yang bermain kelereng, kalau kalah ngamuk, nangis, menang mengolok-olok, kalah menuduh rekannya curang, menantang berantem, dan sejenisnya.  Hal ini seolah normatif saja karena tidak ada nada salah apapun, namun jelas sekali kalau Ahok menang sama juga dengan curang. Mana ada di belahan dunia ini seorang politikus berjiwa kerdil seperti ini coba?

Ahok menang karena curang akan ada gerakan, tambahan kata curang ini bisa lewat dipahami oleh orang yang sudah memang dari sononya maaf tidak cerdas, tidak bisa mengontrol keadaan, dan ini dipahami dengan baik oleh si pembuat pernyataan. Dia akan berkelit jika dimintai pertanggungjawaban bahwa mengatakan dengan ada kata curang, padahal tambahan ini hanya akal-akalan semata, membuat panas saja tensi tanpa adanya hal yang hakiki. Mengenaskan jika tokoh sepuh, berkaliber, namun jiwanya masih kerdil begini, coba jalan dulu gak usah jauh-jauh, UGM-Kentungan saja biar bisa belajar lebih pinter lagi.

Pernyataan kalau Ahok aktif lagi jangan menggunakan kekuasaan bisa diartikan sebagai, kemenangan Ahok meskipun kerja keras akan dimaknai sebagai pemanfaatan kekuasaan. Si pembuat pernyataan juga tahu persis hal ini, namun demi kursi idaman, apapun boleh dilontarkan sepanjang itu menguntungkan diri dan mematikan lawan.

Belum lagi media sosial yang memang bombastis, dan demi menuai panenan hits memilih bahasa dan kata yang menarik, kadang lebay juga, dan tentunya menjual, soal isi bisa dipikir belakangan. Hati-hati saja jika menyimak hal-hal di medsos.

Mengerikan rasanya demokrasi di negeri yang sedang latihan ini, bagaimana tidak, nazar yang suci bisa digunakan dengan seenaknya saja, belum lagi kalau meleset dengan mudah ngeles sana-sini. Malah menuduh pihak lain sebagai salah atau ada yang membajak. Perlu merenungkan lagi bagaimana orang berjanji, bersumpah, bernazar, bisa saja di sini aman, palaing dicibir sehari-dua hari, muka tembok beton gak soal, namun ingat pertanggungjawaban akherat, apalagi selevel pemuka agama lagi, dobel lho tuntutannya.

Kog malah mirip pilpres lalu, satu kubu melontarkan banyak sumpah dan semua tidak terbukti, ancaman meskipun sepertinya halus namun sangat menusuk dan menohok, paling tidak ada tiga itu yang sangat keras dan tidak selayaknya dilontarkan kaliber mereka.

Jelas menunjukkan ada kubu  yang tidak siap kalah, hanya siap menang. Jika kalahpasti curang,kalau menang pasti usaha kerasmereka, sekali lagi, model kanak-kanak yang perlu waktu untuk bisa bersaing dengan sehat.

Sepertinya, maaf terlalu berlebihan dan kasar, jika timbul namanya pemisahan kambing dan domba. Sekelompok menebarkan isu dan sumpah yang akan bisa dipastikan tidak ditepati, ada pula yang memang melakukan dengan nalar yang baik.

Ancaman-ancaman bawah sadar mereka ini sangat berbahaya karena bisa mengacaukan pemerintahan ke depan. Kapan coba bangsa ini membangun jika kekalahan saja bisa diratapi bertahun-tahun. Padahal esensi kekalahan dan kemenangan itu wajar, normal, dan biasa di alam demokrasi ini. Bisa diprediksikan juga kalau menang mereka akan bertahun-tahun juga di dalam euforianya, lupa kerjanya selain menikmati empuknya kursi, juk kapan le kerja jal?

Silahkan Jakarta memilih, mau memilih kambing dan kawanannya atau domba dan pengusungnya? Tidak perlu takut, namun rasional.

Jayalah Indonesia

salam