Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

Kejagung: OTT Bikin Gaduh

12 September 2017   08:45 Diperbarui: 12 September 2017   08:52 1221 23 20

OTT Bikin Gaduh dan Bisul Bangsa ini

Orang yang pernah mengalami bisulan akan tahu bagaimana reaksinya jika tersentuh. Ngilu dan sakit sampai ke mana-mana. Apa yang dinyatakan jagung soal OTT bikin gaduh sangat bisa dimaklumi. Apa yang diwacanakannya soal pencegahan juga bukan soal baru.

OTT Buat Gaduh

Entah mengapa level jagung bisa mengatakan demikian. Apa yang mereka perbuat dalam senyap, diam, dan tidak menimbulkan kegaduhan juga tidak memberikan hasil positif contoh dua kasus orang besar yaitu Harry tanu dan Dahlan Iskan, toh mentok terus. Atau karena ada "bisul" di tubuh jagung sehingga merasa panas dingin, demam, dan gak enak setiap kali ada aktivitas KPK, seperti OTT ini? soalnya orang bisulan itu sangat sensi jika tersentuh sedikit saja. Apa coba solusinya kalau OTT dianggap gaduh, baik jika ada alternatif soal pencegahan, apa benar dan efektif atau hanya karena tahu negara lain bisa?

Pencegahan, jikaFokus Mencegah, Bagaimana yang Sudah Malaing seperti Selama Ini?

Jangan lupa, bangsa ini sudah akut korupsinya, stadium empat, mosok mau divaksin, apa masih mempan atau malah tidak merambah ke mana-mana? Sepakat soal pencegahan, namun toh masih saja jalan di tempat seperti paskibra latihan baris berbaris. Mengapa demikian, salah satu yang jelas LHKPN pun masih dinilai sebagai hak bukan kewajiban, anjuran bukan perintah dan hukum wajib untuk diserahkan. Pajak dikuntit pun meradang, pengawasan juga seperti apa kualitasnya. Idenya tidak salah, namun apa tepat, sudah kena penyakit baru minta vaksin.

Sinergi, Bukan Soal Gengsi

Sinergi yang harus dibangun bukan malah saling merasa paling sukses, paling benar, paling bagus idenya, sedang pihak lain selalu salah, kurang, dan tidak pada porsinya. Jika sinergi yang ada adalah masukan untuk bergerak bersama untuk menahan laju maling-maling berdasi itu. Selama ini, hanya berkutat soal lembaga dan korps sendiri yang terbaik tanpa mau tahu isi di dalamnya keropos, meneropong kejelekan lembaga lain dan menutupi borok lembaga sendiri. Ini soal Mentalitas.

Mengakui Pihak Lain Tanpa Perlu Mempermalukan Pihak Lain untuk Menaikkan Citra.

Entah kapan dengan jiwa ksatria melihat pihak lain pun ada kebaikan dan prestasi. Pihak sendiri tidak mesti selalu benar juga, kadang salah, kadang juga ada kekurangan. Mau membangun citra itu tidak perlu menggunakan pihak lain sebagai kambing hitam. Luar biasa lucunya lembaga di negara ini. Selalu saja merasa kalau lembaganya paling baik dan lembaga lain yang berbuat salah dan buruk. Hampir semua demikian.

Prestasinya itu Kualitas, Bukan apa yang Diwacanakan, apalagi jika dengan Menegasikan Pihak Lain...

Prestasi itu kualitas kerja bukannya wacana, ide, atau gagasan semata apalagi jika diperparah dengan mempermalukan pihak lain. Pihak lain tentu memiliki rencana, fokus, dan program sendiri. Tanpa perlu menuding lembaga lain, jika mereka memang jawara tentu orang akan tahu. Ingat masyarakat sudah cerdas tidak perlu menuding diri atau pihak lain semua sudah paham kog. Pengakuan itu tidak perlu dipaksakan, tunjukkan dengan hasil, tentu semua akan mengacungkan jempol. Memangnya kalau sudah menuding akan diberi jempol? Itu dunia medsos .....

Dulu Polisi,  Kemarin Dewan, Kini Kejagung....

Luar biasa KPK ini, semua menuding ke lembaga itu, padahal jelas kinerjanya, prestasinya, dan hasil capiannya. Memang tidak ada yang sempurna sepanjang dikelola orang, lembaga lain itu tidak perlu menuding, tapi melengkapi untuk menyempurnakan kekurangan lembaga lain, hoiiiii ini negara bukan saling menjatuhkan untuk hanya menaikkan harga diri semu lembaga sendiri.

Musuh Bersama itu Maling Alias Koruptor Bukan KPK

Selama ini sepertinya musuh bersama itu bernama KPK bukan maling yang ditangkapi KPK, atau mereka salah paham akan KPK ya? Kog bisa diam seribu bahasa soal maingnya namun malah gencar menyerbu KPKnya? Ini asli aneh, bukan memburu tikusnya, malah ikut memburu pemburu tikus karena dianggap tidak menggunakan pakaian yang pantas. Ya tikusnya ngakak sambil garuk perut ala tom n jerry.

Lembaga negara harus duduk bersama, merumuskan bagaimana negara ini mau dibersihkan dari tikus, sehingga ada sinergi, satu tujuan dan fokus yang sama. Ingat tapi penyakit lain, bicara di depan dan belakang berbeda khas pejabat negeri ini. sepakat soal korupsi musuh bersama tapi juga maling bersama di tempat dan waktu yang sama pun tidak malu.

Pencegahan tanpa memperbaiki mental juga sama juga bohong, ini soal mental. Ingat remunerasi, sertifikasi, kenaikan gaji, ini bukan soal pendapatan namun sikap tidak meras cukup dan puas akan yang didapat. Banyak juga kog orang pas-pasan namun tidak mau maling karena memang sudah memiliki sikap mental yang baik.

Pendidikan sekolah dan agama yang harus sampai mendidik hati dan jiwa bukan semata otak. Jika kecerdasan hati sudah terjaga, ada barang di depan mata pun tidak akan diambil. Lha perilaku maling berdasi sekarang ini jelas barang tidak di depan mata saja diupayakan untuk diambil dengan berbagai cara, kemudian menyiapkan cara agar bisa bebas dari jerat hukum. Jelas berbeda bukan apa yang terjadi. Jika alasan soal gaji atau pendapat itu omong kosong.  Ahli agama, berpendidikan,  toh sama saja malingnya, bukan soal tahu saja namun paham tidak itu yang belum dipahami bersama.

Sikap mental yang perlu diubah itu perlu pendidikan, pembinaan, dan kegiatan terus menerus bukan semata ide dan wacana. mengembangkan kerja sama bukan bekerja bersama-sama juga menjadi penting.

Salam