Heikal Center
Heikal Center Membantu orang lain

Jika Ingin Merasa Bahagia, Maka Dahulukan Orang Lain Merasa Bahagia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Pengungsian Rohingya Mirip dengan Kisah Warga Desa Gamhoku Tobelo?

14 September 2017   05:10 Diperbarui: 14 September 2017   08:08 628 3 3

Kisah tentang Rohingya sedikit membuka kembali kisah-kisah yang saya dapati ketika mejalani hidup di sebuah Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara, tepatnya di Kota Tobelo. Kota yang sempat ikut merasakan sebuah pertikaian horisontal dengan isu agama, yang terjadi beberapa tahun lalu.

Kejadian konflik di Tobelo asal mulanya terbawa dari Provinsi Maluku, Ambon, dimana konflik horisontal tersebut mulai terjadi hanya dikarenakan oleh sesuatu yang tidak begitu jelas bahkan simpang siur, namun dari beberapa cerita dan pernyataan dari aparat keamanan, jika diruntut kejadian bermula dari ketersinggungan dua pemuda berlainan agama di sebuah pasar di Ambon.

Namun disini saya ingin menceritakan pengalaman dan kisah-kisah yang saya dapatkan dari beberapa pelaku yang terjadi di wilayah Tobelo. dimana Tobelo adalah sebuah kota kecil, yang didiami oleh separuh beragama Kristen dan separuhnya lagi beragama Islam, namun yang menjadi catatan saya adalah, kedua kelompok beda agama ini justru memiliki ikatan kekerabatan diantara mereka sangat dekat. Bahkan bisa dikatakan sangat akrab karena mereka masih dalam satu ikatan keluarga.

Cerita pertama kali yang saya dapatkan ketika sayta berdomisili di sebuah wilayah dusun yang disebut "jalan Baru" disini kebanyakan penduduknya beragama Islam, ditandai dengan sebuah Mesjid Raya yang sedang dalam masa pembangunan. selain "Jalan Baru" ada juga yang namanya "Kampung Cina" juga kebanyakan didiami oleh umat Islam, sekitar 4 wilayah dusun kebanyakan dihuni oleh keluarga dari muslim.

Dan sekitar 5 dusun lainnya dihuni oleh sebagian besar keluarga yang beragama Kristen. namun secara garis besar, di pinggiran Kota Tobelo banyak desa-desa yang hampir mencapai 90 persen dihuni oleh umat Kristiani, hingga ke wilayah Kecamatan Kao. Namun ke arah sebaliknya justru lebih banyak di huni oleh beragama Islam terutama di Kecamatan Galela. 

Perseteruan konflik horisontal tersebut, mulai bermunculan dengan sikap antipati dari beberapa kedatangan keluarga mereka yang selama ini bermukim di Ambon yang kemudian kembali ke Tobelo karena konflik di Ambon semakin memanas, bahkan cerita-cerita yang dibawa cukup membuat bulu nyawa berdiri, belum lagi beredarnya beberapa video dalam bentuk VCD dan DVD yang berisikan gambaran dilapangan ketika konflik sedang terjadi di Ambon, dan VCD dan DVD tersebut anehnya begitu mudah didapat.

Masih belum adanya sambungan selular cukup membuat suhu dan kondisi di Tobelo semakin memanas, bahkan beredar cerita-cerita jika di Kota Ternate dan Tidore yang memiliki penduduk muslim terbanyak, sudah terjadi konflik dengan pengusiran, penganiayaan dan penghancuran rumah-rumah milik warga yang beragama Kristen. akibatnya suhu yang sudah memanas, bagaikan api kecil kemudian disiram bensin, maka meledaklah kota Tobelo.

Sebagian besar warga Muslim terpaksa menyelamatkan diri, dikarenakan serangan secara bergelombang dari pinggiran Kota Tobelo yang jaraknya tidak begitu jauh dari dalam Kota Tobelo, semakin besar. Hingga akhirnya sebuah pasukan milik TNI AD yang tergabung dalam Kompi C Banau yang berdomisili di Kota Tobelo mengambil inisiatif untuk membantu menyelamatkan sebagian warga Muslim Kota Tobelo untuk mengungsi kedalam Kompleks militer mereka.

Namun tidak bagi warga sebuah desa yang bernama Desa Gamhoku, yang dihuni oleh sebgaian besar umat Islam, yang kebetulan posisinya berada di tengah-tengah Kecamatan Tobelo Selatan. Dan Kecamatan Tobelo Selatan ini, hampir 80 persen penduduknya beragama Kristen. Maka tidak adanya akses jalan lainnya, mengakibatkan sebagian besar warganya terpaksa memasuki hutan lebat untuk menyelamtkan diri dari serangan yang datang dari warga yang beragama Kristen. 

Dan kisah perjalanan mereka selama di dalam hutan untuk menuju ke Kecamatan Galela, yang dianggap aman, harus ditempuh dengan cukup berbahaya, karena untuk menempuh perjalanan menuju Galela mereka harus melewati wilayah dan hutan yang berada di sekitar Kota Tobelo dimana sekitar hutan, banyak kebun-kebun milik warga tani Tobelo.

Salah satu warga Desa Gamhoku yang sempat menceritakan kepada saya sekitar tahun 2004 lalu, mereka harus bisa berjalan masuk ke dalam hutan lebat, dikarenakan takut berpapasan dengan warga Kristen. dan perjalanan jika siang hari cukup ditempuh dengan lambat, terkadang mereka berjalan pada malam hari dikarenakan dirasa lebih aman. Selain itu mereka juga adalah petani yang biasa berkebun di dalam hutan.

Perjalanan yang harus ditempuh mencapai ratusan kilometer, dan ada yang harus bisa sampai ke Galela sampai satu minggu, dikarenakan sulitnya medan dan lebatnya hutan yang harus dilewati membuat mereka lambat. Sementara itu suara dentuman senjata yang berasal dari senjata rakitan maupun senjata organik sisa milik serdadu Amerika yang pernah mendiami Pulau Morotai sebagai Base Camp pada perang dunia kedua, tidak berhenti berbunyi jika siang hari, bahkan malam hari juga terdengar. itu juga yang membuat mereka harus berjalan melewati hutan lebat, alasannya peluru tidak punya mata.

Untuk urusan makanan mereka sebisa mungkin mengambil berbagai macam tumbuhan atau daun-daunan yang bisa dimakan oleh mereka, bahkan tidak jarang mereka mencoba untuk mencuri hasil kebun yang mereka jumpai selama perjalanan secara tidak sengaja. Setelah melihat pemilik kebun tidak ada atau sudah pergi.

Cerita-cerita mereka tentang perjalanan mereka selama berada di dalam hutan, bukan hanya kesulitan selama perjalanan, namun juga beberapa keluarga terpaksa melarikan diri tanpa sempat membawa anggota kelaurga mereka yang lainnya, terutama anak-anak mereka yang kebetulan tepat kejadian datangnya serangan tersebut, anak mereka sedang bermain jauh dari jangkauan mereka. Hingga akhirnya mereka melarikan diri sebisa mungkin. Bahkan ada yang justru melarikan diri membawa anak orang lain yang orang tuanya tidak sempat lari mengungsi, atau sudah mati terbunuh.

Sebenarnya bukan hanya warga Islam dari Desa Gamhoku. Sebuah Desa bernama Desa Duma dan beberapa Desa Kristen lainnya yang berada di Wilayah Kecamatan Galela juga terpaksa harus mengungsi menyelamatkan diri bergabung dengan desa lainnya. Namun yang paling sangat mengenaskan kejadian sebuah kapal penumpang dari kayu yang mengangkut sebagian besar warga Desa Duma dan bermaksud berlayar ke Bitung Sulawesi Utara, terpaksa harus karam ketika melewati lautan di daerah Batang Dua yang terkenal dengan ombaknya yang cukup besar, hingga mengakibatkan seluruh penumpang yang berjumlah ratusan orang terpaksa ikut hilang dan dianggap meninggal dunia.

Kembali ke pengungsi Rohingya, ketika saya memasuki dunia maya, tidak sedikit video dan foto yang diunggah ke sosial media terkait dengan pengungsian yang dilakukan oleh warga Rohingya dari ancaman pasukan keamanan Myanmar, dimana ada anak-anak yang melarikan diri tanpa orangtua, atau ada orang tua yang sudah berumur sangat tua terpaksa harus berjalan menempuh puluhan kilometer di dalam hutan untuk menyelamatkan diri. 

Dengan canggihnya dunia maya saat ini, sedikit membuat rasa penasaran saya dengan kisah yang diceritakan oleh warga Desa Gamhoku bagaimana mereka berjuang untuk bisa sampai ke Kecamatan Galela, sedikit terobati dengan gambar-gambar tersebut, dan saya meyakini jika kisah dan gambar yang tersebar dari penderitaan suku Rohingya sama dengan penderitaan yang pernah dialami oleh warga Desa Gamhoku. 

Saat ini Maluku Utara sudah dalam kondisi aman dan tertib, dikarenakan warganya juga merasa sadar pada akhirnya jika mereka sudah melakukan sebuah kesalahan besar, karena begitu mudahnya terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hingga pertalian ikatan kekeluargaan diantara mereka terputus, bahkan ada yang harus saling bunuh.

Semoga Rohingya bisa kembali ke daerah asal mereka tanpa merasa ketakutan dan khawatir akan tindakan dari pasukan keamanan Myanmar yang dianggap sudah keterlaluan, dikarenakan provokasi yang dilakukan oleh seorang Bikhsu yang disebut oleh Majalah Time, Budha Teroris, yang merasa jika Umat Islam Rohingya adalah penghalang bagi mereka.