HIGHLIGHT

Makna atau Filosofi pada Tembang Jawa

26 Juli 2012 15:28:05 Dibaca :

Bunga dalam bahasa jawa artinya kembang atau sekar. Tetapi tembang artinya juga sekar. Jika seorang waranggana atau wiraswara sedang nembang (melantuntan suatu lagu tertentu) disebut nyekar. Kenapa berziarah di pemakaman juga disebut nyekar?, mungkin maksudnya menabur bunga. Karawitan dan/atau tembang jawa merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan budaya warisan leluhur yang sangat tinggi nilainya. Tidak salah jika seni karawitan disebut sebagai seni adi luhung yang berarti sangat indah dan mempunyai nilai-nilai luhur. Bukan hanya karena keindahan gending dan keharmonisan instrumen gamelannya saja, tapi makna atau nilai yang terkandung dalam tembang-tembang jawa tersebut. Dalam tembang jawa ada tiga istilah tembang atau sekar. Sekar Ageng, Sekar Tengahan dan Sekar Macapat. Berhubung saya bukan ahli gending atau tembang, juga bukan pengamat, saya hanyalah sebagai penikmat, maka disini saya bukan hendak mengulas tentang gending atau  tembang tersebut, namun hanya akan mengutip sedikit makna yang terkandung dalam sebuah tembang (sekar). Inilah cakepan (syair) tembangnya : Bawa Sekar Ageng KUSUMASTUTI Dhuh kulup putraningsun Sireku wis wanci Pisah lan jeneng ingwang Ywa kulineng ardi Becik sira neng praja Suwiteng Narpati Nanging ta wekasingwang Ywa pegat teteki Inilah terjemahan bebasnya : Wahai anakku Sudah tibalah saatnya engkau Berpisah denganku Jangan terbiasa digunung (dusun) Lebih baik pergi ke kota (berbakti pada Negara) Dan mengabdi pada sang pemimpin Namun pesanku wahai anakku Jangan lupa pada sang pencipta (beribadah ?) Itulah makna cakepan Bawa Sekar Ageng Kusumastuti, tentang seorang ayah yang sedang memberi petuah kepada anaknya agar rela berbakti pada nusa dan bangsanya serta tidak melupakan ibadahnya. Mohon maaf jika terjemahannya kurang tepat. Semoga bermanfaat.

PAK DHE SAKIMUN

/pakde-sakimun

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Sedang menapaki sisa usia. Mencari teman canda di dunia maya. Hobi apa saja termasuk membaca dan (belajar) menulis. Bagi saya belajar itu tak berbatas usia. Menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahad. Motto : Seribu orang teman sangat sedikit, dan satu orang musuh terlalu banyak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?