HIGHLIGHT

Suka Duka PPG (Para Pencari Gratisan)

12 April 2012 05:10:39 Dibaca :

Ini crita gerombolan PPG di kantor ketika saya masih kerja di Jakarta. Ya namanya PPG, daya penciuman terhadap gratisan pasti diatas rata-rata, seperti daya penciuman anjing pelacak milik Polri. Wis gak usah lama-lama, kameraaaaa eksyeen.


Cerita pertama ini, saya hanya sebagai figuran, atau pemeran pembantu tambahan, tapi ya ndak trus mbantuin pegang kamera, pegel soalnya. Sore hari selepas kerja sekitar pukul 5, saya keluar dari kantor mau beli rokok. Sampai di lobby ketemu 2 ekor teman yang sedang merokok.


”Mau kemana, lo?”. ”Mau ke tempat pak haji, beli rokok”, sahut saya. ”Udah nggak usah, sini aja”, timpal teman saya sambil nawarin rokoknya. Dasa saya ini PPG akut dan mungkin daya penciuman gratisan saya yang terlatih, eh ada yang nawarin rokok, lha bak kucing nemu iwak peyek, langsung sergap tanpa pikir panjang. Saya kemudian bersama 2 teman saya itu merokok bersama rokok 432. Oh iya, 2 teman saya itu asalnya dari Bogor.


Sambil ngobrol kami mulai menikmati rokok yang ada. Belum seberapa lama menikmati obrolan, GM kami lewat. ”Mau bareng nggak lo?”, tanya GM kami, eh 2 ekor begundal ini langsung saja jawab serempak, ”Iya Pak”. Akhirnya 2 ekor teman saya ini dengan sukses pulang bersama GM saya dan saya ditinggal ngrokok sendirian. GM saya memang berasal dari Bogor sama seperti 2 ekor teman saya itu.


Teman saya sukses dapat tumpangan gratis sampai Bogor dan disopiri sendiri oleh GM, ”kapan lagi naik mobil disopiri GM kita hahahahaha”, begitu kata 2 ekor teman saya itu, dan hampir setiap hari mereka begitu, selama kurang lebih 2 tahun, bayangkeun sodara-sodara, 2 tahun. Kesimpulan ngawur saya, orang oknum asal Bogor itu mengidap PPG akut (lirik-lirik Mbak Dina dan Mas Erick).


Pelajaran dari cerita ini, jangan merokok dengan gratis di lobby kalau ndak mau ditinggal ngacir.


@@@


Kali lain, kami bareng-bareng pergi ke acara buka puasa bersama, kalau ndak salah tahun 2009. Acaranya nggak jauh dari kantor. Ada yang berangkat jalan kaki dan ada juga yang menggunakan mobil kantor. Ya kalau saya sih pilih naik mobil kantor, soalnya paginya saya hanya sahur bakwan dan air putih, takutnya mau dapat gratisan buka puasa malah pingsan di jalan kalau saya harus jalan kaki menuju tempat buka puasa bersama, kan nggak lucu?


Buka puasa pun dimulai dengan khidmat, cailah. Prosesi berlangsung diawali dengan makanan dan minuman manis, lalu sholat maghrib, baru kemudian makan besar berbagai hidangan. Saya dan teman-teman langsung menerapkan strategi sapu bersih, maklum PPG akut, yang PPG kambuhan dan PPG anyaran kelihatan masih malu-malu. Malu ambil makan bisa kelaparan, begitu prinsip kami sebagai seorang PPG sejati.


Acara yang ndak kalah seru adalah bagian terakhir yaitu pengundian doorprize atau hadiah pintu, halah. Sebagai PPG sejati kami sangat antusias mendengarkan pengumuman dari mbak-mbak MC yang manis. Ketika awal memasuki ruangan tadi memang kami dibagikan nomer yang akan diundi sekarang ini.


Telinga PPG saya akhirnya mendengarkan sesuatu yang indah, nomer saya dipanggil. Setelah kedepan, akhirnya saya mendapatkan sebuah hengpon yang belum smartphone, mungkin belum lulus UN jadi masih belum smart.


Setelah saya kembali duduk, saya kemudian nyeletuk, ”Fer, kalo lo dapat tipi, gimana?”. Feri jawab, ”Ogah gue, bawanya susah, rumah gue jauh di Bogor”. Sepersekian menit setelah Feri ngomong tadi, mbak-mbak yang manis mengumumkan sebuah nomer yang memenangkan sebuah tipi sebagai hadiah utama. Dan ternyata nomer itu adalah nomernya si Feri. Saya ketawa aja dan Feri kemudian ke depan sambil nyengir. Dalam hati saya Cuma berkata, oke mbah jenggot, kali ini ente gak salah.


Nah memang benar susah bawanya, setelah pulang saya bantuin nyari taksi buat bawa tipi itu ke rumah Feri, eh ndak muat taksinya membawa tipi. Kebetulan teman yang bawa mobil sudah pulang duluan ke kantor. Akhirnya saya telepon teman itu dan kembali untuk membawa tipi itu ke Bogor kantor, dan di kemudian hari barulah dibawa ke Bogor oleh si Feri.


Kesimpulannya, kalau sudah berniat jadi PPG harus terima resiko dong, rasain lo dapet tipi tapi nggak bisa bawa.


@@@


”Pak Alex, diajak Pak Yudha makan siang”, begitu bunyi sms dari manajer saya suatu siang. Saya kemudian tanya pada 2 orang rekan saya dan ternyata memang mereka juga dapat sms serupa. Wah makan gratis nih, pikir saya, tapi ada perasaan ndak enaknya juga, tapi karena PPG ya lanjut aja. Kemudian saya ketemu dengan manajer saya di lobby yang sedang menunggu GM kami, Pak Yudha.


Setelah Pak Yudha keluar, akhirnya kami berlima jalan menuju tempat makan yang lumayan mahal bagi kantong saya di dekat kantor. Nggak papa lah, yang mbayarin bos ini, begitu pikir saya. Setelah duduk, semua diberi buku menu oleh mbak-mbak pelayan restoran tersebut.


”Ayo pesen, makan yang kenyang ya”, begitu kata Pak Yudha. Kami yang jarang makan disitu pun kebingungan, manajer saya juga tampak kebingungan, ada apa ini sebenarnya. Setelah kami semua pesan, sambil menunggu, kami ngobrol north to south alias ngalor ngidul.


Pesanan makanan kami akhirnya datang, kami serius menikmati hidangan, apalagi gratis kayak gini pasti semangat. Tidak ada kata terucap, yang ada hanya kesibukan tangan, mulut dan lidah untuk menikmati hidangan yang ada.


”Sudah selesai semua makan, sudah kenyang?”, tanya GM saya. Kami pun menganggukkan kepala serempak, termasuk manager saya, sambil berkata lirih, ”Sudah Pak”. Nah akhirnya kami diceramahin dan dimarahin habis-habisan gara-gara ada satu kesalahan beberapa waktu yang lalu. Kami memang diberi makan sampai kenyang tapi habis itu dimarahin, mungkin kalau hanya dimarahin kami bisa pingsan, pikir GM saya, ini mungkin lho ya.


”Berapa lama lo nyiapin dokumen, Lex?”, tanya GM saya. ”Kurang lebih seminggu, Pak”, kata saya karena memang lumayan banyak data yang harus disiapkan sesuai permintaan GM saya. ”Kelamaan, 3 hari, pagi sudah di meja saya”, begitu kata GM saya dengan tegas seperti biasanya. Saya hanya bisa menjawab, ”Baik Pak”.


Pelajaran dari kisah ini, hati-hati kalau diajak makan siang sama Boss, bisa hujan lokal. Tapi lain waktu saya dicritain sama rekan departemen lain, katanya dia bersama rekan dan manajernya juga dipanggil Pak Yudha dan dimarahin, tapi nggak di restoran, tapi di ruangan beliau. Hahahaha kasian, sudah dimarahin tapi nggak dikasih makan.


Sekian.


Powered by @KoplakYoBand

Alex Enha

/pak_al

Teknisi sekaligus paranormal, member of @KoplakYoBand
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?