PILIHAN

Waktu vs 'Mashlahah' dan 'Mashlahah' vs Nilai-Nilai Ekonomi Islam

16 Februari 2017 23:08:31 Diperbarui: 16 Februari 2017 23:37:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Berbicara mengenai mashlahah, maka tidak akan jauh-jauh dari teori konsumsi. Untuk itu sebelum menjelaskan apakah waktu memberikan mashlahah maka kita perlu memahami bagaimana mashlahah dalam konsumsi. Dalam menjelaskan konsumsi, kita pasti akan mengasumsikan bahwa konsumen cenderung akan memilih barang dan jasa yang dapat memberikan mashlahah maksimum. Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islam bahwa setiap perilaku ekonomi selalu ingin meningkatkan mashlahah yang diperolehnya. Keyakinan bahwa ada kehidupan dan pembalasan yang adil di akhirat serta informasi yang berasal dari Allah adalah sempurna akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi, dimana kandungan mashlahah sendiri terdiri dari manfaat dan berkah.

Demikian pula dalam hal perilaku konsumsi, seorang konsumen akan mempertimbangkan manfaat dan berkah yang dihasilkan dari kegiatan konsumsinya. Konsumen merasakan ada manfaat suatu kegiatan konsumsi ketika ia mengkonsumsi barang/jasa yang dihalalkan oleh syariat Islam. Mengkonsumsi yang halaL saja merupakan kepatuhan kepada Allah, karenanya memperoleh pahala. Pahala inilah yang kemudian dirasakan sebagai berkah. Sedangkan mengkonsumsi yang haram maka akan menimbulkan dosa yang pada akhirnya akan berujung pada siksa Allah, Jadi mengkonsumsi yang haram justru akan memberikan berkah yang negatif.

Misalnya ketika seseorang menonton televisi di pagi hari, maka ia akan bisa memilih channel mengenai berita politik dan hukum, berita Kriminal, film kartun, hiburan musik atau siaran yang lainnya. Setiap jenis siaran tersebut dirancang untuk mampu memberikan manfaat bagi penontonnya, baik berupa layanan informasi maupun kepuasan psikis. 

Tambahan informasi dan kepuasan psikis inilah yang merupakan mashlahah duniawi atau manfaat. Di sisi lain, kegiatan menonton ini dimungkinkan memberikan berkah yang positif ataupun negatif, hal itu tergantung dari jenis tontonan dan tujuannya. Misalnya, ketika seseorang menonton berita yang mengungkap cacat (aib) dan keburukan seseorang tanpa tujuan yang benar, maka berarti ia telah mendorong dilakukannya ghibah yang dilarang oleh Islam. 

Oleh karena itu, ia akan memperoleh dosa (berkah yang negatif) meskipun mendapatkan kepuasan psikis. Namun, jika ia memilih menonton acara televisi yang menayangkan berita baik, maka ia akan mendapatkan kedua-duanya, yaitu kepuasan psikis dan berkah sekaligus.

Lalu apakah waktu memberikan mashlahah?

Berbicara mengenai apakah waktu memberikan mashlahah? sebelumnya banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya harus kita jawab terlebih dahulu misal: apakah anda menggunakan bus kota ataukah mobil atau kendaraan pribadi ketika pergi ke kantor atau kampus? Berapa lama anda habiskan waktu untuk merias atau merawat tubuh? dan apakah anda setiap hari memilih membeli makanan cepat saji ataukah memilih membeli, makanan siap saji?

Jika anda rasional, maka anda akan mempertimbangkan mashlahah marginal yang diperoleh dengan biaya marginnya, yaitu harga barang yang dikonsumsi. Tetapi satu hal yang selama ini sering diabaikan adalah aspek waktu. Salah satu bentuk pengorbanan dari suatu kegiatan bukan hanya masalah harga, namun juga mengenai waktu.

Makanan siap saji pada umumnya ditawarkan lebih mahal dibandingkan masakan sendiri di rumah, tetapi hal ini bisa lebih menghemat waktu. Salah satu biaya dari masakan rumah adalah adanya pengorbanan waktu. Oleh karena itu, biaya penuh dari makanan ini tidak hanya biaya bahan dasar, bahan bakar dan bumbu, namun juga biaya oportunitas dari aktivitas pengganti yang anda korbankan ketika anda memasak. Tentunya kegiatan ini akan mendatangkan mashlahah tersendiri.

Kita sangat paham sekali bagaimana konsidi tekanan hidup di saat dewasa ini, yanag maan telah banyak mendorong orang untuk memilih hidup di negara-negara makmur, suatu nilai yang tinggi (misal mahalnya harga) selalu terkait dengan pengehematan waktu. Restoran siap saji dan pesawat supersonik pun merupakan salah satu gejala dari gaya hidup ini.

Bahkan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan pun pastinya akan menghabiskan waktu. Semakin banyak waktu anda alokasikan untuk kegiatan yang menyenangkan, maka semakin sedikit waktu yang anda bisa lakukan untuk kegiatan menyenagkan yang lain. Sedangkan dengan semakin banyak waktu anda gunakan untuk bersantai di kamar tidur, semakin sedikit juga acra TV yang nantinya bisa anda tonton (kecuali jika TV itu anda bawa ke kamar).

Sebagai orang yang rasional pasti kita akan memikirkan akan mashlahah, pengehmatan waktu yang akan memberikan kemungkinan anada untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang lain. Misal ketika harga makanan siap saji lebih mahal daripada masakan sendiri, mungkin anda tetap akan membeli makanan siap saji karena aspek hemat waktu. Namun, tentu anda akan mempertimbangkannya apakah kualitas makanan tersebut telah memenuhi standar kesehatan, da jaminan kehalalannya atau tidak, dan cocok dengan selera anda dibandingkan dengan masakan anda sendiri atau tidak. Disisnilah nanti seseorang akan mempertimbangkan antara aspek tambahan dari mashlahah itu sendiri dan tambahan biaya di luar harga yang akan kita beli.

Masih berbicara mengenai mashlahah, banyak yang bertanya mengenai mashlahah dan nilai-nilai Ekonomi Islam. Tentunya kita tahu bahwa perekonomian Islam akan terwujud jika prinsip dan nilai-nilai Islam diterapkan secara bersama-sama. Pengabdian terhadap salah satunya akan mebuat perekonomian pincang. Penerapan prinsip ekonomi yang tanpa diikuti oleh pelaksanaan nilai-nilai Islam hanya akan memberikan manfaat (mashlahah duniawi) sedangkan pelaksanaan sekaligus prinsip dan nilai akan melahirkan manfaat dan berkah atau mashlahah dunia akhirat.

Sebagaimana misal, seorang konsumen yang akan memperhatikan prinsip kecukupan (sufficiency) dalam membeli barang, artinya ia akan berusaha untuk mebeli sejumlah barang atau jasa sehingga kebutuhan minimalnya dapat tercukupi dengan baik. Dimana, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencukupi kebutuhannya tersebut, tanpa perlu memandang ketersediaan barang bagi orang lain. Dalam kasus misal, saat terjadi musim paceklik petani, dimungkinkan terjadinya kelebihan permintaan (barang yang diminta melebihi barang yang tersedia). Dalam jangka pendek, maka akan terdapat sebagian konsumen yang tidak akan terpenuhi kebutuhannya. 

Masalahnya dalah siapakah yang akan terpenuhi kebutuhannya dan siapakah yang tidak akan terpenuhi kebutuhannya? Ketika konsumen hanya mempertimbangkan aspek kecukupan sendiri, maka ia akan berlomba-lomba dan bersaing untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa mempedulikan kebutuhan orang lain. Jika misalnya di pasar beras terdapat dua orang konsumen, yaitu Riyadi dan Rani, dan karena adanya musim paceklik, maka beras yang mampu disediakan produsen beras hanya ada 100 kilo per minggu. Riyadi biasanya membutuhkan beras 70 kg per minggu dan Rani membutuhkan 70 kg per minggu. 

Jika kemudian Riyadi dan Rani masing-masing hanya memikirkan kecukupan kebutuhannya masing-masing, maka mereka tentunya akan bersaing untuk mendapatkan beras sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya mereka yang mampu menawar dengan harga yang lebih tinggi yang akan mendapatkan beras terlebih dahulu (sejumlah 70 kg) dan yang lain akan mendapatkan sisanya (30 kg). Dalam hal ini, Rani dan Riyadi hanya akan mendapatkan manfaat (duniawi) sejumlah beras yang mereka beli, yaitu sejumlah 100 kilo untuk berdua, meskipun sebagian mendapatkan 30 kg dan yang lain hanya akan mendapatkan keberkahan minimal, karena mereka masing-masing tidak memiliki niatan untuk beramal ketika melakukan konsumsi.

Lain halnya jika Riyadi dan Rani juga berpikir untuk membantu orang lain ketiaka mereka berbelanja, maka mereka akan saling memikirkan agar tidak merugikan konsumen lainnya. Dalam hal ini Riyadi dan Rani, mungkin akan mempertimbangkan untuk membeli beras sejumlah tertentu, sehingga jangan sampai ada konsumen baru yang terhalangi membeli beras karenanya. 

Oleh karena itu, Riyadi dan Rani akan rela mengorbankan sebagian kepentingannya untuk orang lain, misalnya Riyadi hanya membeli sejumlah 50 kg saja dengan tujuan untuk memberi kesempatan konsumen lain, dan Rani mendapatkan beras sejumlah yang cukup (50 kg). Dalam hal ini, Riyadipun akan mendapatkan berkah karena telah berniat menolong orang lain meskipun harus mengorbankan manfaat (duniawi) yang ia peroleh. Hal ini akan dilakukan karena besarnya mashlahahtotal dipandang lebih besar ketika ia membeli beras 50 kg dengan niatan menolong orang lain dari pada ketika ia membeli beras 70 kg untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa manfaat dan berkah hanya akan diperoleh ketika prinsip dan nilai-nilai Islam bersamaan diterapkan dalam perilaku ekonomi. Sebaliknya, jika hanya prinsip saja yang dilaksanakan, misalnya pemenuhan kebutuhan saja, maka tentunya hanya akan mendapatkan manfaat duniawi semata. Keberkahan akan muncul ketika dalam kegiatan ekonomi-konsumsi, disertai dengan niatan dan perbuatan yang baik seperti menolong orang lain, bertindak adil, dan semacamnya.


Nurani Puspa Ningrum, S.E
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Nurani Puspa Ningrum

/nuranipuspaningrum

"This is the way I am" "I don't want some pretty face to tell me pretty lies... I need someone who always tell me the truth!!! and I will choose them as my closest spesial friend..." (Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL ekonomi

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana