Merdeka Tanpa Kebencian

11 Agustus 2017   14:32 Diperbarui: 11 Agustus 2017   14:34 148 0 0
Merdeka Tanpa Kebencian
Stop Hate Speech - makassar.tribunnews.com

Tidak dipungkiri, diantara kita masih menyimpan ujaran kebencian. Entah kepada teman, saudara, rekan kerja, atau yang lainnya. Akibat masih adanya bibit kebencian dalam diri ini, berpotensi merusak hubungan antar teman, saudara atau rekan kerja. Bahkan, di sosial media banyak orang memutuskan perteman hanya karena persoalan sepele. Banyak orang yang marah hanya karena status di media sosial. Bahkan, ada juga yang langsung melakukan persekusi, hanya karena status yang ditulis dianggap menjelekkan nama baik orang lain.

Inilah fakta yang terjadi saat ini. Banyak orang membanyak karena persoalan yang tidak substansila. Lalu, kenapa sebagian masyarakat kita jadi lebih mudah membenci dari pada memahami? Kenapa lebih mudah memelihara dengki dari pada cinta kasih? Padahal, tidak ada tradisi dalam ribuan suku yang ada di Indonesia yang menganjurkan kebencian. Juga tidak ada satupun agama yang ada di Indonesia yang menganjurkan kebencian. Bisa jadi, mudahnya sebagian orang saling membenci ini, karena terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.

Tidak dipungkiri, ujaran kebencian begitu masif dimunculkan oleh kelompok radikal dan intoleran. Selama ini, ujaran kebencian tidak pernah berdiri sendiri. Selalu saja ada kepentingan yang berada dibelakangnya. Wajar, karena ujaran kebencian memang bukanlah adat kita. Ujaran kebencian sengaja dimunculkan, untuk membuat tatatanan sosial masyarakat terganggu. Contoh yang paling jelas terlihat adalah ketika masa pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Ujaran kebencian kepada pasangan calon begitu terasa. Para pendukung begitu aktif mencari kesalahan. Akibatnya, masyarakat yang bersifat pasif, jadi mudah terpengaruh.

Begitu terbukanya media sosial, semua informasi dari mana saja berkumpul menjadi satu. Baik itu informasi yang baik ataupun yang menyesatkan. Apakah masyarakat kita sudah mulai tidak menghargai perbedaan? Tentu tidak. Terbukti, ketika ada yang tertangkap karena menebar berita bohong, ada motif dibelakangnya. Terbukti, ujaran kebencian yang dibalut dengan sentimen SARA di setiap pilkada atau pilpres, ditujukan untuk menurunkan elektabilitas paslon. Itulah kenapa ujaran kebencian yang muncul selama ini tidak pernah berdiri sendiri. Selalu saja ada faktor lain yang mengikutinya.

Kenapa ujaran kebencian harus dihilangkan dalam setiap perilaku manusia? Karena ujaran kebencian berpotensi memecah belah bangsa ini. Kita ingat bagaimana politik adu domba yang dijalankan Belanda ketika menjajah Indonesia? Strategi itu dilakukan agar masyarakat tidak bersatu melawan penjajah. Karena hanya dengan bersatu, penjajah tidak bisa masuk. Meski sempat terkecoh, masyarakat kembali sadar dan memantapkan persatuan yang ada. Hasilnya, penjajah berhasil diusir dari bumi pertiwi setelah menguasai 350 tahun.

Kita sudah bebas dari penjajahan fisik. Saatnya kita bebaskan negeri ini dari segala ujaran kebencian. Mari kita tanamkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Mari tanamkan pentingnya menjaga keberagaman Indonesia, yang sudah ada sejak sebelum negeri ini merdeka. Keberagaman bisa menjadi berkah jika kita bisa mensyukurinya. Sebaliknya, keberagaman bisa menjadi bencana, jika kita saling mempersoalkan perbedaan yang ada. Mau pilih yang mana? Negeri ini hancur karena ujaran kebencian, atau negeri ini tumbuh makmur karena keberagaman? Sekali lagi, mari kita wujudkan kemerdekaan tanpa kebencian di negeri yang toleran ini. Salam.