Hindari Makan Tahu Kuning dan Kawan-kawan! Berbahaya.

07 Juli 2012 01:44:02 Dibaca :

Sejak lima tahun lalu, semenjak maraknya pemakaian zat pewarna buatan saya menghentikan makan tahu kuning! Saya memang anti makanan berwarna. Saya hanya makan dan minum makanan warna asli. Tahu kuning, nasi kuning saya makan karena zat pewarnanya alami kunyit, kuning atau kunir. Namun ketika saya mulai ragu tentang tahu kuning maka saya menelitinya.


Saya mengambil sampel 10 tahu dan meminta teman saya yang bekerja di suatu badan untuk memeriksa apakah tahu kuning mengandung zat pewarna buatan? Hasilnya ya. Semua sampel mengandung zat pewarna buatan. Tentang zat pewarna buatan berbahaya atau tidak saya belum meneliti lebih jauh. Butuh banyak uang untuk meneliti.


Namun yang jelas, terjadi pergeseran pewarnaan tahu, dulu mewarnai tahu dengan kunyit atau kunir atau kuning. Sekarang semua tahu kuning memakai zat pewarna buatan. Ciri kunyit memberi rasa aroma khas. Pewarna buatan justru mengurangi bau khas tahu.


Selain itu, klepon, dawet, pisang hijau, putu mayang, coro bikan, bika ambon dan lainnya yang memakai pewarna hijau buatan sebaiknya dihindari. Terlebih lagi kalau makanan ini disuguhkan pada anak kecil. Banyak pedagang di Jakarta menggunakan warna hijau yang biasa digunakan untuk tekstil.


Konsumsi bahan pewarna buatan tak aman dalam makanan dan minuman dalam jangka panjang akan menimbulkan impotensi pada pria. Juga bisa menimbulkan penyakit kanker.


Makanya silakan waspadai dan jaga diri hindari tahu kuning dan semua makanan berwarna kuning buatan yang tidak sehat. Juga makanan berwarna hijau yang warna hijaunya bukan dari daun suji atau daun pandan. Mari hidup sehat dan tetap perkasa tidak impoten dan sakit kanker!


Ninoy N Karundeng

/ninoy

TERVERIFIKASI (BIRU)

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?