Bersembunyi di Balik Kata 'Penistaan Agama'

17 Februari 2017 20:53:06 Diperbarui: 19 Februari 2017 22:26:42 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Bersembunyi di Balik Kata 'Penistaan Agama'
peserta-aksi-damai-212-58a7132fb47a61c33b842e00.jpg

Tulisan saya ini hanya mencoba untuk sedikit meluruskan tentang perdebatan dari kata "PENISTAAN AGAMA' yang dipakai oleh para "ELIT POLITIK" dan "OKNUM" dari kacamata pengetahuan yang saya dapatkan. Apakah memang benar kata2 tersebut pantas dijadikan acuan untuk "Menjegal" lawan dalam hal berpolitik..??


Seperti yang kita tahu, kata2 tersebut dalam hal perdebatan antara 2 kubu yg bersebrangan selalu saja dijadikan "tameng" kubu Agamais guna melawan kubu Rasionalis. Mengapa saya sebut demikian? ya.. jelas, 2 kubu bersebrangan tersebut bisa dipastikan mewakili apa yang saya sebut tadi dan dapat dilihat dari komentar2 mereka dalam berdebat.


Munculnya kata "Penistaan agama" di telinga kita semua baru2 ini, dikarenakan PIDATO AHOK yang disampaikan di Pulau Pramuka pada 27 September 2016 silam "menyentil" nama Surah dalam AL QUR'AN  (AL MAIDAH 51) dan dianggap Melecehkan Kitab Suci umat Islam. 


Seperti yang sudah banyak orang ketahui juga, sebenarnya kata2 "Penistaan" itu seharusnya muncul dari jauh2 hari sebelum Ahok berpidato di Kep. Seribu, mengapa baru di"munculkan" sekarang jika bukan karena ada 'pemanfaatan' unsur politik..?? bukan kah Ahok sudah menistakan AL QUR'AN  dari dulu..?? bisa dilihat dari bukunya yang berjudul “Merubah Indonesia” hal. 40 terbitan Center For Democracy and Transparency Tahun 2008. 


Jika tidak ada kepentingan yang terselubung, mengapa baru sekarang dipermasalahkan..?? Saya yakin masyarakat dan para Elit yang berkepentingan sudah ada yg membaca sebelumnya. Dan mengapa tidak ada yang langsung mempermasalahkan tulisan tersebut pada waktu itu..?? masih hangat di ingatan kita tentang wacana Gubernur tandingan yg dimunculkan oleh sebuah Ormas yang mengatasnamakan Islam beberapa waktu yang lalu. Apakah masalah ini masih berkaitan dengan kasus yang sedang saya bahas disini? apakah ada unsur politik juga..?? Biar waktu yang menjawab.


Menjelang PILKADA DKI 2017 inilah kita disuguhkan dengan Dagelan Politik para PASLON untuk meraih simpati masyarakat sekaligus menghambat laju lawan dalam berkompetisi, dimana  kata2 "MENISTAKAN AGAMA" muncul dan di manfaatkan oleh lawan politik AHOK untuk menjegalnya menjadi DKI 1 kembali. Lebih parahnya lagi, mereka2 itu mencatut sebagian kata2 dalam AL QUR'AN dan mengartikan nya secara 'sepihak' dimana "SEORANG MUSLIM dilarang MEMILIH PEMIMPIN NO MUSLIM" dan memanfaatkan rakyat Indonesia (warga DKI khususnya) yg mayoritas MUSLIM untuk tidak berpihak kpd AHOK.


Jika kata2 dari Ayat AL QUR'AN menjadi acuan dalam mencari pemimpin suatu Negara atau daerah yg berlandaskan Demokrasi, yang menjadi pertanyaan masyarakat umum.. Bagaimana mimpi seorang anak NON MUSLIM yang bercita2 menjadi seorang pemimpin..?? bukankah itu sama saja mematikan mimpi dan semangat mereka dalam menggapai cita2nya..??


Jika kita telusuri sejarah ISLAM, jauh ke peradaban sebelumnya, ada beberapa contoh (bisa di cari via Google) sebagian kecil :

Pada masa khalifah Mu’awiyah telah diangkat sebagai bendahara seorang pendeta Kristen dari Damaskus yaitu pendeta John. Sejarah mencatat bahwa di bawah kekuasaan Sultan Buwayhiyah, menteri luar negeri, menteri pertahanan, serta menteri keuangannya sering kali di isi orang2 non muslim. Di bawah kekuasaan khalifah ‘Abbasiyah ke-16 al-Mu’tadhid, seorang Kristen taat bernama ‘Umar bin Yusuf, diangkat sebagai gubernur Provinsi al-Anbar, Irak. Nashr bin Harun, juga seorang Kristen, bahkan dipercaya menjadi perdana menteri di masa ‘Adud ad-Daulah (949-982M).


Kembali pada titik permasalahan, kata2 "PENISTAAN AGAMA" ini seharusnya tidak pantas dimunculkan sebagai rujukan memilih PEMIMPIN dalam hal berDemokrasi. perihal Surah AL MAIDAH 51 tersebut, seharusnya kita menelusuri terlebih dahulu "alasan" mengapa Surah tersebut diturunkan. Bukankah setiap Ayat dalam AL QUR'AN diturunkan ada sebab musababnya (Asbabul nuzul)..?? Apakah ayat tersebut diturunkan secara khusus perihal tentang memilih pemimpin..??


Dari sejarah jelas tercatat turunnya Ayat tersebut, kata AULIYA digunakan untuk "menegur" sahabat2 NABI SAW yg berlindung dan berkawan dalam hal peperangan, bukan perihal memutuskan memilih pemimpin. Garis besar beberapa Riwayat mengisahkan bahwa ayat ini diturunkan pada saat ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul tengah bertengkar. Mereka berdebat terkait siapa yang pantas dijadikan kawan dan tempat berlindung, jauh dari pengertian tentang memilih pemimpin.


Dalam hal pengartian kata AULIYA, dapat diartikan secara universal yg berarti sahabat, kawan, pelindung. Hanya di Indonesia pengartiannya di khususkan sebagai "PEMIMPIN" (Merujuk pada Terjemahan Al Qur'an Kementerian Agama edisi revisi 1998 - 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57). Sedangkan di Negara yang mayoritas muslim lain nya pengartian kata AULIYA tidak berfokus pada kata PEMIMPIN.

quote-58a711b6c1afbd6a3e508af9.jpg
quote-58a711b6c1afbd6a3e508af9.jpg


Maka dari itu, pada tulisan ini saya tidak bermaksud mengajak pembaca untuk Membela Ahok ataupun membuat "panas" keadaan politik ataupun pihak lawan AHOK. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk berfikir lebih jernih makna dibalik kata "PENISTAAN AGAMA" yang sudah di LANTANGKAN para ELIT dan OKNUM untuk berpolitik dari sudut pandang yang saya pahami dan pelajari.


Demikan pemikiran yang bisa saya jabarkan melalui tulisan ini, perihal adanya pro dan kontra tentang tulisan saya, hanya kata maaf yang saya bisa ucapkan jikalau ada kata2 yang menyudutkan dan kurang berkenan kepada pihak2 tertentu. Inilah Demokrasi dimana kita masih sama2 belajar menjadi warga negara yg baik dan penuh toleransi. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca..


Wassalam



Ndrow

/ndrow

TERVERIFIKASI

(2nd Account) Berfikir berdasarkan opini pribadi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana