Haram Katakan "Jangan" Pada Anak?

30 November 2016 23:32:23 Diperbarui: 30 November 2016 23:54:29 Dibaca : Komentar : Nilai :

HARAM KATAKAN “ JANGAN ” PADA ANAK ?

Egosentris adalah bentuk sentrasi. Menurut Piaget, anak-anak begitu terpusat pada sudut pandang mereka yang tidak dapat mereka peroleh dari yang lain. Anak berusia 3 tahun tidak seegois seperti anak bayi yang baru lahir, tapi kata Piaget, mereka masih berpikir bahwa dunia berpusat pada mereka.

Dalam hal ini yang dimaksudkan egosentris di pembahasan ini adalah keegoisan anak terhadap apa yang diinginkan dan apa yang dilakukan. Pada tahapan anak usia dini yakni antara anak usia 3 tahun hingga anak usia 6 tahun, anak sedang besar-besarnya memiliki sifat egosentris. Pada tahapan ini, anak usia dini menganggap apapun yang ada didalam dirinya atau apapun yang dimilikinya hanya miliknya tidak boleh diberikan kepada yang lain. Jika diberikan kepada anak yang lain, anak tersebut pasti akan sangat marah kepada siapapun yang memberikan. Bahkan yang lebih ekstrim, anak tersebut akan merebut secara paksa apa yang dianggap miliknya.

Pembahasan ini juga berlaku kepada keegoisan anak dengan apa yang dilakukannya. Banyak anak yang melakukan kegiatan yang dianggap membahayakan oleh orang tua. Hal ini, banyak orang tua yang membatasi kegiatan-kegiatan anak.

Seringkali kita mendengar, orang tua melarang atau membatasi kegiatan anak yang dianggap mengkhawatirkan. Bahkan sering orang tua mengatakan “ jangan bermain itu nak, itu bahaya”, “jangan dekat-dekat dia nak, dia anak yang nakal”, “jangan berlaku seperti itu nak, itu tidak baik”.Dengan menggunakan kata “ jangan”, anak akan merasa ruang geraknya dibatasi oleh orang tuanya. Dan yang lebih parahnya lagi, pertumbuhan dan perkembangan si anak akan cenderung lambat dari teman-teman seusianya. Padahal anak usia dini adalah masa dimana mereka memiliki "golden age", yang mampu berkembang pesat melebihi orang dewasa. Jika kita mematahkannya dengan mengatakan "jangan!" dan kita terlalu sering melarang, sinapsis yang sedang berkembang di otak akan putus, seperti pohon yang gersang.

Namun tidak sepenuhnya kita tidak boleh menggunakan kata “jangan” pada anak. Jika kita terus menerus menggunakan kata “jangan” pada anak, kapan anak akan mengerti bahwa yang dilakukannya itu berbahaya bagi dirinya.

Dengan demikian, kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memilih kalimat yang tepat untuk berbicara kepada anak. Apabila kita mengucapkan kata yang salah, seterusnya akan terekam dalam memori si anak. Dan kita juga tidak seharusnya membatasi ruang gerak anak dan juga ruang gerak kekreativitasan si anak. Apabila kita akan menggunakan kata “jangan” sebaiknya diikuti dengan pengertian atau pemahaman kepada si anak. Agar anak mengerti apa konsekuensi jika anak melakukan itu.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article