Kekejaman Ekstremis dan Kebisuan Ormas

17 Desember 2014 18:14:20 Dibaca :

Dunia tersentak. Kelompok milisi Taliban menyerang sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan. Portal berita daring New York Times menyebutkan 145 korban tewas. Sebagian besar dari korban tersebut adalah anak-anak siswa sekolah.

Ini bukan kali pertama Taliban menargetkan anak-anak yang bersekolah. Masih segar dalam ingatan ketika Oktober 2012, sebuah bus sekolah dicegat, dan siswa yang berada di dalam bus ditembaki. Salah satu korbannya, Malala Yousafzai, bahkan menerima Nobel Perdamaian 2014 karena keberaniannya memperjuangkan hak untuk belajar bagi kaum perempuan.

Apa yang dilakukan sejumlah kelompok ekstremis anehnya tak pernah dikecam oleh sebagian ormas di Indonesia, yang enggan distempel sebagai kelompok ekstremis: FPI, MMI, HTI, JAT, dsb. Tentu bukan hanya persoalan Taliban akhir-akhir ini saja. Sebut saja semisal kekejaman yang dilakukan AL Qaeda, Boko Haram, IS (nama baru ISIS), tak mendapat perhatian serius dari mereka. Bahkan ironisnya  mereka malah secara terang-terangan mendukung aksi brutal kelompok tersebut.

Bila menyangkut kekejaman Israel terhadap Palestina mereka berbondong-bondong turun ke jalan. Tidak salah memang. Tapi yang dilakukan oleh kelompok ekstremis jauh lebih biadab. Konflik Israel-Palestina lebih kental urusan politiknya sedangkan Taliban, IS, dan kroninya membantai nyawa manusia yang tidak bersalah tanpa sebab. Apakah ada dari ormas-ormas yang disebutkan di atas melakukan aksi di jalan untuk mengutuk mereka?

Kalaulah mereka tidak mau dicap sebagai ormas esktrem/radikal, apa susahnya untuk sekadar membuat pernyataan bahwa mereka mengutuk tindak kekejaman yang dilakukan kelompok ekstremis. Seperti halnya yang dilakukan oleh PBNU dan Muhammadiyah. Jika tidak maka mau tidak mau, suka tidak suka, publik akan menilai bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok ekstremis. Dan ini jelas berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Indonesia merupakan negeri yang sangat plural. Berbagai macam ras, agama, suku, dan golongan hidup di negeri tercinta ini. Untuk menjaga kerekatan antarsesama dibutuhkan individu dan kelompok yang memahami perbedaan. Maka tak ada ruang bagi kelompok manapun untuk mengusiknya. Tapi sayangnya kenyataan berbanding terbalik dengan keinginan. Masih banyak kasus-kasus kekerasan yang bermula hanya dari sebuah perbedaan. Kebanyakannya adalah perbedaan soal aspek keagamaan.

Tak usah berbicara soal pertentangan antara dua agama yang berbeda. Dalam satu agama hanya berbeda aliran saja sudah terjadi tindak kekerasan. Apa yang terjadi terhadap warga Ahmadiyah dan Syiah menjadi contohnya. Mereka yang berdarah asli Indonesia, tinggal lama di Indonesia, disiksa, diusir, bahkan ada yang sampai terbunuh. Bagaimana bisa kita hidup dalam kungkungan kengerian seperti itu?

Bisa dibayangkan bila ormas-ormas penyuka kekerasan tetap eksis di Indonesia. Dikhawatirkan Indonesia akan menjadi The Next Irak, Afghanistan, atau Pakistan. Tentu tanggung jawab kita semua, utamanya pemerintah, agar kekhawatiran ini tidak terjadi. Kunci utamanya terletak pada toleransi dan penegakan hukum. Sinergi antara keduanya akan membawa kedamaian di bumi Indonesia tercinta.

Najib Abdillah

/n471b

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pemuda dengan segudang ide besar.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?