Menteri Perdagangan Versus Saya tentang Kampanye Pengurangan Konsumsi Beras

19 April 2012 08:57:03 Dibaca :

Berikut ini adalah cerita yang bersumber dari artikel yang saya baca di Antaranews.com berjudul "Mendag serius kampanye pengurangan konsumsi beras" Rabu, 21 Maret 2012, tetapi sudah saya mix dengan beberapa opini dari saya.

...Data Kementerian Perdagangan menyebutkan konsumsi beras Indonesia 140 kg per orang per tahun. Itu jauh di atas angka-angka konsumsi beras di Vietnam, Thailand dan Malaysia yang hanya berkisar 65-70 kg...

Saya: "Data dari mana bos? Saya aja yang beras tinggal ambil (maklum sering bantu2 istri dagang beras) cuma 60-70 kg per tahun, padahal saya hobi makan."

...Menurut Gita, jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton...

Saya: "Yang perlu dihemat itu energi bos, jelas-jelas negara ini agraris dan berpotensi swasembada pangan kok malah disuruh berhemat masalah makan. Anda harus berhati-hati kalau bicara bos, saya dan jutaan manusia Indonesia lainnya yang mata pencahariannya berhubungan dengan makanan bisa ngamuk loh."

..."Jika kita bisa menghemat 10 juta ton, maka kita tidak usah impor tiga juta ton. Sebaliknya malah bisa ekspor tujuh juta ton...

Saya: "Jika kita menghemat 10 juta ton, produksi beras Indonesia juga pasti turun karena begitulah hukum ekonomi berjalan di pasar bos, mana mungkin bisa ekspor?"

..."Saya tiap pagi sarapan singkong. Siang makan nasi merah. Malam sudah tidak makan nasi lagi," katanya seraya memperlihatkan tubuhnya yang tampak tetap bugar meski mengurangi konsumsi beras...

Saya: "Per 100 gram sajian, nasi itu menghasilkan 1500 Kilo Joule energi sedangkan singkong hanya 600-an Kilo Joule. Kalau manusia Indonesia ini rata-rata pekerja keras maka saran anda makan singkong itu menyesatkan bos. Okelah kalau rata-rata orang itu levelnya juragan dengan kerja yang cukup santai seperti anda, kenyataannya lebih dari 30 % manusia Indonesia adalah buruh."

...Ia menyambut baik kebijakan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang memulai dengan menggelar program "One Day No Rice". Kebijakan Walikota itu melarang pegawai negeri sipil (PNS) Depok mengkonsumsi nasi pada hari Selasa...

Saya: "Sudahlah pak tidak perlu melarang-larang makan nasi, yang perlu dilarang di Depok adalah membuang sampah sembarangan."

Sekian, terimakasih. Maaf jika komentar saya terlalu pedas. Kemampuan itu saya peroleh berkat jasa guru-guru saya dalam hal berkomentar baik yang lokal seperti Pak Kaskus dan Bu Indowebster maupun yang bule seperti Mr Myspace, Mrs Facebook, & Ms Twitter (jangan lupa almarhum Grandpa Friendster).

Yanuar Sadpodo

/musicspotlight

Seorang 'mantan' pengamat musik yang kini berkecimpung dalam bidang ekonomi (baca: cari uang untuk anak istri)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?