Pasar Senen dan Keajaiban-keajaibannya

29 Desember 2011 16:35:57 Dibaca :
Pasar Senen dan Keajaiban-keajaibannya
-

Alhamdulillah! Akhirnya saya menemukan 2 buku kumpulan cerpen Misbach Yusa Biran, Oh...Film dan Keajaiban di Pasar Senen (judul cetakan pertamanya Miracolo Senen Raya). Buat saya, gaya bahasa Pak Misbach sangat khas penulis angkatan kakek-nenek saya, seperti juga Soekanto SA (terutama dalam novel Matahari Jakarta), SM Ardhan (Terang Bulan Terang di Kali), atau Mahbub Djunaedi (terutama dalam novel Angin Musim, Cakar-cakar Irving (terjemahan) dan kumpulan kolom Dari Kolom ke Kolom). Cerpen-cerpen dalam kedua buku ini sangat realis, Pak Misbach menjadi dirinya sendiri--mungkin idenya berasal dari pengalaman beliau sendiri selama bergaul dengan para Seniman Senen selama ngekos di bilangan Galur. Sama seperti ketika saya memamah novel Matahari Jakarta, kedua buku ini memaksa saya untuk membayang-bayangkan situasi Pasar Senen pada era 50-an. Siapa sangka, saat itu Pasar Senen telah menunjukkan "kelasnya" sebagai tempat nongkrong para Seniman seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) saat ini.  Nama-nama seperti Soekarno M Noor, Delsy alias Dalasi Syamsuar, Dahlan Arpandi, Ajip Rosidi, dll muncul di sini dan meramaikan diskusi-diskusi nonformal di kedai tukang kue putu, teng bensin, sampai rumah makan "Merapi Ismail". Berbagai cerita mengalir enak dan ditulis dengan gaya humor hitam yang segar tapi nylekit. Setiap kali saya melewati Pasar Senen, saya terus mencoba membayangkan Pasar Senen pada zaman Pak Misbach dan para seniman Senen nongkrong di tempat-tempat tersebut di atas. Tapi, saya belum berhasil menemukan jejak-jejaknya.

muhammad yulius

/muhammadyulius

MUHAMMAD YULIUS menekuni dunia jurnalistik sejak 1992 sebagai penulis freelance pada beberapa media Islam. Pada tahun 1998 ia bergabung bersama Majalah Annida sebagai Redaktur, lalu Redaktur Pelaksana, dan terakhir Pemimpin Redaksi. Lulusan jurusan broadcasting Universitas Mercubuana dan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) ini juga merambah dunia sinetron dan film sebagai penulis skenario dan produser. Beberapa karya yang telah ditulisnya adalah Antologi Puisi Indonesia (KSI dan Penerbit Angkasa, 1997), Graffiti Imagi (Yayasan Multimedia Sastra, 2001), Sajadah Kata (Syaamil, 2001), Salju di Mata Ibu, antologi cerpen Pusat Bahasa (Yayasan Obor Indonesia, 2001), Yang Dibalut Lumut, antologi cerpen Depdiknas-CWI (CWI, 2002), Dian Sastro for Presiden, antologi puisi Akademi Kebudayaan Yogya (Insist Press, 2005), serial Triple-E (lima jilid, Syaamil Cipta Media, 2005), dan Lelaki di Menit Terakhir (novel bersama Meutia Geumala, Syaamil Cipta Media, 2005), Cermin Ramadhan Lativi (MCU 2002), Astagfirullah (Sinemart, SCTV 2005), Jalan Takwa (Sinemart, SCTV2005), dan Maha Kasih (Sinemart, RCTI 2006), dan menjadi script writer untuk produk PSA Bank Mandiri (Digiseni Production 2006) dan BPR Bank Indonesia (Yayasan SET, 2007), sebagai produser eksekutif dan penulis skenario di film Sang Murabbi) dan film pendek—sebagai sutradara film pendek Kado Merah untuk DPR (2004), Nyanyi Sunyi Manusia Gerobak (2006), dan Senja Kala SK Trimurti (2007). Ia juga terlibat dalam penggarapan video dalam peringatan Seratus Tahun Sjafruddin Prawiranegara sebagai reviewer dan penulis naskah. Selain itu, ayah dari Albarra Ahmad Nuwrana ini aktif memberi ceramah, training, dan seminar masalah kesenian dan kebudayaan. Kini, Yulius aktif dalam pengembangan Inframe Studio, sebuah lembaga training akting, penyutradaraan, jurnalistik tv, dan sastra populer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?