PILIHAN HEADLINE

Manakala Sebutir Kopi Menebar Rupiah

18 Juni 2017 20:01:38 Diperbarui: 19 Juni 2017 03:26:02 Dibaca : 410 Komentar : 1 Nilai : 5 Durasi Baca :
Manakala Sebutir Kopi Menebar Rupiah
Menjelang masa panen kopi tiba (Foto: dokpri)

Beberapa hari lalu, handphone saya berdering. Dering itu khusus untuk pesan masuk di messenger. Benar, seorang teman Facebook yang saya kenal sebagai penyuka kopi mengirim pesan pendek.

"Pak, berapa harga 1 kilogram green bean kopi arabika gayo?" tanya teman itu.

"Green bean yang masih asalan, belum disortir, hanya Rp 60 ribu per kg," balas saya.

"Mahal ya! Yang harga Rp 30 ribu per kg, ada nggak ya?" tanya lelaki itu.

"Maaf, belum ada," jawab saya pendek. Setelah itu tidak ada komunikasi lanjutan terkait harga kopi dengan lelaki itu.

Ini video "Duta" Kopi Gayo di Malaysia:

Sebenarnya ada kopi sisa sortiran (pesel, istilah di Takengon) yang harganya Rp 18 ribu per kg. Meski sisa sortiran, masih tergolong kopi juga. Hanya saja, biji kopi ini ada yang pecah dan busuk sebelah. Kalau digongseng, rasa kopinya tetap masih terasa. Beberapa perusahaan kopi malah sering memesan kopi sisa sortiran itu melalui pedagang kopi di sana. Namun, saya belum tega menawarkan kopi pesel itu kepada teman sendiri.

Lama saya tercenung, kenapa harga sekilo green bean kopi arabika gayo sebesar Rp 60 ribu, masih ada yang menganggap mahal? Padahal, menikmati secangkir espresso (intisari kopi) di cafe internasional SB, orang harus merogoh kocek sebesar Rp 25 ribu.

Tahukah pembaca, untuk membuat secangkir espresso hanya dibutuhkan 20 gram roasted coffee. Artinya, apabila di-roasting 1 kg green bean (hasilnya menjadi 800 gram, karena penyusutan 20%) dapat dibuat 40 cangkir espresso. Kalikan saja 40 cangkir dengan Rp 25 ribu, maka diperoleh angka Rp 1 juta. Nilai tambahnya dahsyat.

Ini video kisah perjalanan sebutir kopi:

Dibandingkan nilai tambah yang diperoleh petani, sungguh sangat jauh. Lebih-lebih petani yang menjual biji kopi gelondong merah atau gabah basah. Setiap 1 kaleng gelondong merah (20 liter) dibeli pedagang pengumpul Rp 100 ribu. Dari 1 kaleng gelondong merah bisa menghasilkan 2,4 kg green bean.

Faktanya sampai hari ini, masih jarang petani yang menjual biji kopi green bean. Selain karena alasan butuh uang cepat, mereka terkesan tidak mau repot dengan pengolahan pascapanen. Selain waktunya panjang, juga memerlukan tenaga kerja tambahan.

Apalagi jika para petani mengupahkan semua proses budi daya kopi di ladangnya, cukup besar pengeluaran yang menguras hasil panen mereka. Mengacu kepada standar ongkos buruh tani di Dataran Tinggi Gayo, berikut ini kalkulasi biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk setiap hektar.

  • Ongkos membabat lahan per hektar/tahun Rp 1.120.000,00 x 4 kali = Rp  4.480.000,00
  • Ongkos gali lubang tanam kopi per hektar 1.300 x Rp 3.000,00 = Rp  3.900.000,00
  • Harga bibit siap tanam 1.300 polybag x Rp 3.500,00 = Rp  4.550.000,00
  • Ongkos tanam bibit kopi 1.300 lubang x Rp 1.000,00 = Rp  1.300.000,00
  • Ongkos pangkas dan pemupukan 1.300 batang x Rp 5.000,00 x 2 tahun = Rp 13.000.000,00
  • Ongkos petik hasil per tahun 833 kaleng x Rp 20.000,00 = Rp 16.660.000,00
  • Total biaya operasional petani kopi = Rp43.890.000,00

Setelah dua tahun menanam kopi di atas lahan 1 hektar, tibalah masa panen. Diperkirakan, seorang petani akan memperoleh hasil sebanyak 833 kaleng biji kopi gelondong merah per tahunnya. Dengan catatan, hasil itu bisa dicapai apabila kontinyuitas perawatan kebun kopi berlangsung sesuai standar.

Biasanya hasil itu dijual langsung oleh petani kepada pedagang pengumpul. Dari penjualan tersebut, petani akan memperoleh hasil 833 kaleng x Rp 100 ribu = Rp 83.300.000,00. Dikurangi biaya operasional rutin sebesar Rp 43.890.000,00, maka petani akan memperoleh pendapatan bersih Rp 39.410.000,00. Jadi, penghasilan petani per bulan hanya sebesar Rp 39.410.000,00 dibagi 12 = Rp 3.284.166,00. Kecil ya?

Seandainya semua item pekerjaan di atas dikerjakan seluruhnya oleh petani, barulah mereka bisa mengantongi penuh Rp 83 juta per tahun. Namun, untuk mengerjakan item pekerjaan itu membutuhkan cukup banyak tenaga kerja, lebih-lebih saat memetik kopi. Makanya, para petani kopi "terpaksa" menggunakan tenaga buruh petik sebelum biji kopi di ladang mereka berguguran dari batangnya.

Ini video Horor di Ladang Kopi:

Itu perhitungan di tingkat petani. Terus, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh pedagang pengumpul? Mereka harus mengeluarkan ongkos pulper biji gelondong merah ke gabah basah Rp 1.000,00 per kaleng. Kemudian, mereka juga harus mengeluarkan biaya penjemuran gabah basah Rp 100,00 per kilogram per hari. Gabah basah baru kering sempurna apabila dijemur selama 4 hari.

Setelah gabah basah tadi cukup kering, mereka harus membawa gabah kering tadi ke Coffee Mill. Di sana, gabah kering itu digiling dengan mesin huller, dengan tarif setiap 100 kilogram dikenakan ongkos 2 kilogram.

Setelah gabah kering menjadi green bean, mereka harus menjemur kembali sampai kadar air minimal 12%. Di sini, mereka harus mengeluarkan ongkos penjemuran Rp 100,00 per kg/hari. Lalu, masuk ke tahap sortir, dengan ongkos Rp 300,00 per kilogram. Barulah green bean yang telah dipilah menjadi biji kopi grade 1, 2, 3 dan seterusnya, dapat dijual kepada eksportir.

Di tingkat eksportir, mereka juga harus mengeluarkan biaya lagi untuk ongkos penggonian, ongkos buruh panggul, dan ongkos angkut ke titik ekspor. Bisa dibayangkan, berapa banyak uang menetes sampai tahap ini. Masuk ke tahap roasting dan penyajian kopi di cafe atau kedai kopi, makin besar uang menetes di sana.

Pastinya, inilah perjalanan sebutir kopi dalam menebar rupiah di setiap tempat. Mulai sepetak ladang yang penuh "horor" sampai ke kedai kopi yang nyaman dalam suasana santai. Selamat menikmati citarasa dan aroma kopi. Doakan para petani tetap sehat wal afiat.


Syukri Muhammad Syukri

/muhammadsyukri

TERVERIFIKASI

Orang biasa yang ingin memberi hal bermanfaat kepada yang lain.... tinggal di kota kecil Takengon
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana