Ekonomi

Behind The Scene Dibalik Drama Pelepasan 51% Saham PT Freeport ke Indonesia

12 September 2017   20:33 Diperbarui: 13 September 2017   07:17 396 1 1
Behind The Scene Dibalik Drama Pelepasan 51% Saham PT Freeport ke Indonesia
093510200-1503986696-20170829-freeport-sepakat-jual-51-persen-saham-angga-9-59b7f854941c2013bc3528d2.jpg

Perpanjangan kontrak yang dilakukan Freeport kali ini seharusnya menyadarkan bangsa Indonesia. Kenapa Freeport mau tunduk di bawah persyaratan yang diminta pemerintah walaupun itu terbukti lebih berat dari persyaratan kontrak-kontrak yang telah diperpanjang Freeport sebelumnya. Freeport bisa saja mengangkut seluruh asetnya yang ada di Papua dan memPHK para pekerjanya. Tapi kenapa sebaliknya, Sudah menemukan alasannya?, jika belum mari kita ulas bersama-sama.

Negosiasi PT Freeport dan pemerintah Indonesia dimulai ketika ada peraturan baru yang mengharuskan Freeport harus berpindah bentuk kontrak dari kontrak karya (KK) menjadi ijin usaha pertambangan khusus (IUPK). Perdebatan pun dimulai, Freeport tidak setuju dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang dinilai memberatkan perusahaannya itu.

Setelah negosiasi panjang, dalam acara "press conference" 29 agustus 2017 di kementrian ESDM.

PT Freeport akhirnya mengumumkan menyetujui pelepasan 51% sahamnya ke Indonesia, dengan kata lain Freeport akan diambil alih pemerintah Indonesia.

sesuai ketentuan IUPK Freeport juga akan membangun smelternya di Indonesia. Atas dasar transparansi, dulu sebelum IUPK hasil mineral yang didapat Freeport tidak jelas jumlahnya, karena di murnikan di luar negeri. Sekarang hasil mineral yang dikeruk Freeport akan terdata secara jelas untuk dilaporkan ke Indonesia baik itu emas, nikel, alumunium, timah, tembaga dan sebagainya.

Tak hanya itu sistem IUPK juga mengharuskan Freeport membayar lebih banyak pajak. Sepeti PPH, PPN, dan PBB harus disisihkan oleh Freeport untuk dibayarkan ke pemerintah Indonesia. Durasi kontrak juga menjadi lebih pendek dibandingkan kontrak sebelumnya.

Jika Freeport dapat memperpanjang kontrak selama 50 tahun dalam kontrak karya (KK), maka di dalam sistem IUPK, Freeport hanya dapat memperpanjang kontraknya selama 10 tahun saja.

Itu sedikit ulasan terkait negosiasi yang disetujui Freeport dengan Indonesia, selanjutnya mari kita lihat perjalanan Freeport dari kontrak karya (KK) hingga menyetujui IUPK.

PT Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1973. Perusahaan tambang raksasa asal Amerika tersebut dipimpin oleh pengusaha tambang kelas dunia, McMoran Ricahard Adkerson.

Sejak pertama kali beroperasi di tahun 1973 PT.Freeport telah memperpanjang kontrak pertambangannya dua kali kepada pemerintah Indonesia. Saat itu kontrak masih berbentuk kontrak karya (KK), sebuah kontrak yang memungkinkan PT.Freeport untuk memperpanjang kontraknya hingga durasi waktu 50 tahun.

Mengulik sedikit sejarah singkat kontrak karya PT Freeport di Indonesia.

Dimulai saat seorang geolog Belanda Jacques Dozy dalam ekspedisi di Belanda New Guinea untuk mengeksplorasi dan mendaki Gunung Carstensz, gunung tertinggi di pulau New Guinea., Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal Tambang Grasberg. Catatan Jacques Dozy adalah alasan Forbes Wilson dapat menemukan kembali Ersberg 20 tahun lamanya setelah perang dunia ke-2.

Forbes Wilson sendiri telah bekerja pada Freeport sebagai ahli geologi perusahaan tambang raksasa tersebut. Wilson memulai perjalanannya menelusuri pegunungan Carstensz sekitar 20 tahun setelah Dozy yaitu sekitar tahun 1939.

Ekpedisi yang dipimpin Wilson dan rekannya Delt Flint selama 20 tahun akhirnya tak sia-sia dan membuahkan hasil pada tahun 1960. Mereka berhasil menemukan kembali "Ertsberg" yang sempat terabaikan pada perang dunia ke-II.

Ditahun yang sama 1960 terjadilah kontrak pertama PT Freeport yaitu kontrak karya I (KK-1) hingga tahun 1988 akhirnya Freeport menemukan cadangan Grasberg. Atas dasar pertimbangan resiko dan investasi yang tinggi setelah menemukan cadangan Grasberg, Freeport merasa harus ada jaminan investasi jangka panjang yang melahirkan kontrak karya-II (KK-2) di tahun 1991.

Setiap kontrak memiliki durasi 30 tahun, KK-1 yang telah berakhir di tahun 1990 dan telah di perpanjang di KK-2 yaitu di tahun 1991 yang masa kontraknya akan berakhir di tahun 2021.

Melihat track record perjalanan kontrak PT Freeport dengan pemerintah Indonesia. Kontrak karya (KK) bisa dibilang kontrak yang paling "Texas" dalam artian yang paling bebas dan fleksibel. Selama dua kali perpanjangan kontrak yang dilakukan, Freeport tidak pernah jujur melaporkan hasil mineral yang didapatkannya ke pemerintah Indonesia.

Bayangkan cadangan mineral yang ada di Timika Papua di tahun 1991 diprediksi sekitar 3,9 milyar ton. Hampir 26 tahun tambang Grestberg telah beroperasi dan telah melaporkan hasil tambang yang di dapat sebanyak 1,7 milyar ton emas dan tembaga ke Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2041 cadangan mineral yang ada di Timika akan tersisa sekitar 2,1 milyar ton saja sampai kontrak yang disambung Freeport selesai.

1,7 milyar ton emas dan tembaga, Freeport telah beroperasi 50 tahun lebih di Timika Papua mungkin mineral yang telah mereka keruk bisa lebih besar daripada jumlah yang di laporkan ke Indonesia, bisa saja kan!.

Bicara keuntungan, jangan ditanyakan lagi berapa keuntungan yang didapat Perusahaan tambang rakasasa tersebut. seorang komedian ulung asal papua, Mamat mengatakan dalam shownya, "jika keuntungan freeport dibelikan ke "papeda" maka seluruh rakyat Indonesia sudah lengket karena dibanjiri "papeda".

Kenyataannya! Lebih 50 tahun sudah Freeport beroperasi di Timika Papua, tidak ada perubahan dignifikan yang dirasakan rakyat papua. Kesenjangan sosial masih melekat kuat pada rakyatnya, padahal sudah sepantasnya Papua mendapat kesejahteraan dengan keberadaan PT Freeport disana.

Apalah daya! janji hanya tinggal janji, para "predecessor" pak Jokowi pun tak peduli. Apa yang terjadi? Freeport semakin menjadi-jadi sampai akhirnya pak Jokowi datang membawa "policy" sekarang Freeport makan hati.

Sudah terbayangkah apa alasan Freeport menyetujui permintaan pemerintah kita?

Ya, aset di Timika terlalu mahal untuk dilepaskan bahkan lebih mahal dari emas yang ada di Timika itu sendiri. McMoran takut untuk melepaskan aset yang ada di Timika, cadangan emas yang ada disana adalah yang terbesar di dunia, McMoran tak akan menemukan gunung sama kayanya, yang mengandung cadangan mineral seperti di Timika.

So! Rakyat Indonesia, sudah saatnya kita mengambil alih dan menikmati kekayaan alam kita ini. Kan lumayan buat nyicil utang kita ke negara lain daripada harus ngutang lagi buat jalan trans Papua.