Cerita 18 Jam di Cikeas dan Penunjukan Agus Yudhoyono

23 September 2016 23:15:38 Diperbarui: 23 September 2016 23:57:44 Dibaca : Komentar : Nilai :

Kamis, 22 September 2016

Sekira jam 11 kemarin, saya sampai di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Jujur saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke situ.

Cikeas sempat booming. Lantaran ini adalah kediaman pribadi Presiden RI keenam SBY.

Kediamannya luas. Asri. Dipenuhi pepohonan yang rindang. Terdapat pula pendopo di mana SBY saat aktif sebagai Presiden menyampaikan kebijakannya di depan publik.

Saya ke sana untuk mendengarkan pengumuman pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan diusung PPP, Demokrat, PKB, dan PAN.

Agenda yang saya terima, pukul 12.00 WIB. Namun agenda dijadwalkan molor satu jam kemudian.

Tapi, tak kunjung dilaksanakan. Para ketua umum dan petinggi parpol tiba bergantian.

Mereka mengaku masih melanjutkan rapat yang semalam belum selesai.

Hingga sekira pukul 17.40 WIB, para ketua umum parpol keluar dan memberikan pernyataan pers bahwa rapat belum selesai.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan saat itu yang mengatakan, hasilnya akan ada dan diumumkan pada pukul 23.00 WIB. Mereka beralasan masih akan masih membujuk Gerindra dan PKS untuk bergabung.

Tentu, saya termasuk orang yang kecewa. Lantaran harus menunggu lagi lebih lama. Dan itu belum tentu pasti diumumkan pada waktu yang dijanjikan.

Saya dan teman berusaha mencari cara agar bisa menghabiskan waktu kurang lebih lima jam ke depan. Hingga pada akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.

Lagi-lagi kembali ditunda. Tidak ada kepastian lagi pukul berapa akan diumumkan. Jangankan kami para pencari berita, para pengurus partai saja seperti tidak sabar menunggu.

#Cerita di Balik Nama Agus Yudhoyono

Pribadi, saya tidak percaya Agus akan dicalonkan. Pertama lantaran karirnya di militer tengah bagus-bagusnya. Kedua, tidak memiliki karir di bidang politik.

Dari siang, kami sudah mencoba mengonfirmasi kepada sejumlah petinggi. Seperti Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

"Pertanyaanmu itu lho. Belum tahu," ujar Zul yang juga ketua MPR ini.

"Ah, ini buzzer-nya si Agus ini," ujar salah seorang teman kepada penanya. Bercanda.

Saya juga tanya ke salah seorang teman. Sambil duduk di emperan depan pagar rumah sang Presiden. Dia juga tidak yakin Agus masuk radar pencalonan.

Karena saya tidak yakin, saya tidak banyak mengorek. Saya berpikir koalisi Cikeas ini mengusung Yusril Ihza Mahendra atau Anies Baswedan.

Ketika maghrib, saya berpapasan dengan Roy Suryo. "Mas, siapa nih kira-kira yang ditunjuk?," tanya saya.

"Ada deh," ujar dia.

"Udah deh. Off the record saja," ucapku mendesak.

Satu per satu nama kembali saya sebutkan. Ada yang langsung dibantah dan ada yang dibiarkan mengambang. Tidak dibenarkan dan juga tidak dibantah. Yaitu, ketika saya menyebutkan nama Agus Yudhoyono.

Saat itu pun saya juga tidak ngeh. Karena saya memang tidak yakin. "Sayang gitu lho. Karirnya di militer cemerlang dan lagi pula kalau kalah, ya pasti enggak bisa balik lagi militer," ujar saya dalam hati.

Tapi tiba-tiba saya menjadi yakin, ketika nama Agus kembali kuat berembus. Sekitar pukul 21.49 WIB, saya mendapatkan kabar dari teman bahwa koalisi Cikeas ini akan memilih Agus Yudhoyono berduet dengan Sylviana Murni.

"Agus-Silvy. Lu ketik saja dulu. Ntar tinggal kirim. Hahahaha," kata dia.

Teman saya yang lain juga bilang begitu. Agus-Silvy. Kami cobalah mendekati siapa saja pengurus yang ada di sekitar pendopo.

Salah satunya Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. Kami konfirmasi apakah benar Agus-Silvy. Dia tidak membenarkan juga tidak membantah.

"Tunggu saja. Setengah. Setengah empat," kata dia berulang.

Puncaknya ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.20 WIB, Jumat dini hari, 23 September. Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan membenarkan bahwa komunikasi politik dengan Gerindra dan PKS buntu permanen.

Sehingga koalisi Cikeas ini sepakat mengusung pasangan calon sendiri. Info off the record, Syarief membenarkan bahwa Agus dan Sylviana yang akan diusung. Off the record alias tidak boleh diberitakan.

Di saat yang bersamaan, kami mendengar bahwa Agus baru saja landing dari Australia dan sekira pukul 02.13 WIB, Sylviana tiba-tiba merapat ke Cikeas.

Sylviana tidak banyak komentar. Dia hanya melontarkan senyuman dan kami sempat menggoda.

"Bu, pagi-pagi kok masih cantik," ujar kami.

Dia sempat menoleh ke arah kami dan kembali tersenyum, sebelum dia beranjak bertemu SBY dan pimpinan parpol lainnya.

Tepat pada pukul 02.44 WIB, akhirnya pasangan Agus dan Sylviana resmi diumumkan. Kami langsung buru-buru mengabarkan ke publik dan sekira pukul 05.00 WIB, kami selesai bertugas.

#Pidato Perdana Agus

Sekembalinya dari mendaftar di KPU DKI Jakarta, Agus dan Sylviana kembali menuju Wisma Proklamasi. Agus berpidato.

Menurut saya, pidatonya memukau. Menjawab pertanyaan dan spekulasi yang berkembang di tengah publik.

Agus menyadari banyak yang menyayangkan keputusan mengubur karir militernya secara mendadak. Padahal karir Agus tengah cemerlang.

Agus menegaskan, dirinya baru berpikir menjadi cagub, setidaknya empat hari terakhir. Tanpa paksaan dan penuh kesadaran, Agus berani mengambil risiko.

Jika kalah bertarung di Pilgub, Agus dipastikan tak akan bisa kembali lagi ke ranah militer. Karena aturan perundang-undangan yang mewajibkan hal tersebut.

Agus mengaku, risiko ini perlu ia ambil lantaran ingin mengabdi jika masyarakat Ibu Kota membutuhkan 'setuhan' dirinya. Agus meninggalkan ego dan kepastian karir yang sejatinya ia sudah miliki.

Pidato Agus sangat menyentuh. Setidaknya saya pribadi menganggapnya demikian. Pidatonya sangat fenomenal meski beberapa kali sempat terisak.

Bisa saja, dari pidato itu popularitas, elektabilitas Agus bisa meningkat dan akhirnya menang, jika terus dikelola dengan baik tanpa dibuat-buat.

#balada
#Jumat, 23 September2016

#opini

#imidiot

R Aulia

/mraulia

TERVERIFIKASI

Menjadi Lentera bukan Angin yang selalu meredupkan upaya penerangan anak-anak bangsa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article