PILIHAN

Setiap Manusia Perlu Peranan

10 April 2017 21:28:37 Diperbarui: 13 April 2017 11:30:38 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Setiap Manusia Perlu Peranan
Rob Gonsalves

Gambar di atas adalah sebuah lukisan karya Rob Gonsalves, seorang pelukis Kanada yang beraliran magical realism. Gaya lukisan yang sedang penulis gemari akhir-akhir ini. Penulis bukan seorang seniman, tidak patut pula mengaku seorang pengamat seni, melainkan hanya sebatas penikmat karya seni. Ilusi-ilusi yang dihadirkan oleh gaya lukisan magical realism kerap memaksa setiap orang yang melihatnya untuk berpikir lebih dalam akan pesan apa yang ingin disampaikan oleh si pelukis. "Mind blowing" kalau istilah populer di kalangan anak muda. 

Tulisan ini adalah tulisan pertama penulis di Kompasiana. Begitu banyak pemikiran-pemikiran random dalam pikiran penulis menegenai berbagai hal terkait manusia dan alam sekitarnya. Banyak orang bijak mengatakan bahwa dengan menulis maka keabadian dapat digenggam. Satu yang penulis ingat adalah pesan mendiang Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. 

Munafik bila penulis tidak mengaku bahwa merupakan ambisi pribadi untuk mendapat secuil tempat dalam ruang sempit sejarah. Untuk mendapat tempat itu maka setiap orang perlu mendapat peranan. Tanpa ambisi dikenang sejarahpun, memiliki peranan adalah suatu keharusan demi menjalani hari-hari dengan penuh martabat sebagai manusia seutuhnya. Sebab setiap kita bukanlah hewan yang hanya hidup untuk makan -  tidur - bekembang biak - mati.

Pendidikan: wadah pencetak peranan

Upaya meraih dan mendalami pengetahuan memang tidak hanya didapat di bangku sekolah. Namun, kita hidup di mana segala lini kehidupan sudah menjadi bagian dalam sistem yang tersusun rapih, tidak terkecuali sistem pendidikan, terlepas dari seberapa efektif sistem tersebut berjalan. Kita tidak lagi hidup di zaman di mana apabila hendak menguasai ilmu bela diri maka perlu belajar dari seorang pendekar selama bertahun-tahun tanpa ijasah dan kepastian akan kemana setelah "lulus" dari perguruan pendekar tersebut.

 Ketika kita masuk Sekolah Dasar sesungguhnya itu merupakan titik penentu masa depan kita yang paling dasar. Setiap anak SD adalah bagian dari mereka yang dilabeli 'anak sekolahan'. Setamat dari SD, enam tahun selanjutnya adalah proses pengembangan yang semakin mengerucutkan kemungkinan-kemungkinan peranan yang kita dapat dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Setamat dari SMA, pengerucutan semakin menjadi-jadi ketika kita telah memilih program studi. Bila melihat by design mahasiswa kedokteran tidak mungkin menjadi pilot, begitupun setiap taruna sekolah penerbangan tidak mungkin menjadi dokter bila merujuk by design dari latar belakang pendidikannya. Bersyukurlah kita yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. 

Pada masa kolonial untuk dapat bersekolah di HBS (hogere burger school, kurang-lebih setara dengan gabungan SMP dan SMA) saja, hanya mereka yang keturunan eropa dan anak priyayi yang dibolehkan mengenyam pendidikan. Sebab lulusan HBS dipastikan dapat menduduki jabatan tingkat managerial dalam pemerintahan kolonial ataupun sektor swasta seperti pabrik-pabrik. Pada masa kini, meski segala sesuatunya semakin tidak pasti namun bekal ilmu dan pengetahuan yang didapat selama mengenyam pendidikan tinggi sejatinya menyiapkan setiap penstudi untuk memiliki peranan nyata dalam kehidupan sosial di antara masyarakat. 

Suatu program studi menyiapkan penstudinya menjadi seorang ahli kesehatan, program lain menyiapkan penstudinya menjadi seorang ekonom, sedangkan yang lainnya menyiapkan penstudinya menjadi seorang astronom, dan lain sebagainya. Tidak ada peranan yang tidak berarti, yang ada hanyalah peranan yang memberikan manfaat bagi manusia lain dan peranan yang merugikan manusia lain.  Pendidikan menuntut setiap kita untuk berpikir sebelum bertindak, pelajar yang baik akan umum bertemu dengan apa yang benar dan apa yang salah sehingga mereka yang berpendidikan sejatinya mampu memilah mana benar dan mana salah dalam segala konteks. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi pendefinisan benar-salah itu sendiri akan dapat diurai.

Mahasiswa: status agung yang nanggung  

Bila kita memerhatikan dinamika kampus terutama yang berstatus universitas, dapat dilihat bentuk 'negara mini' yang di dalamnya terdapat simulasi dinamika kehidupan nyata. Sebut saja model pemilihan umum, model kaderisasi politik hingga model pemerintahan. Dengan semangat muda yang menggebu diiringi dengan pengoptimalan kemampuan berpikir, setiap mahasiswa mampu menjadi apapun yang ia inginkan. Kampus yang mapan akan mampu memfasilitasi mahasiswanya dalam pengembangan minat dan bakat dengan baik. 

Meski sebatas dalam lingkungan kampus dan tidak mendapat legitimasi nyata dari masyarakat umum namun, terlepas dari program studinya, sebagian mahasiswa dapat menjadi "pejabat", sebagian dapat menjadi "atlet", sebagian dapat menjadi "ulama", sebagian dapat menjadi "ilmuwan", bahkan sebagian dapat menjadi "filsuf", dan lain sebagainya. Padahal tidak ada kepastian apakah setelah menamatkan pendidikan kemudian akan benar-benar menjadi pejabat seutuhnya, menjadi atlet seutuhnya, menadi ilmuwan seutuhnya, dan lain sebagainya. 

Terlepas dari itu semua, sejatinya mahasiswa adalah mereka yang mendapat label kaum cendikiawan. Apapun program studinya, mahasiswa akan selalu berkutat dengan nilai-nilai (values) maka bergelut dengan 'benar' dan 'salah' bukan lagi makanan sehari-hari, melainkan jalan hidup. Oleh karenanya sepatutnya setiap mahasiswa selalu bersikap arif dan bijaksana, paling tidak kehadirannya tidak merugikan orang lain. 

Memang mahasiswa yang ideal adalah yang mampu memanfaatkan kemampuan analisisnya dalam memahami fenomena nyata sekalipun tidak berkaitan dengan program studi, namun sekali lagi penulis katakan bahwa secara by design setiap program studi yang dipilih bertujuan untuk menempa penstudinya agar memahami dan menguasai bidang tersebut sehingga harapannya ketika kembali ke masyarakat sebagai manusia baru kelak, mahasiswa mendapat peranan baru pula yang mampu meberikan kontribusi nyata bagi orang lain

Persoalannya?

Dengan hidup di dunia yang semakin pragmatis, di mana segala sesuatu dilihat dari nilai guna dan kemanfaatannya, setiap manusia akan semakin dihargai apabila kehadirannya memberikan banyak pengaruh bagi manusia lain di sekitarnya. Pendidikan tinggi diperlukan untuk memberikan "ke-khas-an" bagi diri sendiri dibandingkan manusia-manusia lain yang diharapkan dapat menebar manfaat pada lingkungan sekitar. Masalah yang hadir adalah bahwa peranan-kelak yang diharapkan selama mengenyam pendidikan tidak selalu dapat diraih ketika akhirnya benar-benar terjun membaur dalam masyarakat. 

Setidak-tidaknya apabila kita benar-benar memanfaatkan proses pengembangan berpikir sejak kita masuk SD hingga mengenyam pendidikan tinggi, maka kita akan mampu melihat segala sesuatunya dengan lebih "dalam" dan lebih jelas. Kenikmatan berpikir kritis adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Satu dari sedikit bentuk visualisasi dari kenikmatan berpikir dapat penulis lihat dalam lukisan-lukisan magical realism sebagaimana penulis sebutkan di awal tulisan. 

Dengan berpikir kritis maka segala hal dalam kehidupan dapat diresapi dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang matang, termasuk upaya mencapai "peranan" yang kita harapkan. Sebagai manusia bermartabat yang percaya akan kekuatan besar yang melampaui kita semua, adalah hal yang bijak untuk saling membantu, paling tidak mendoakan, agar setiap harapan dan keinginan kita dapat terwujud sehingga tidak hanya terjebak dalam angan. Semoga..

Rizki Luthfiah Aziz

/mohammadrizkiluthfiahaziz

Seorang kelana pemula yang berusaha menjadi pelaut ulung dalam mengarungi samudra kehidupan dan menyelami misteri alam.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana