PILIHAN HEADLINE

Polemik Salah Pilih Jurusan Mahasiswa Asal Bonerate

16 Maret 2017 14:38:55 Diperbarui: 17 Maret 2017 14:51:41 Dibaca : 263 Komentar : 1 Nilai : 5 Durasi Baca :
Polemik Salah Pilih Jurusan Mahasiswa Asal Bonerate
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Terhitung sejak tahun 2008, kesadaran masyarakat Bonerate untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi sudah terbilang baik. Saya mencatat beberapa jurusan favorit pada masa itu adalah rumpun ilmu kesehatan (kebidanan, keperawatan, kesmas, kesling dll.). 

Pilihan ini bukan tanpa sebab, tapi karena mereka sudah melihat beberapa seniornya yang lebih dulu langsung diangkat menjadi PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar. Hal itulah yang mendorong para orang tua dan adik-adik yang hendak melanjutkan studi masih menempatkan jurusan ini di urutan pertama, bahkan sampai saat ini.

Selain rumpun ilmu kesehatan, saya juga mencatat jurusan favorit lain pada masa itu adalah ilmu keguruan. Mereka seolah terpanggil untuk mengisi kekosongan posisi guru di kampung halaman. Mereka seolah melihat peluang besar untuk mengabdi di kampung tercintanya. Hampir setiap tahun ada saja orang Bonerate yang mengambil jurusan guru, bahkan sampai generasi sekarang jurusan ini masih sangat diminati oleh mereka yang hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Namun, setelah melihat koran Daulat rakyat Selayar Edisi Maret 2017, saya tersentak kaget melihat kabar bahwa SPMN 1 Pasimarannu kekurangan guru. Karena setahu saya, sekolah-sekolah di Bonerate sudah tidak bisa menampung banyaknya lulusan sarjana ilmu pendidikan asal Bonerate. Pihak sekolah sudah banyak melakukan penolakan kepada lulusan baru untuk mengabdikan diri. 

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Belum lagi baru-baru ini pihak pemda sampai melakukan seleksi terhadap tenaga kontrak daerah (termasuk guru) untuk ditempatkan di sekolah dalam menyikapi banyaknya sarjana yang ingin menjadi tenaga kontrak daerah.

Saya melihat hal yang ganjil, antara banyaknya sarjana ilmu pendidikan (guru) di Bonerate dan SMPN 1 Pasimarannu yang mengalami kekurangan guru. Tentu saja hal ini mengindikasikan bahwa ada persoalan adik-adik pada masa lalu dalam menentukan jurusan di ilmu pendidikan. 

Pertama, tidak ada komunikasi di antara adik-adik dalam memilih jurusan sehingga setelah selesai studi, mereka harus bersaing sesamanya, sementara kouta guru di Bonerate terbatas. 

Kedua, ikut-ikutan dalam memilih jurusan. Karena temannya mengambil jurusan misalnya Matematika, maka dia juga mengambil Matematika dan akhirnya kelebihan guru Matematika. 

Ketiga, menghindari jurusan tertentu karena merasa tidak mampu dan tidak tahu-menahu tentang jurusan tersebut. misalnya jurusan Pendidikan Kimia, Pendidikan Bahasa Jerman, Pendidikan Seni dll. 

Keempat, menganggap remeh jurusan tertentu, karena pemahaman awalnya ketika masih duduk dibangku SMA hanya jurusan Matematika, Biologi (misalnya) yang menarik dan identik dengan orang pintar. Kelima, asal kuliah dan asal memilih jurusan, padahal sebenarnya dia tidak tahu untuk apa dia kuliah dan setelah kuliah dia akan kerja di mana. Mari kita jawab sama-sama.

Bogor, 16 Maret 2017

 Salam sukses,

MA


@mochammadasrie

/mochammadasrie

TERVERIFIKASI

Graduate Student of Rural Sociology at Bogor Agricultural University
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana