Mike Reyssent
Mike Reyssent wiraswasta

Kejujuran Adalah Mata Uang Yang Berlaku di Seluruh Dunia Graceadeliciareys@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Siapa Pendukung Ahok dan Siapa Pendukung Anies

9 Maret 2017   07:45 Diperbarui: 9 Maret 2017   08:19 4188 57 84
Siapa Pendukung Ahok dan Siapa Pendukung Anies
https://metro.news.viva.co.id/news/read/890239-kpud-resmi-tetapkan-putaran-kedua-pilkada-dki-jakarta

Memasuki kampanye putaran kedua Pilkada DKI, walaupun sudah mulai menarik tapi masih belum bisa dibilang panas. Berbeda suasananya pada putaran pertama yang sudah langsung panas, begitu nama kandidat disorongkan oleh masing masing parpol pendukung. 

Kilas balik dulu ya...

Di awal kemunculannya, pasangan AHY-Sylvi langsung mendapat sambutan paling panas. Pada bulan pertama, AHY yang dianggap sebagai anak bawang justru eletabilitasnya melonjak tinggi melewati dua kandidat saingannya.

Tapi, sudah saya tulis sejak awal, AHY belum punya kemampuan untuk menjadi pemimpin kota sebesar DKI Jakarta, yang terdiri dari berbagai kalangan. Terbukti, begitu memasuki acara debat, elektabilitasnya berangsur angsur melorot.

Yang paling parah dan mematikan adalah "tusukan dari belakang" oleh kubu Anies-Uno sesaat jelang akhir kampanye.

Dengan mendatangi kelompok kelompok pendukung AHY, secara nyata sudah menggembosi kantung suara AHY. Manuver Anies-Uno ini tidak diperhitungkan oleh timses AHY-Sylvi. Terbukti, setelahnya perolehan suara Anies-Uno langsung melejit, mendekati perolehan suara Ahok-Djarot.

Sungguh disayangkan, AHY terpaksa harus menjadi yang paling awal terlempar dari kompetisi.

Sebenarnya, dengan menunjuk AHY sebagai penantang Ahok-Djarot -yang saat itu bisa dibilang sangat kuat-bisa dibilang sangat dipaksakan.

Kita semua sama tau, SBY adalah politikus yang sangat matang dalam berhitung dan ahli strategi. Jadi saya yakin SBY beserta parpol pendukungnya tahu bahwa pasangan AHY-Sylvi tidak mungkin bakal menang.

Namun ada hal lain yang diinginkan atau kepentingan yang lebih besar bagi Demokrat sehingga mau mengorbankan AHY yang masih menjadi seorang perwira aktif.

Mereka tau bahwa saat itu dukungan pada pasangan Ahok-Djarot masih labil. Terutama dengan berbagai kasus yang sengaja dilempar untuk menggerus dukungan pada Ahok.

Jadi, dengan kata lain -mereka mengorbankan AHY- hanya untuk memperoleh perpanjangan waktu sambil terus melempar isu yang memojokan Ahok.

Dari sudut sini kita melihat, AHY dikorbankan demi ambisi sekelompok petinggi parpol. Para petinggi parpol ingin membuat pilkada DKI menjadi 2 putaran. Karena jika hanya ada dua kandidat saja, bisa dipastikan pasangan Ahok-Djarot menang dengan mudah.

Ini salah satu strategi paling licik dalam berpolitik.

Mungkin saja mereka berpikir, toh kalau dihitung hitung, AHY mendapat keuntungan juga. Dari yang tadinya "bukan siapa siapa", sekarang sudah "menjadi orang". Namanya yang tadinya tidak dikenal, sekarang jadi terkenal seantero Indonesia. 

(Hmmmm...Sampai sebegitu mahalnya kah hanya untuk menjadi terkenal?.)

Yah sudahlah...

Kembali ke judul, "Siapa Pendukung Ahok, Siapa Pendukung Anies?

Mari kita perhatikan satu persatu ya...

-Artis

Kalau bicara dukungan dari kalangan artis kita sudah melihat, begitu banyak artis berbaju "kotak kotak" yang datang pada kampanye terakhir Ahok-Djarot, yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Terbalik dengan kubu Anies-Uno yang waktu itu masih sibuk menggerogoti kantung suara AHY-Sylvi. Sedangkan, dukungan dari artis bagi AHY-Sylvi juga tidak keliatan sama sekali.

Ingat, sangat jarang artis mengubah dukungan jika sudah memutuskan untuk mendukung paslon.

Jadi, untuk putaran kedua, bisa dipastikan artis yang mendukung masih tetap sama.

(Hanya mungkin saja, kali ini Uno yang suap suapan sama Raffi. Hahahaa...)

-Media

Media yang saya maksud disini adalah media mainstream bukan media abal abal...

Pada putaran pertama, saya melihat dukungan pada petahana tidak terlalu nyata. Itu bisa dimaklumi, karena kasus penistaan agama yang didakwakan kepada Ahok, sangat rentan bagi media jika terang terangan mendukung Ahok.

Hanya Metrotvnews (Ini karena Nasdem) dan satu media yang baru muncul (Sebut saja Seword*) yang selalu mendukung Ahok. Sedangkan Kompas dan Tempo masih terlihat abu abu.

*Salah satu sebab banyak pendukung Ahok -entah penulis maupun silent reader Kompasiana- yang lari ke Seword karena Seword secara terang terangan mendukung Ahok-Djarot. Jadi bukan melulu karena uang mereka ke Seword.

Detik, MNC Group, Merdeka dan Republika dari awal sudah keliatan tidak mendukung petahana. 

Yang paling jelas tentu MNC Group, yang mendukung Anies. Dan Detik agak condong ke AHY. Sedangkan yang keliatan netral adalah Liputan 6.

Setelah menjalani sidang demi sidang kasus penistaan agama, mulai terlihat ada pergeseran dukungan dari media. Kompas Group dan Tempo mulai agak miring ke Ahok-Djarot. Mungkin karena media ini, sudah mulai bisa menilai reaksi masyarakat, yang melihat adanya rekayasa pada kasus penistaan agama.

Reaksi masyakarat atau pelanggan setianya sangat penting bagi media untuk menentukan arah pemberitaannya.

Setelah pelaksanaan pilkada, dan keluar hasil Quick Count, yang menyatakan bahwa pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Uno lolos keputaran kedua, Kompas Group mulai menentukan arah dukungannya. Ikut bersamaTempo yang lebih dulu mengambil sikap (Sejak masa kampanye putaran pertama, Tempo sudah jelas berpihak ke Ahok-Djarot).

Tak mau kalah, Detik juga langsung mengambil sikap untuk ikut bersama sama MNC Group, Merdeka dan Republika mendukung Anies-Uno.

Ada hal yang menarik media ini, yaitu Viva atau Tvone yang keliatan malah "kebingungan", ga jelas arahnya. Beda dengan Liputan 6 yang dari dulu keliatan netral.

*Penilaian tentang media ini hanya penilaian sekilas alias ngasal doang, karena tanpa metode dan parameter apapun. Tidak harus percaya. Untuk jelasnya silahkan diperhatikan lagi berita beritanya.

-Parpol

Gugurnya AHY dalam kompetisi menyebabkan parpol pendukungnya (Demokrat, PPP, PAN, dan PKB) bisa mengalihkan dukungan ke pasangan lain. Tetapi menurut saya, dukungan parpol tidak lagi membawa pengaruh terlalu besar bagi perolehan suara, terutama pada Anies.

Saya setuju dengan pendapat Toto Sugiarto, yang mengatakan, sikap pemilih tidak dipengaruhi oleh dukungan partai politik.

"Kalau soal pemilih memilih atau tidak, itu masalah pemilih dengan aktor atau politisi yang dipilih dan tidak berhubungan langsung dengan dukungan dari partai politik. Di pilkada ini, pemilih melihat siapa yang lebih akan memperjuangkan nasib mereka daripada (dukungan) partai-partai ini akan ke mana," tandas dia. 

Namun, dukungan parpol berbasis agama bisa berpengaruh terhadap Ahok-Djarot. Sebagaimana kita tahu bahwa elektabilitas Ahok digerus karena isu agama.

Jadi sangat penting bagi Ahok-Djarot untuk meraih dukungan parpol berbasis agama.

-Terakhir adalah Pemilih...

Ini yang paling penting. 

Walaupun faktanya, ada faktor X yang juga bisa mempengaruhi hasil sebuah kompetisi, tapi secara teori, pemilih adalah faktor yang paling menentukan menang kalahnya. Makanya semua kandidat berupaya meraih simpati pemilih.  Oleh sebab itu, kita kesampingkan dulu faktor X tersebut. 

Mari kita bahas sampai pemilih saja.

Pada putaran pertama,  pasangan Ahok-Djarot memperoleh 2.364.577 suara atau 42,99 persen dan pasangan Anies-Sandiaga memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen.

Kita mulai pasangan Anies-Uno...

Perlu digaris bawahi, perolehan dukungan pada Anies-Uno terus menanjak sejak diproklamirkan. Semua itu tak lepas dari cara kerja tim suksesnya yang berhasil menggembosi kantung suara AHY-Sylvi. Cara seperti itu sah dan sangat hebat... Salut...!!!

Saya perkirakan dukungan kepada Anies masih bisa bertambah, kalau Anies-Uno masih tetap menerapkan strategi yang lalu dan tidak lagi membuat janji atau membuat statement yang aneh aneh...

Ada satu hal yang saya sayangkan dari Anies-Uno, yaitu tentang janjinya yang akan memberi uang pada RT/RW seperti yang dikampanyekan AHY.

Program yang dulu pernah jadi bahan ejekan Anies, justru sekarang malah ingin dipakai...


https://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/20/15004841/anies.bagi-bagi.uang.senangnya.sekarang.saja.nantinya.
https://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/20/15004841/anies.bagi-bagi.uang.senangnya.sekarang.saja.nantinya.

Miris saya melihat caranya seperti itu. Baru lewat beberapa saat, Anies sudah langsung berubah. Apa Anies lupa pernah membuat statement itu? Lalu, bagaimana nanti? Apalagi yang bakalan lupa?

Hmmm...

Apakah karena Anies-Uno tidak punya program lain? 

(Silahkan saja cek, kita akan tau bahwa program yang dikampanyekan Anies-Uno ini, melulu mengadopsi dari paslon lain. Atau ada beberapa yang ternyata sudah dilaksanakan oleh Ahok-Djarot.)

Kalau memang punya program kerja yang lain, mengapa ingin mengadopsi program yang benar benar "membodohi" rakyat?  Apakah hanya karena ingin meraih simpati sajaBagaimana pertanggungan jawabnya nanti?

Hmmm...

Selanjutnya pasangan Ahok-Djarot...

Perolehan suara Ahok-Djarot terlihat stabil kalau tidak bisa dibilang stagnan. Yang artinya, pendukung Ahok dari waktu ke waktu tidak bertambah, malah bisa dikatakan berkurang.

Ini merupakan warning bagi timses Ahok-Djarot. Tim sukses dan relawan Ahok-Djarot harus bekerja lebih giat lagi untuk meraih simpati masyarakat.

Tentu pendukung Ahok masih ingat pesan Ahok

"Saya sih enggak ada strategi, teman-teman relawan, saya cuma minta, tolong jangan nyerang-nyerang calon yang lain. Untuk apa diserang?" kata Ahok di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2016).

Keliatannya, pesan itu sudah dilupakan para relawan. Karena masih banyak saya lihat relawan Ahok-Djarot yang membuat tulisan "provokasi" atau menyerang siapa saja.

Niatnya memang baik untuk memenangkan Ahok-Djarot. Tapi efeknya bisa beda...

Ingat ada silent majority! 

Kelompok ini hanya diam, menunggu dan melihat janji paslon realistis atau tidak. Mereka juga memperhatikan segala tingkah polah paslon dan pendukungnya, baru kemudian mengambil keputusan yang bisa menentukan.

Kelompok inilah yang mesti diraih suaranya selain suara Golput yang masih mungkin.

Karena Ahok-Djarot masih butuh banyak dukungan, masih butuh massa yang banyak untuk memenangkan pertarungan. Jadi, jangan lagi "mencari" musuh lain. Jangan melebar ke kelompok lain terutama hal yang menyinggung keyakinan seseorang.

Jangan sampai kelompok ini menjadi antipati terhadap Ahok-Djarot, hanya gara gara melihat "kelakuan" pendukung Ahok yang kurang baik, contohnya Iwan Bopeng (Bukan Ustadz Gasa ya... Wakakaka...).

Catatan: 

Untuk para pendukung Ahok-Djarot...

*Jika memang ingin mendukung Ahok, harus ingat pesan Ahok, "Jangan menyerang calon lain"

*Perolehan suara yang stagnan adalah contoh nyatanya...

Jika ingin memenangkan pasangan Ahok-Djarot pada Pilkada DKI, saatnya meraih simpati pemilih dari suara yang tersisa. 

Para relawan pendukung harus mau mengubah pola kampanyenya. Para pendukung di media sosial jangan lagi membuat onar.


***MOHON MAAF, YANG KOMEN SARA PASTI SAYA HAPUS !!!***


Salam Damai...