Mandi-Mandi Menjelang Ramadhan Meniru Tradisi Hindu

13 Juli 2012 06:35:20 Dibaca :
Mandi-Mandi Menjelang Ramadhan Meniru Tradisi Hindu
Tradisi mandi balimau menjelang Bulan Suci Ramadhan (Sumber: m.mediaindonesia.com)

Weda memberikan tuntunan kepada kita untuk selalu menjaga sumber air karena air merupakan kekayaan dan anugerah tuhan yang tak ternilai harganya.  fungsi air hampir semua mengetahuinya, namun tidak banyak yang mengetahu bahwa air berfungsi untuk penyembuhan dan penebusan dosa, seperti disabdakan didalam Rgveda “Agnim ca visvasambhuvam. Apas ca visvabhesajih” artinya : Api dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Air dapat menyembuhkan segala macam penyakit (Rgveda I.23.20) penyakit yang dimaksud termasuk didalamnya peleburan dosa..

Air adalah suatu zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi , air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Dalam pandangan Hindu tubuh manusia terdiri dari lima unsur (Panca Butha) , unsur air merupakan unsur yang paling dominan yang juga terdiri dari 71 % . menurut penelitian, manusia bisa bertahan hidup tanpa makan tetapi manusia tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama tanpa air. Tubuh manusia dengan alam semesta sesungguhnya sama , didalam ajaran Hindu alam semesta disebut Bhuana Agung dan tubuh manusia disebut bhuana alit. Air tidak hanya untuk diminum, sebagai pembersihan tetapi juga untuk penyucian , penyucian dari dosa – dosa. Dalam penyucian ini biasanya dilakukan mandi beramai-ramai di sungai, laut , danau dan sumber air yang sejenis. Tradisi beramai-ramai mandi di sungai, danau , laut dsb , ternyata tidak hanya dikenal oleh masyarakat Hindu tetapi juga dilaksanakan oleh non-Hindu dengan berbagai istilah.

Orang Jawa mengenal istilah padusan, orang Melayu mengenal istilah balimau. Tradisi ini adalah tradisi mandi beramai-ramai di sungai atau mata air menjelang orang melakukan puasa Ramadhan (Sastra Gending, 2012). Di jepang juga terdapat tradisi yang serupa yaitu tradisi mandi air es untuk penyucian diri. “di Makassar ada juga namanya mandi Safar yang dilakukan di bulan Safar, tetapi mandinya di kamar mandi masing-masing, seperti di sumur, di sungai atau di mana saja sesuai kebiasaan sehari-hari” (Nurhayati Rahman, 2012).

Masyarakat Bali mengenal istilah melukat dan Banyupinaruh , melukat biasanya dilakukan dengan memohon tirtha (air suci) di tempat –tempat suci untuk melebur dosa, hal ini dilakukan secara pribadi atau sendiri-sendiri, melukat juga bisa dilakukan di sumber-sumber air yang bertujuan untuk menyucikan diri. Sedangkan banyupinaruh dilakukan dengan mandi di laut , sungai, danau dll secara beramai-ramai pada hari setelah hari suci Saraswati. kata "Banyupinaruh" berasal dari kata "banyu" yang berarti air dan "pinaruh" atau "pengawruh" yang berarti ilmu pengetahuan yang sangat vital bagi kehidupan. Menurut pakar Hindu Prof. I Made Titib (2012: anataranews.com) banyupinaruh merupakan simbol persiapan untuk menerima ilmu pengetahuan.

Ritual penyucian diri di sungai, laut, sumber air , danau dan yang lainnya merupakan pengamalan ajaran veda. Di india orang Hindu mandi di sungai gangga. mandi di Sungai Gangga adalah suatu ritual yang sangat penting. Gangga adalah nama seorang Dewi dalam agama Hindu yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya. Ia juga merupakan Dewi sungai suci Sungai Gangga di India. Dewi Gangga sering dilukiskan sebagai wanita cantik yang mencurahkan air di dalam guci. Umat Hindu percaya bahwa jika mandi di sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dosa dan memudahkan seseorang untuk mendapat keselamatan. Banyak orang percaya bahwa hasil tersebut didapatkan dengan mandi di sungai Gangga sewaktu-waktu. Sumber hukum hindu kitab Parasara Dharmasastra mengajarkan bahwa dengan mandi di 11 titik sumber air, dosa seseorang dapat dihapuskan (dikurangi).

Menurut Prof. Sastra Gending (2012) tradisi mandi beramai-ramai yang dilakukan oleh masyarakat muslim menjelang ramadhan adalah meniru tradisi Hindu, jadi merupakan suatu bentuk sinkretisme (pencampuran dua agama). Dalam agama Hindu ada kepercayaan bahwa untuk meleburkan dosa, menghormati Dewi Gangga, dan menghomati Batara Surya, maka ada saat-saat tertentu untuk mandi di Sungai Gangga atau tempat lain yang dianggap setara dengan Sungai Gangga. Dalam literatur Islam ternyata tidak ada ajaran demikian. Tata cara mandi dalam ajaran Islam sudah jelas, yaitu di tempat tertutup, tidak boleh telanjang, tidak boleh sambil nyanyi-nyanyi, apalagi membaca kitab suci. Mandi yang baik dimulai dengan berwudhu, lalu menyiram seluruh badan secara merata. Orang tidak diwajibkan mandi ketika akan puasa Ramadhan.

Lama-lama akan diketahui, sebenarnya masyarakat Indonesia khususnya Jawa beragama  apa?

Tulisan Terkait : Ritual Nyadran Berasal Dari Tradisi Veda

I Ketut Mertamupu

/mertamupu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang mahasiswa hukum, agama dan budaya . Pengamat sosial yang berpikir blak-blakan . Tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Situs Resmi : www.hukumhindu.or.id . blog : www.mertamupu.blogspot.com , FB:facebook.com/mertamupu
Contact person: merta_mupu@yahoo.com , Phone Number +6281916665553 , +6281246085553 . Motto gue dalam menulis "free think about everything".

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?