PILIHAN HEADLINE

Memori Taman Hiburan yang Kini Kosong dan Terlupakan

18 Maret 2017 02:21:04 Diperbarui: 18 Maret 2017 17:54:20 Dibaca : 298 Komentar : 0 Nilai : 3 Durasi Baca :
Memori Taman Hiburan yang Kini Kosong dan Terlupakan
Komedi putar dan bianglala di taman hiburan di Nagoya yang tetap gemerlap walau tanpa pengunjung (Photo credit: mmutiara)

Pada awal tahun 90an, saat akhir pekan tiba, saat di rumah belum tersambung internet, tayangan TV belum banyak, belum ada tablet, dan juga smartphone yang bisa membuat orang betah di rumah, orang tua mungkin akan lebih banyak mengajak anak-anaknya beraktivitas di luar rumah, salah satunya ke taman hiburan. Taman hiburan itu selalu ditandai dengan keramaian, penuh dan antri. Semua wahana harus didahului dengan antrian mengular yang kerap menghabiskan waktu. 

Namun saya sangat antusias saat dulu diajak ke taman hiburan karena biasanya kami sekeluarga pergi hanya sekali dalam 3-6 bulan. Jadi tentu saja ini cukup dinanti-nanti. Bayangan keramaian, kelap-kelip lampu yang semarak, wahana yang lucu, seru dan menegangkan, meski sering saya hanya ingin melihat keseruan anak lain menaiki wahana-wahana yang saya takuti, menjadi gelora tersendiri. 

Yang paling saya suka adalah main bom-bom car, didampingi oleh kakak atau ayah saya. Saya yang pegang setirnya, bermanuver kiri dan kanan ala pengemudi mobil sungguhan. Meskipun sudah merasa hati-hati banyak juga yang iseng sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil saya. Boom! Ban karet yang melindungi mobil menggoyang mobil saya. 

Membuat mobil saya berhenti. Saya lihat pengemudi yang menabrak saya tertawa gembira. Saya pun tertawa menerima 'tantangan' nya. Dalam bermain bom-bom car, jika semua saling playing safe dan tidak ada tabrakan, mungkin tidak akan ada interaksi antar pengendaranya. Ngga seru. Di situ kita seringnya main tabrak-tabrakkan dan saling berusaha menghindar, meski tentu saja kita ngga saling kenal. Yang paling sedih adalah kalau mobilnya tiba-tiba berhenti meski pedal gas diinjak berkali-kali, tanda waktu mainnya sudah habis. Padahal untuk main sesebentar itu saya harus mengantri panjaang dan lamaaa. 

Selain bom-bom car saya juga suka naik bianglala. Bianglala itu terasa wajib dinaiki saat ke taman hiburan, karena kita bisa melihat pemandangan di taman hiburan dan sekitarnya pada sudut teratas. Biasanya setiap naik kita mendapat dua kali putaran. Meski seolah kita cuma duduk manis di kabin, naik bianglala itu juga seru-seru sedap...apalagi saat kita pada titik tertinggi. 

Ada rasa cemas dan takut, dipadu dengan excitement terhadap pemandangan kota yang gemerlap. Umumnya bianglala banyak dinaiki juga oleh para remaja yang sedang kasmaran dan memanfaatkan saat-saat dimana mereka mendapat ruang privasi untuk bercumbu. Waktu masih kecil, saya cuma bisa menutup mata. Au ah gelap.

Taman hiburan bagi orang tua tentu saja tidak semenggembirakan bagi anak-anak. Di sini mereka harus merogoh kocek untuk setiap wahana dan permainan yang anaknya inginkan. Banyak anak yang merengek dan minta ini itu, yang sering membuat orang tua 'kapok' mengajak anaknya pergi ke sana. Memang pergi ke taman hiburan itu tidak bisa sering-sering karena biayanya yang banyak, oleh karena itu orang tua saya hanya mengajak saya sesekali dan untungnya saya juga tidak 'beranian' menaiki semua wahana. 

Taman Hiburan Kini

Dua dekade berlalu. Di antara gemerlap lampu warna-warni yang ramai di setiap sudut suatu taman hiburan, saya ternyata sendiri, alias satu-satunya pengunjung. Iya sendiri! Semua imaji tentang taman hiburan, keramaian, antrian, teriakan keseruan dan canda tawa para pengunjung muda sirna, berganti dengan kesunyian, kekosongan dan keterlupaan. Ini bukan taman hiburan yang sudah lama tak beroperasi dan angker. Ini tentang sebuah taman hiburan kecil di pojok pelabuhan Nagoya yang masih terus berjuang menyalakan kelap-kelip kehidupannya. Terakhir saya ke tempat ini adalah tepat 10 tahun yang lalu dimana keceriaan-keceriaan masih jelas tergambar di memori. 

Saya berjalan memutari setiap wahananya, ada roller coaster anak-anak, ontang-anting, lompat pinguin, pesawat terbang, segala macam arcade, komedi putar, dan juga masih berdiri dengan gagahnya, sang bianglala dengan tinggi 85 meter. 

Saya kira, saya benar-benar sendirian, sampai saya perhatikan di tiap wahana ini berdiri di tiap posnya, pegawai taman hiburan dengan jaket seragam warna biru dan celana putih, stand by dengan setia walau tidak ada pengunjung lain selain saya! Mungkin mirip bilioner yang mempunyai taman hiburannya sendiri, saya berkeliling, dan melihat ontang anting yang tetap beroperasi dengan kursi-kursinya yang kosong, menunggu para pengunjung (yang dulunya) setia. Ada rasa sedih dan keterabaikan di sana. 

Namun inilah bisnis, yang selalu mengalami pasang surut, yang menuntut kreativitas, imajinasi dan inovasi agar selalu hidup tak lekang jaman. Jaman dimana semua hal nyaris bisa dikerjakan dan didapatkan di rumah, taman hiburan kini harus bersaing merebut perhatian mereka dari gadget dan internet. 

Taman Hiburan dan Mall

Memang jika diperhatikan orang tua masa kini lebih suka menghabiskan waktu di mall yang nyaman dan murah (alias ngga ada tiket masuk), sementara anak-anaknya yang sering bosan menunggu, disodori gadget dengan akses aplikasi mainan yang mereka sukai. Mereka 'dipaksa' untuk tenang dengan duduk diam dan jari memainkan tombol-tombol gadget meskipun mereka sedang dalam masa-masanya bergerak, berlari, berseru-seruan dan berinteraksi dengan teman sebayanya. 

Sementara di mall, banyak ibu-ibu muda yang sudah cukup terhibur meski hanya jalan-jalan, pegang-pegang, coba-coba baju tanpa harus setor uang ke kasir, alias window shopping

Etalase-etalase dengan baju-baju, dan tas kekinian, juga pernak-pernik lucu seolah menjadi obat tersendiri untuk kepenatan sebagai ibu rumah tangga ataupun ibu pekerja. Mereka melihat ini semua bak komedi putar dan bianglala bagi anak-anak. Mereka menemukan kebahagiaannya di mall, sementara kebahagiaan anak-anak mungkin bukan di sana, melainkan di taman bermain ataupun taman hiburan. Saat anak-anak sering merengek pulang saat orang tua mereka memilih mall, orang tua pun juga 'merengek' pulang saat anak-anaknya bermain di taman hiburan. Mungkin inilah yang terjadi. Fair?

Sepinya taman hiburan adalah sebuah fenomena bisnis sekaligus fenomena sosial. Ini tentang gaya hidup dan juga inovasi bisnis hiburan, dimana taman hiburan akan lebih banyak dikunjungi jika menawarkan pula 'hiburan' bagi orang tua. Mall masa kini sudah banyak menggabungkan one-stop entertainment dengan menggabungkan taman hiburan di dalamnya untuk semua generasi, agar anak-anak bisa tetap bermain saat ibu-ibunya ngemall. Mereka juga lebih gencar berpromosi dan berkolaborasi dengan melihat kebutuhan dan preferensi pengunjungnya.

Tentu saja ini tidak semudah kita menuliskannya di sini untuk taman hiburan yang sudah berdiri di sebuah area tanpa kemungkinan untuk berekspansi ataupun berkolaborasi. Mungkin juga mereka sudah berusaha melakukannya namun tak juga berhasil, seperti taman hiburan di pelabuhan Nagoya ini yang sebenarnya masih dalam kompleks Akuarium dan tempat nongkrong dengan pemandangan laut. 

Mungkin juga mereka sangat ramai pada waktu weekend. Yang jelas setiap harinya mereka tetap harus mengeluarkan biaya perawatan dan biaya operasional yang tinggi, untuk menyalakan semua lampu gemerlap yang menandakan bahwa mereka masih menanti untuk dikunjungi, juga untuk tetap memastikan semua wahana aman untuk dikendarai. Dengan tanpa pemasukkan yang berarti, seperti banyak taman hiburan lainnya, bukan tidak mungkin taman hiburan ini sudah tinggal menunggu mati.

Nagoya 18 Maret 2017

Mutiara Me

/medianmutiara

TERVERIFIKASI

Mahasiswa kehidupan yang sedang belajar menulis. interests: pendidikan, masyarakat dan wisata. *If you don't find anything pleasant, at least you find something new.*
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana