Mutiara Me
Mutiara Me Mahasiswa kehidupan

Mahasiswa kehidupan yang sedang belajar menulis. interests: pendidikan, masyarakat dan wisata. *If you don't find anything pleasant, at least you find something new.*

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Memaknai Esensi Menggambar Satu Garis Tanpa Putus

19 Maret 2017   10:32 Diperbarui: 19 Maret 2017   15:31 665 14 4
Memaknai Esensi Menggambar Satu Garis Tanpa Putus
Gambar ayam dengan teknik one-line drawing (photo credit by Differantly)

Yang selalu kita tahu menggambar itu membutuhkan langkah-langkah, dari menggambar bentuk yang paling sederhana ke detail yang rumit. Contoh saat menggambar ayam, untuk mudahnya diawali dengan menggambar bentuk oval untuk badannya, bulatan kecil untuk kepalanya dan seterusnya, dimana kita melakukannya dengan beberapa garis. Sementara itu menggambar tanpa putus, atau oneline drawing (atau single line drawing) adalah sebuah teknik menggambar suatu benda dengan satu garis kontinyu tanpa putus, dari realitas bentuk awal ayam yang detil ke bentuk yang paling sederhana, seperti gambar di atas.

Meski terlihat mudah dan 'sembarangan' menggambarnya, setelah selesai, kita bisa menikmati bentuknya. Ah memang bertalenta. Orang biasa ngga bisa menggambar seperti itu. Mungkin itu dalam benak kita. "Memang saat mereka melihat karya kami, banyak orang berasumsi kita melakukannya semudah menjentikkan jari." Kata Emma dan Stephane, artist dari Perancis yang menggambar dengan satu garis tanpa putus ini. Tapi sebenarnya proses mereka hingga menghasilkan gambar ayam minimalis di atas jauh dari yang mungkin semua orang bayangkan. Bagaimana sebenarnya prosesnya?

Pada kenyataannya, proses kreatifnya cukup panjang dan terdiri dari beberapa fase awal bahkan sebelum mulai menorehkan garis ke kertas draft! Bergantung pada obyek yang akan digambar, proses kreasinya bisa memakan waktu beberapa hari bahkan sampai beberapa bulan untuk pekerjaan besar.

Tahap 1: MEMPELAJARI DAN BELAJAR

Biasanya tahap pertama adalah RESEARCH/ MEMPELAJARI dengan jeli dan detil obyek yang akan digambar. Artist harus mempelajari setiap aspek dari obyek tersebut untuk MENDEFINISIKAN ESENSI nya. Jika memungkinkan, mereka menggunakan obyek riil, jika tidak memungkinkan mereka biasanya akan mengambil banyak gambar dari obyek tersebut. Saat mengerjakan benda mati yang mereka bisa dapatkan benda riilnya, mereka biasanya menyemprotkan cat putih ke benda tersebut, karena dengan seperti itu mereka bisa lebih fokus terhadap volumenya (sementara meniadakan detil non-esensi). Tahapan ini mereka katakan cukup akademik namun krusial untuk MENCERNA segala aspek dari subyek tersebut dan membuat mereka merasa memiliki esensinya.

Tahap 2: MENGGAMBAR, MENCERNA DAN MENCAPAI ESENSI

Proses kreatif Differantly dalam mensketsa kuda dengan teknis oneline drawing (photo credit: Differantly)
Proses kreatif Differantly dalam mensketsa kuda dengan teknis oneline drawing (photo credit: Differantly)
Tahap berikutnya adalah menggambar subyek se-realistis dan sedetil mungkin, dari berbagai sudut yang menurut mereka relevan untuk menggambarkan benda tersebut. Setelah ini selesai baru proses dekonstruksi subyek secara mental dapat dimulai, dan memilih bagaimana membangun struktur garisnya. Mereka biasanya menggambar beberapa versi dengan kombinasi struktur garis. Setiap pilihan struktur memulai garis gambar biasanya akan menjadikan gambar yang berbeda dimensi dan dinamik. 

Namun mereka tidak mau terburu-buru untuk memutuskan gambar finalnya. Lewat proses ini garis-garis tidak substansi akan terlihat dan akan disingkirkan. Menurut mereka ini adalah proses pendewasaan, yang sering menyakitkan yaitu untuk merelakan detil-detil disingkirkan, sehingga gambarnya menemukan garis-garis ter-inti. Untuk artist, ini juga sangat demanding karena aliran minimalis mempunyai tuntutan level kesempurnaan. 

Tahap 3: FINALISASI

Tahap terakhir adalah mendesain gambar final lebih akurat termasuk memoles lekuk-lekuk dan sudutnya. Mereka akan selesai dengan satu gambar saat merasa telah mengonstruksi sebuah subyek baru yang cukup menggambarkan 'dirinya' sendiri, yang sebenarnya berasal dari realitas lain (sebuah benda). 

Sampai sini kita baru paham bahwa meskipun kelihatannya sederhana sekali, sebelum bisa membuat oneline drawing, kita harus menerjemahkan dulu ESENSI dari suatu benda, melalui riset dan studi menyeluruh. Di situ lah kunci dari menggambar dengan satu garis tanpa putus. Setelah itu kita harus meniadakan detil-detil yang non-esensi. Proses meniadakan detil-detil itu bukan dengan simsalabim, namun melalui fase menyakitkan saat detil-detil yang (ternyata) tidak esensial itu harus pergi. Di sini proses pendewasaan terjadi dalam proses kreatif. Berikut ini video tentang Differantly (nama yang dipilih Emma dan Stephane untuk melabeli kepemilikan karya-karyanya):

Meski telah mendapatkan esensi suatu benda, artist oneline drawing memerlukan teknik menggambar yang baik, tangan yang steady (tidak gemetar) untuk dapat menuangkannya lewat garis yang kontinyu. Seperti halnya dalam menulis, kita pun memerlukan penggunaan kata-kata yang pas, koherensi tulisan yang baik, dan pakem-pakem menulis yang benar. Jika tidak maka esensi tadi tidak akan tersampaikan. Selain itu, saat drafting, kita harus rela memangkas detil-detil yang tidak esensial, yang disebut sebagai proses pendewasaan oleh artist oneline drawing tersebut. 

Pelajaran yang penting yang dapat kita ambil dari menggambar satu garis tanpa putus adalah bahwa menjelaskan hal (baik itu benda, permasalahan, kejadian) dengan sederhana dan mudah dicerna oleh semua orang itu selalu melalui proses panjang MENELITI/ MEMPELAJARI. Tidak mudah untuk memahami esensi dari suatu hal untuk dituangkan kembali dalam bentuk lain yang sederhana. Proses kreatif dalam menulis juga melalui proses yang sama. Kita selalu membutuhkan riset, mempelajari sumber terpercaya dan memahami esensinya untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan mudah dan nampak simpel. 

Seperti kata Einstein: "If you can't explain it to a six year old, you don't understand it." (Jika kamu tidak bisa menjelaskannya kepada anak berusia 6 tahun, berarti kamu belum (benar-benar) memahaminya.)

Nagoya, 19 Maret 2017