Keluarga, dan Nilai Islami

30 November 2016 22:00:58 Diperbarui: 30 November 2016 22:25:56 Dibaca : Komentar : Nilai :

Bismillahhirromhmanirrohim...

Selamat membaca kompasianer :) 

Mendidik anak adalah menumbuhkan, mengembangkan, dan menyuburkan, atau lebih tepatnya “mengkondisikan” sifat-sifat dasar (fitrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya. Tujuannya agar anak dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik.

Kuman-kuman kehidupan atau “duri-duri perjalanan” tentu semakin nyata dan berbahaya dizaman dan dimana kita hidup saat ini. Masalahnya apakah kenyataan ini telah membawa kesadaran bagi kita untuk membentengi diri dari keluarga kita?

Dalam pandangan islam, anak adalah titipan anugrah yang diberikan Allah pada orangtuanya. Kehadiran anak disebut :

Berita baik;

“hai zakaria, sesungguhnya kami memberi kabar gembira padamu akan (diberi) seorang anak yang namanya yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. (QS. Maryam:7)

Hiburan karena mengenakkan pandangan mata;

Dan orang-orang yang berkata: “ya tuhan kami, anugerakanlah kepada kamiistri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati. (QS. Al-furqan:74)

Perhiasan hidup di dunia;

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…. (QS. Al-kahfi:46)

Sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah SWT, pelanjut, penerus, dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian; sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), da nisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At_Taghabun:15)

Anak bukan bagai selembar kertas putih, melainkan ia terlahir dengan fitrah tauhid. Allah berfirman:

Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “betul (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan tuhan).” (QS Al-A’raf:172)

“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada firah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum:30)

Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana orangtua merawat, membesarkan, dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Persoalan pendidikan anak akan terus dihadapi oleh setiap orang yang memiliki anak. Apalagi dalam masa sekarang dimana tantangan lingkungan pergaulan dan pengaruh media massa demikian besar (ditandai dengan aksi tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, dan sebagainya), maka pengetahuan tentang bagaimana konsep islam dalam mendidik anak,kapan pendidikan seharusnya sudah dimulai, dan siapa sesungguhnya yang pertamakali berperan dalam pendidikan anak menjadi sangat penting untuk diketahui. Dengan amat jelas, Allah SWT memberikan peringatan tentang masalah tanggung jawab orang tua terhadap anak.

“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, olaeh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An_Nisa:9)

Rasulullah SAW bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggngjawabannya atas apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dan seorang ayah bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Dan seorang ibu bertanggung jawab atas harta dan anak suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atsanya” (HR.Bukhori Muslim).

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article