Hijau

Bagaimana Nasib Hutan Pulau Jawa? (Bagian 1)

9 Juni 2017   01:54 Diperbarui: 9 Juni 2017   03:36 94 0 0

Seorang teman bertanya bagaimanakah nasib hutan di Jawa dalam 20 tahun ke depan.

Aku menahan tersenyum sambil membayangkan; peningkatan kesadaran dan pengetahuan menjaga hutan yang berimplikasi pada pertumbuhan luas tutupan lahan, tidak cukup mampu mengimbangi laju kerusakan hutan alam yang terjadi saat ini untuk memenuhi hasrat pembangunan. Apalagi bila statusnya adalah hutan produksi atau hutan tanaman rakyat dengan kayu sebagai komoditi utamanya, atau atas nama pembangunan, dialihfungsikan dari hutan menjadi non hutan.

Jadi sesimpel itu memang...

Dan ke depan, pembangunan kereta double track yang mengarah ke empat lajur, bandara, kereta cepat, dan jalan tol, kawasan industri, pelabuhan dan perumahan, masih akan tumbuh. Bisa pula ditambahkan dengan pembangunan PLTG di Gunung Slamet untuk mendukung ketersediaan energi, pabrik semen sekitar Kuningan-Nusakambangan-Rembang-Pati-Tuban-Pacitan-Trenggalek-Tulungagung-Ponorogo-Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan-Nganjuk-Jember-Bondowoso-Banyuwangi-Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep-Gresik sebagai bahan baku pembangunan.

Jangan lupa, tambahkan pula penambangan pasir-batu seputar Gunung Merapi dan Semeru yang berstatus Taman Nasional. Tambang emas di Banyuwangi yang berdekatan dengan TN Meru Betiri, yang konon menyimpan cerita alih fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi agar bisa di tambang open pit.

Banyak, masih banyak lainnya.

Dan begitulah pembangunan dilakukan. Lahan merupakan aset berharga agar pembangunan dapat dilaksanakan. Untuk kemudian, pihak yang awalnya tidak setuju pun akan ikut menikmati hasil pembangunan.