HIGHLIGHT

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Pembodohan

26 November 2010 13:21:51 Dibaca :

Di Indonesia Hari Guru dirayakan setiap tahun. Sebagai salah satu profesi andalan republik ini bahkan dunia, guru di tempatkan sebagi figur pendidik calon-calon pemimpin atau malah calon pendidik juga. Guru menjadi ujung tombak terciptanya pemikir-pemikir handal dan sekaligus eksekutor peradaban. Dengan demikian guru di tuntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman sekaligus tidak meninggalkan mental rendah hati tetapi bersedia berbagi.


Di desa-desa tertinggal atau pelosok atau pinggiran profesi guru adalah profesi yang sangat terhormat. Bahkan setara dengan para pembesar-pembesar desa, seperti lurah, kepala dusun dll. Penghormatan yang lebih dari masyarakat kebanyakan selalu saja di berikan kepada seseorang yang berprofesi guru. Dimata dan hati mereka, guru adalah sosok sumber dari berbagai ilmu kehidupan baik mental maupun spiritual, jiwa dan juga raga. Menjadi guru berarti menempatkan diri pada strata sosial yang terhormat.


Lain halnya guru di kota atau desa yang berdegradasi ke kota. Guru sebagai masyarakat sosial di lihat sebagai sebuah profesi yang biasa-biasa saja. Daya tawar sosial pun tidak jauh beda dengan profesi profesi yang lain. Dengan penghasilan yang mungkin pas-pasan pun masih memiliki “kawan”. Karena biasanya guru yang merasa berpenghasilan pas pasan mereka masih dengan ikhlas untuk bekerja di sawah atau ngojek. Untuk guru yang tidak mau bekerja di lapangan panas dan kotor masih bisa “nyambi” jualan pulsa atau toko kelontong. Namun semua itu tidak melunturkan opini masyarakat bahwa guru memang pencipta orang-orang hebat.


Guru dalam perspektif modern adalah bagian dari terciptanya sebuah system sendi-sendi kehidupan. Bebagai isu sosial, politik, hukum dan budaya tidak sedikit yang memjadikan profesi guru sebagai subyek sekaligus obyek. Secara tidak langsung guru telah di jadikan barometer akan metabolisme kehidupan.


Berbagai program dan kegiatan pun tidak sedikit yang berpihak pada profesi satu ini. Untuk mendapat pengakuan yang lebih dari lembaga atau kelompok apapun. Padahal tanpa itupun profesi guru tidak akan kehilangan pamornya sebagai pendidik atau pencipta generasi selanjutnya. Bahakan apapun yang di lakukan (oknum) guru tidak atau belum mampu merontokan citra profesi guru ini.


Dengan profesi guru adalah salah satu jalan pintas untuk menempati posisi sosial lebih tinggi. Dengan profesi guru adalah salah satu alas an untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih. Dengan profesi guru kita akan bisa bertepuk dada aku adalah pendidik, pencipta calon generasi kehidupan selanjutnya.


Namun begitu instropeksi guru masih belum menjamah sendi kehidupan itu sendiri. Kebangaan mendidik dan mencipta calon penerus peradaban tidak di ikuti dengan kerendahan hati untuk mengakui bahwa guru telah gagal ikut membangun Indonesia. Pemikir yang terdidik dari guru exsekutor peradaban yang tercipta oleh guru ternyata tidak mempu menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang disegani. Bangsa ini masih saja pontang panting terseok berjalan menembus batas untuk bisa menjadikan bangsa ini ber “tariff” di mata dunia.


TKI yang hanya di bayar murah, Politikus busuk yang hanya mementingkan kelompoknya, Tentara yang merinding ketakutan melihat pasukan pasukan Negara tetangga, pejabat korup, pemimpin Negara yang loyo menghadapi ancaman Negara lain. Pengangguran, lapangan pekerjaan, gelandangan, kemiskinan dan lain lain haruslah menjadi kaca nurani korps guru. Bahwa penghargaan masyarakat belum di hargai oleh guru sendiri. Sementara mayarakat telah menyetujui kenaikan gaji, adanya sertifikasi, penghormatan sosial, pesta setiap tahun dalam bentuk upacara.


Memang profesi ini sungguh sangat layak mendapat penghargaan tetapi Pahlawan Tanpa tanda Jasa adalah pembodohan.


Mungkin lebih kepada ingin di hargai lebih dan lebih lagi.


“Ini lho saya tidak mendapat penghargaan padahal sudah bla bla bla bla bla!!!”






Stefanus Joko

/masjoko

Kawulo alit pencela bangsa sendiri tanpa memberi solusi. Pengagum Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?