HIGHLIGHT

Tentara Kita: Rambo Sih Nggak Ada Apa-apanya

06 Oktober 2011 20:12:31 Dibaca :

Coba kita amati kenyataan yang ada di masyarakat. Ketika orang tua bertanya kepada anaknya laki-laki yang masih sekolah di TK, “Kalau besar mau jadi apa, nak?” Banyak dari anak itu yang menjawab, “Tentara!” Ketika anak perempuannya sudah dewasa, orang tua bertanya lagi, “Kalau kamu punya suami, cari yang jadi apa?” Jawabnya, “Tentara!” Dan bila orang tua balik ditanya, “Kalau punya manantu, cari orang macam apa mak?” Jawabnya juga sama, “Ya tentara lah yau!”

Tentu saja ada yang protes, “Ah, nggak jugalah! Ada juga yang mau jadi dokter, polisi, astronot, jaksa, hakim, guru.”

Ya, tentu saja jawabannya bahkan bisa lebih panjang dari itu. Tetapi dari beberapa reponden yang ditanya pasti juga tak sedikit yang lantang menjawab, “tentara!” Tentara termasuk salah satu profesi yang banyak diimpikan sejak anak usia balita, usia remaja, sampai dengan orang tua yang sudah keriput macam unta.

Mengapa tentara menjadi profesi yang banyak dicita-citakan, khusunya oleh anak laki-laki? Tentara identik dengan kesatria yang gagah perkasa, kuat, tangguh, tidak cengeng dan bawa senjata. Anak perempuan yang berangan-angan punya suami tentara, ketika ditanya apa yang membuat mereka terkesan, jawabnya juga karena kegagahannya.

Sebagai ujung tombak penjaga keamanan negara tentara memang harus kuat, tidak boleh lembek. Tentara tidak pernah lepas dari sejarah pejuangan suatu bangsa. Selama berlangsungnya perjuangan merebut kemerdekaan dulu, tentara dan rakyat senantiasa bahu-membahu berjuang mengusir penjajahan dari negeri ini. Ketika kemerdekaan sudah direnggut, tentara menjadi kekuatan utama dalam memukul mundur setiap ancaman keamanan. Ancaman berupa kekuatan asing yang ingin kembali bercokol di negeri ini, maupun gangguan-gangguan keamanan dalam negeri yang berupa usaha-usaha separatisme.

Karena tugasnya yang demikian, tidaklah benar bila ada anggapan bahwa modal utama untuk menjadi tentara adalah kekuatan dengkul, yang penting fisiknya kuat. Menjadi tentara tak cukup bermodalkan fisik yang prima, tapi harus juga dibarengi IQ yang bagus dan mental ideologi yang tangguh.

Siapa yang belum pernah nonton film “Rambo” yang laris itu? Sampai-sampai dibuat beberapa seri, ada Rambo I, Rambo II, Rambo III. Saya tak ingat lagi sampai Rambo ke berapa ya? Tetapi yang hendak saya katakan bahwa film Rambo itu laris karena si peran utamanya, si Rambo yang begitu hebat dalam perang gerilya. Tapi bagi saya, dibandingkan dengan tentara kita, si Rambo nggak ada apa-apanya.

Malam itu, saya asyik ngobrol dengan Pak Marto. Pak Marto usianya sudah mendekati 70 tahun, tapi orangnya nampak masih gagah dan enerjik. Sosoknya kocak, humoris, enak diajak bercanda tentang apa saja.

Dulu saya ketemu Pak Marto di warung pinggir Kali Sadar, kota Mojokerto. Sepintas Pak Marto seperti pelawak atau pemain ludruk, tak banyak yang tahu bahwa ia sebenarnya seorang pensiunan marinir yang pernah menjadi ‘Rambo’ di Timor Timur (sekarang Timor Leste, negara suami barunya si KD).

Pak Marto memang tentara yang rendah diri rendah hati (dibetulkan). Ia tak pernah menceritakan kisah perjuangannya di Timor Timur tahun 76 an yang heroik itu kepada sembarang orang. Ia tak mau dianggap sebagai seorang pahlawan. Tatapi malam itu, Pak Marto menceritakan perjuangan yang dlakukannya selama ia ditugaskan perang menghadapi kelompok Fretelin yang anti intergrasi pada waktu itu.

Sayangnya saya tak bisa menuliskan reportasi perang itu di sini. Terlalu mengerikan! Bayangkan saja kisahnya lebih hebat dari pada si Rambo itu. Intinya, adalah bahwa dalam hal strategi perang gerilya tentara Indonesia nomer satu di dunia. Negara lain, boleh saja memicingkan mata melihat persenjataan perang kita yang memang selain banyak yang sudah tua, yang baru juga tak secanggih yang mereka punya. Tetapi dalam hal strategi dan heroisme, tentara Indonesia tak ada duanya.

Di akhir bincang-bincangnya, Pak Marto bertutur, “Ketika sudah diperintahkah berangkat perang, tentara tak pernah hitung-hitung soal mati. Meskipun ketika berangkat ia diantar oleh tangisan anak istri, ketika dalam tugas yang ada hanyalah hidup atau mati!”

Saya hanya manggut-manggut, menyimak. Dalam hati saya berkata, “Rambo sih nggak ada apa-apanya...”

“Kok beda dengan pegawai negeri ya pak, Baru dimutasi 10 kilometer dari rumahnya saja sudah merengek-rengek.”

“Haaaaa….haaaaa….”, Pak Marto hanya tertawa ngakak.

Selamat ulang tahun TNI, jaya di darat, jaya di laut, jaya di udra!

gambar dari: madyapadma.com

Mugito Guido

/masgitocamp.wordpress.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Senang menulis tapi tidak pinter menulis. Aku hanya asal menulis, menulis asal!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?