Olahraga highlight

Masih Punya Makna Kah Hari Olahraga Nasional?

9 September 2017   07:27 Diperbarui: 9 September 2017   07:45 1536 2 2

Mungkin judul artikel ini sedikit tendensius karena dipengaruhi capaian Kontingen Indonesia pada SEA Games Kuala Lumpur yang baru lalu. Dari 11 kontingen negara yang mengikuti perhelatan olahraga Asia Tenggara itu kita hanya mampu berada pada posisi kelima sesudah Malaysia,Vietnam,Singapura dan Thailand.

Prestasi tersebut terasa menyesakkan dada karena prestasi olah raga kita sudah berada dibawah posisi Vietnam ,negara yang belum terlalu lama bergabung dalam komunitas negara negara Asia Tenggara. Tidak dapat dipungkiri bahwa olahraga sesungguhnya merupakan sarana yang sangat tepat untuk mengharumkan nama bangsa.Tapi sayangnya negara kita belum mampu mengoptimalkan prestasi olah raga sebagai sarana pengharum nama bangsa ini.

Keinginan hati untuk menjadikan olahraga sebagai sarana pengharum nama bangsa selalu muncul,karena bukankah tiap tahun di republik ini selalu diadakan peringatan atau upacara Hari Olahraga Nasional (Haornas) . Untuk tahun 2017 ini peringatan Haornas,9 September 2017 akan dipusatkan di kota Magelang yang menurut rencana akan dihadiri Presiden Jokowi.

Haornas diperingati pada setiap tanggal 9 September untuk mengenang diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON ) pertama yang diselenggarakan di Solo pada tahun 1948. PON pertama tersebut masih dalam suasana perang kemerdekaan karena tidak lama sesudah penyelenggaraan PON tersebut maka pada 19 Desember 1948 ,pasukan Belanda menyerbu Jogyakarta dan menahan pemimpin pemimpin republik seperti Sukarno ,Hatta dan beberapa tokoh nasional lainnya.Serangan Belanda ke Joyga tersebut dikenal sebagai Aksi Polisional Belanda kedua dan bagi kita peristiwa itu dinamakan Perang Kemerdekaan kedua.

Jadi sangat jelaslah, PON pertama diselenggarakan ketika negara kita dalam suasana perang untuk mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945. Oleh karena pada waktu itu masih dalam suasana Perang Kemerdekaan maka penyelenggaraan PON pertama itu juga punya arti politis yang cukup strategis. Selain sebagai arena pertandingan olahraga 13 kota/keresidenan yang diikuti  600 orang atlit,PON pertama itu juga ingin menunjukkan kepada pihak luar bahwa biarpun wilayah Negara Republik Indonesia dipersempit akibat perjanjian Renville tetapi negara muda yang dilemahkan Belanda itu masih dapat menyelenggarakan PON.

Karenanya terlihatlah dengan jelas bahwa para pemimpin republik menyadari, olahraga juga dapat dijadikan sebagai alat politik. Hari pembukaan PON pertama itu kemudian ditetapkan sebagai Haornas. Oleh karena PON pertama di Stadion Sriwedari Solo sangat erat hubungannya dengan politik perjuangan maka haruslah diakui bahwa memperingati Haornas masih punya makna penting karena olahraga juga adalah alat perjuangan.

Tetapi rasanya tidak cukup kalau pada masa sekarang ini kita melihat Haornas hanya dari aspek historisnya semata tetapi sangat penting juga bagaimana agar Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar ke -4 di dunia ini juga dapat menunjukkan taringnya di kancah regional dan juga diharapkan pada level internasional. Tapi sayang prestasi olahraga kita pada level internasional seperti olimpiade belumlah masuk hitungan.Bahkan untuk tingkat Asia  melalui ajang Asian Games ,prestasi olah raga negeri ini juga belum menggembirakan. 

Indonesia pertama kalinya mengikuti Asian Games pada tahun 1951 yang diselenggarakan di New Delhi India.Pada Asian Games tersebut Indonesia berada pada peringkat ke 7. Selanjutnya seperti yang dicatat Wikipedia ,terlihat naik turunnya peringkat Indonesia pada pesta olahraga Asia tersebut. Pada Asian Games ,Manila tahun 1954,Indonesia berada pada peringkat 11,Tokyo tahun 1958,menurun menjadi peringkat ke 14.

Sedangkan pada Asian Games tahun 1962 yang diadakan di Jakarta ,negeri kita berada pada peringkat prestisius yakni nomor dua.Tetapi peringkat ini melorot lagi tahun 1966 di Bangkok menjadi peringkat ke -6.Asian Games selanjutnya yang masih diadakan di Thailand tahun 1970 ,peringkat Indonesia membaik lagi pada posisi ke-4. Tetapi pada Asian Games,Teheran tahun 1974 ,peringkat Indonesia turun satu tingkat menjadi nomor 5. 

Pada Asian Games tahun 1998 ,posisi Indonesia berada pada urutan 11 kemudian terus melorot ,Busan Korea,tahun 2002,posisi ke 14,Doha tahun 2006 ,peringkat 22 dan Guangzhou tahun 2010 menjadi posisi ke 15. Terlihatlah sudah sepanjang sejarah Asian Games,kita belum memperoleh peringkat yang layak. Bahkan jangankan di Asean Games di kawasan Asia Tenggara prestasi olahraga negeri ini juga belum memuaskan.

Tentu wajar muncul pertanyaan dimana akar masalahnya kenapa prestasi olahraga republik ini tidak memuaskan. Walaupun penulis bukanlah ahli olahraga tetapi dapat dipastikan, ada yang salah dalam pembinaan olah raga di negeri ini. Kata para ahli olahraga, pembinaan olahraga itu meliputi berbagai aspek seperti ,ketersediaan dana,organisasi pengelola,manajemen,metode latihan ,ketersediaan pra sarana dan sarana dan masih banyak lagi faktor lainnya.

Kita percaya para ahli olahraga sangat menguasai seluk beluk olahraga serta mampu juga merumuskan dimana letak kesalahannya selama ini sehingga prestasi olahraga kita terasa belum optimal. Dalam pemahaman yang demikian kita berharap ,Haornas dapat digunakan sebagai momentum untuk" refleksi diri" di bidang olahraga dan kemudian menyusun dan melaksanakan rangkaian program untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga.

Haornas seyogianyalah dapat digunakan sebagai momentum pencanangan kebangkitan olah raga negeri ini. Menurut hemat penulis, kalau hal hal demikian dapat dilaksanakan maka Haornas akan punya arti yang lebih penting lagi untuk kemajuan olahraga di negeri ini. Dengan demikian Haornas tidak hanya sebatas seremonial olahraga saja tetapi punya arti yang lebih strategis , sebagai titik awal kebangkitan olahraga negeri kita.

Salam Olahraga!