Dari Cianjur untuk Dunia!

19 Mei 2017 09:30:35 Diperbarui: 19 Mei 2017 10:06:24 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

BERADA di kaki Gunung Gede,  sungai-sungai mengalir mengairi lahan pesawahan yang menghampar luas. Walaupun diantaranya sudah banyak yang alih fungsi jadi tanaman besi beton pabrik industri berlampu neon.

Udara yang nyaman membuat oran g betah tinggal berlama-lama di daerah yang berpenduduk sekitar 2. 000. 000 jiwa ini. Walaupun terkadang udara terasa panas karena siklus perubahan cuaca atau mungkin karena dampak kerusakan ozon, rumah kaca, dan mungkin juga dampak dari kepadatan penduduk dan dampak keberadaan waduk Cirata.

Itulah sedikit gambaran tentang daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang berada pada lintasan dua kota besar, Bandung – Jakarta. Seiring dengan  perkembangan pembangunan,  daerah yang dulu hanya dikenal sebagai daerah lintasan, kini sudah berubah menjadi daerah/kota tujuan.

Dulu orang ke Cianjur hanya untuk beristirahat atau singgah sebentar, sekarang banyak orang yang datang menetap di daerah atau di kota ini, berbisnis, menjadi pegawai, menjadi buruh,  membuat anak (berkeluarga) atau beranak pinak. Artinya mereka betah tinggal di sini, karena banyak peluang untuk mengadu nasib ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya yang ramah tamah.

Daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi , Bogor Bandung Purwakarta ini,  banyak memiliki potensi untuk kemakmuran rakytanya baik yang sudah digali maupun yang belum. Cianjur dikenal pula memiliki  padi varietas lokal Pandanwangi yag menghasilkan beras Cianjur, juga sebagai lumbung beras. Tidak hanya itu, banyak obyek wisata.

Potensi-potensi itu, merupaka modal untuk membangun kemakmuran rakyat Cianjur. Dari potensi-potensi itulah, Bupati Cianjur, H. Irvan Rivano Muchtar, melahirkan gagasan dan ambisinya untuk membangun Cianjur yang lebih baik, diantaranya akan menjadikan Cianjur menjadi Kota Wisata Pangan Dunia.

Untuk merengkuh ambisi itu, dilakukan pelbagai upaya terobosan pembangunan dalam pelbagai sektor kedaulatan pangan, agrobisnis, wisata, usahaha kecil menengah, dan pelbagai usaha lainnya yang dapat mendorong terciptanya Kota Wisata Pangan Dunia.

Keberadaan lahan pangan yang sangat luas terletak di enam wilayah kecamatan di Kabupaten Cianjur, memiliki luas 1.683 hektar, secara komulatif menghasilkan produksi pangan 25.026 ton/tahun. Dalam upaya menjaga kedaulatan pangan lewat pembangunan sektor-sektor unggulan daerah yakni pertanian dan pariwisata.  

Dengan begitu diharapkan akan semakin mampu mengakselerasi tercapainya kedaulatan, kemandirian, ketahanan pangan serta peluangsebagai destinasi wisata pangan dunia yang berkualitas, originalitas dan higienis atas objek wisata dan produk pangannya.

Dinas Pariwisata Kabupaten Cianjur pada tahun 2017, fokus membangun bidang pariwisata, yaitu pengembangan sejumlah titik untuk menjadi kawasan pariwisata terpadu. Pembangunan saat ini dimulai dari beberapa pintu masuk ke kawasan Cianjur.

Dri tujuh pintu masuk ke Cianjur yang berbatasan dengan kota lain, akan digarap penyediaan fasilitas wisata, sehingga diharapkan pengunjung begitu memasuki Cianjur merasa betah.

Adapun konsep penyediaan rest area lengkap dengan wisata atraktif, kuliner, hingga tempat beribadah akan diutamakan pengerjaannya di setiap akses masuk ke Cianjur. Diharapkan akan menambah nilai wisata Cianjur.

Secara keseluruhan, di setiap wilayah, masyarakat dapat menikmati wisata yang beragam.

Dari setiap wilayah, ditawarkan potensi yang berbeda-beda. Mulai dari wisata budaya, sejarah, kuliner, pantai, sampai off road.

Untuk menciptakan kawasan wisata terpadu, pembangunan dinilai perlu berimbang di setiap wilayah. Apalagi, hampir di seluruh wilayah Cianjur memiliki potensi wisata yang memungkinkan untuk dikembangkan agar menjadi daya tarik dan ikon daerah.

Untuk itu, untuk mewujudkan pelbagai program pembangunan yang saling keterkaitan, juga  dilakukan perbaikan/pembangunan infrastutur, dan lainnya. Alokasi anggarannya pun melalui APBD 2017 cukup besar. Tentunya gelontoran dana ini akan terus berlanjut sehingga program –program dapat dilaksanakan dengan baik.

Kamis tanggal 18 Mei 2017, genap setahun pasangan Irvan Rivano Muchtar/Herman Suherman memimpin Cianjur. Namun dari pelbagai program yang dicanangakan dan dilaksanakan  sebagaimana banyak dikemukakan kalangan masyarakat masih belum terasa dan nampak secara signifikan. Apalagi tentang Cianjur menjadi Kota Wisata Pangan Dunia.

Dalam kemimpinan menjadi Bupati Cianjur, Irvan Rivano,  yang menggantikan atau melanjutkan kepemimpianan ayahnya Tjetjep Muchtar Soleh selama dua periode menjadi Bupati Cianjur, malahan pada usia setahun menjadi Bupati Cianjur, ini, Kamis (18/5)  digeruduk para pedemo. Mereka mempertanyakan, kinerja selama setahun ini.

Mereka juga membawa sejumlah aposter yang isinya cacian, hujatan, dan mempertanyakan, sejauhmana kejagoannya Cianjur. Diantaranya, mempertanyakan tentang kondisi jalan, karena masih banyak jalan yang “goreng” alias jelek, dan butut.

Suka tidak suka, untuk membangun, mewujudkan program pembangunan dan janji-janji  kampanye memang tidak mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, ada proses yang panjang. Apalagi tentang menjadikan Cianjur Kota Wisata Pangan Dunia. Sungguh berat untuk mewujudkannya.

Ya itu, tadi, apalagi dia baru setahun bekerja, sehingga harus sabar menuggu empat atau lima tahun lagi. Menunggu,  Dari Cianjur Untuk Dunia, kapan akan dapat dipersembahkan.

000

Man Suparman

/mamanpelita

Pangnepikeun ieu talatah ka sakumna pangeusi dunya. Email : mansuparman1959@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana