Beralihnya Referensi Bahtsul Masail, dari Kitab Kuning, ke Kitab Digital

17 September 2012 17:41:00 Dibaca :

Ada yang beda dari Bahtsul Masail NU dalam  Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) tahun ini. Biasanya dalam setiap bahtsul masail, para kiai membawa setumpuk kitab kuning dan berbungkus-bungkus rokok.
Kali ini, suasana di ruangan bahtsul masail terlihat lebih tertib, layaknya siding anggota parlemen. Meja berjejeran, asap rokok tak terlalu banyak mengepul, dan tak terlihat lagi kitab bertumpuk atau berserakan di area Bahtsul Masail.
Meski begitu, suasana di area munas yang membahas Sembilan hal penting terkait bangsa ini, tetap panas  dengan perdebatan. Para kiai beradu argument dengan dalil-dalil keagamaan yang fasih. Kiai-kiai muda tak segan membantah pernyataan kiai tua. Ratusan dalil dari kitab-kitab klasik tetap bertebaran dari pendapat para kiai. Bahkan hingga waktu rehat tiba, para kiai masih aktif berdebat sambil sesekali memandangi netbooknya.
Dari mana para kiai itu mengutip dalil-dalil kitab klasik dan saling memverifikasi pendapat kiai lainnya? Ternyata, netbook yang berada di hadapan para kiai itu berisi ribuan kitab klasik digital yang telah dipersiapkan panitia Munas.
“Pada saat pra munas, panitia menyediakan ribuan kitab digital, yang dirangkum dalam hardisk. Ribuan kitab itu seberat satu tera (seribu giga,red,)” ungkap anggota Raisy Syuriah PB NU K.H Isomudin membocorkan rahasia kefasihan dalil para kiai.
Ribuan kitab klasik yang disimpan dalam hardisk berkekuatan satu tera itu, menurut Isom dijual oleh panitia senilai Rp 1,8 juta. “Ya ini lebih praktis. Daripada kita mendownload sendiri kan lama,” ujarnya.
Meski praktis, menurut Isom,  membaca kitab kuning jauh lebih nikmat, ketimbang membaca kitab digital. “Kalau di netbook kita gak bias mencoret dan memberi makna. Di kitab kan kita bias mencoret dan membuka lembaran kitab kuning itu, sungguh indah rasanya,” katanya bernostalgia.
Selain itu, kata Isom, isi dari kitab digital itu banyak yang harus diverifikasi ulang. Sebab tak jarang kitab-kitab digital itu ada yang tak lengkap isinya, atau bahkan dirubah isinya. “Mendownload jug harus hati-hati. Sebab banyak situs yang menyediakan kitab digital itu justru malah menyesatkan isinya. Biasanya kelompok wahabi yang tega merubah isi kitab,” ujarnya.
Karenanya, PBNU berencana menyampaikan persoalan ini kepada Raja Arab Saudi dalam pertemuan yang akan dilakukan PBNU dan Kerajaan Arab Saudi, beberapa bulan mendatang. “Kami akan bahas ini. Ini persoalan serius. Banyak kitab para ulama yang dirubah isinya hanya untuk kepentingan memaksakan ideologi. Ini merusak,” katanya.
Menjelang magrib, sidang bahtsul masail ditunda. Sejumlah kiai pun ke luar ruangan. Di luar, mereka bersalaman. “Maaf ya kiai, tadi saya membentak-bentak,” kata seorang kiai dari Jawa Timur.  “Tak apa, saya juga minta maaf, tadi sempat ngotot. Tapi ini biasa dalam peredebatan ilmiah,” kata kiai lainnya.
Dalam Munas kemarin, siding bahtsul masail dibagi menjadi tiga komisi. Komisi A membahas masalah waqi’iyah atau isu-isu kekinian, Komisi B membahas soal Maudu’iyah atau tematik, dan Komisi C membahas Qanuniyah.
Sementara Konbes juga dibagi tiga komisi. Masing-masing membahas Keorganisasian, Evaluasi Program, dan Rekomendasi
--
Posting oleh Abdul Malik Mughni, ke www.malikmughni.co.cc pada 9/17/2012 12:05:00 PM

A, Malik Mughni

/malikmughni

seorang pembelajar kehidupan, yang tengah mencari kesejatian hidup, kehidupan, dan penghidupan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?