HIGHLIGHT

Teluk Kendari dan Danau Tempe Akan Lenyap

09 April 2011 13:27:21 Dibaca :
Teluk Kendari dan Danau Tempe Akan Lenyap
Indahnya panorama di Teluk Kendari/Ft:Google

Ada dua lanskap khas alam Indonesia kini amat mendesak untuk segera diselamatkan, jika tidak ingin dibiarkan hilang dari muka bumi. Yakni, Teluk Kendari di Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dan Danau Tempe yang terletak di wilayah tengah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kedua hamparan lingkungan anugerah Tuhan tersebut saat ini memiliki persoalan serius yang hampir sama, terancam bahaya pendangkalan akibat sedimentasi lumpur. Langkah-langkah cepat untuk mengatasi masalah tersebut, pun masing-masing terbentur dengan keterbatasan pendanaan dari pemerintah daerah setempat.

Ancaman pendangkalan terhadap Teluk Kendari, misalnya. Sejak puluhan tahun lalu sudah disadari oleh Pemerintah Kota Kendari maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Diakibatkan sejumlah sungai bermuara ke Teluk Kendari setiap saat membawa lumpur membuat endapan di alur teluk yang luasnya lebih dari 75 km bujursangkar dengan garis pantai sepanjang lebih dari 75 km.

Dari 13 sungai yang bermuara ke Teluk Kendari, di antaranya yang terbesar adalah Sungai Wanggu dan Sungai Kadia. Sejumlah sungai hulunya berada di Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Kendari.

Menurut hasil perhitungan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Priovinsi Sultra, setiap tahun ada sekitar 1,5 juta meter kubik material endapan yang tumpah ke alur Teluk Kendari. Total endapan yang ada sekarang sudah sekitar 60 juta meterkubik mengendap di alur teluk.

Jumlah endapan yang ada di Teluk Kendari saat ini telah mencapai 2/3 dari total kapasitas daya tampung teluk. Artinya, dengan tambahan sekitar 15 juta meterkubik lagi material yang masuk, Teluk Kendari akan tertutup dan tinggal nama.

13023554511796467845
Inilah salah satu gambar rancangan penyelematan Danau Tempe dari ancaman sedimentasi tapi tak kunjung terealisir

Tahun 2002 lalu saya telah membuat tulisan (dimuat berseri tiga kali di Harian Kendari Ekspres) menyorot secara khusus mengenai Teluk Kendari, mengingatkan teluk ini dari ancaman pendangkalan yang kian hari akan bertambah besar seiring dengan perkembangan pembangunan dan peningkatan aktivitas di Kota Kendari.

Masalahnya, dari 10 kecamatan yang ada di Kota Kendari, 6 kecamatan berbatasan langsung dengan Teluk Kendari. Kondisi tersebut sangat berpotensi mempercepat pendangkalan. Lantaran selain menjadi muara dari semua buangan limbah cair, juga jika tidak dibuat suatu sistem dan aturan yang ketat sulit untuk dihindari warga menjadikan alur teluk yang luas dan terbuka menjadi tempat pembuangan sampah padat.

Sejak tahun itu juga, sudah terdengar ada upaya untuk membentuk semacam Badan Pengelola yang menangani ancaman pendangkalan Teluk Kendari yang multikomplek. Namun, rencana tersebut masih seperti rencana yang diwacanakan banyak pihak saat ini, masih tetap sebatas rencana. Termasuk rencana untuk membuat semaca waduk-waduk penahan lumpur di sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Kendari.

Mendangkalnya Teluk Kendari akan mengancam keberadaan sejumlah pelabuhan di alur teluk ini, yang merupakan salah satu gerbang masuk barang dan penumpang melalui transportasi laut ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Ada hitung-hitungan, dibutuhkan duit sekitar Rp 1,5 triliun hanya untuk menguras material yang kini telah mengendap di alur Teluk Kendari. Suatu nilai yang terasa amat berat dapat disiapkan seketika oleh pemerintah daerah.

Kota Kendari, inilah mungkin satu-satunya kota di dunia yang tumbuh dan berkembang secara utuh mengelilingi sebuah teluk yang indah dipagari barisan pegunungan dan tanah dataran. Pulau Bungkutoko seluas 500 ha yang seolah menutup alur masuk di mulut Teluk Kendari, juga mungkin ini pula merupakan satu-satunya pulau yang ada yang paling rapat dengan daratan, hanya dipisah alur laut selebar tidak lebih dari 100 meter.

Sedangkan ikhwal pendangkalan yang mengancam Danau Tempe juga hampir sama yang dialami Teluk Kendari. Ada sekitar 7 sungai yang bermuara ke perut danau, sejak tahun 1980 pihak JICA sudah menghitung terjadi konsentrasi sedimen sekitar 2,4 juta meterkubik ke danau ini setiap tahun.

Sudah puluhan tahun pun pemerintah tiga kabupaten – Wajo, Soppeng dan Sidenreng Rappang (Sidrap) yang berbatasan dengan danau ini, berupaya mengatasi, namun kendalanya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi sungai-sungai yang bermuara di Danau Tempe pun hulunya berada di sejumlah kabupaten lain yang harus dilibatkan berkaitan dengan penghijauan dalam rangka mencegah bahaya banjir yang menyebabkan kian banyaknya volume material endapan ke perut Danau Tempe.

Pembangunan waduk pengendali banjir sekaligus penangkal lumpur di sungai-sungai yang bermuara ke Danau Tempe juga sejak lama diketahui menjadi jalan terbaik guna mencegah percepatan pendangkalan. Ketika Prof.Dr. Ir.Radi A Gany menjabat sebagai Bupati Wajo, dia sudah membangun semacam kanal penangkal banjir dan lumpur di tepian Danau Tempe. Namun, upaya tersebut tidak dapat dikembangkan lebih luas, lantaran keterbatasan anggaran.

Tahun 2010 kemarin, pemerintah pusat menyediakan dana sekitar Rp 30 miliar untuk membangun sebuah waduk pengendali banjir dan lumpur yang masuk ke Danau Tempe di Kabupaten Wajo. Akan tetapi dana tersebut terpaksa dikembalikan, lantaran Pemerintah Kabupaten Wajo tak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pembebasan lahan lokasi pembangunan waduk tersebut.

Danau Tempe yang luas genanganya sekitar 33.000 ha di musim penghujan, kini sudah menyusut hanya sekitar 1.000 ha di musim kemarau. Kedalaman tertinggi danau yang pernah melebih 11 meter di musim hujan, kini sisa sekitar 6 meter. Jika tak ada upaya serius mengcegah pendangkalan yang terjadi, diperkirakan seperti Teluk Kendari, dalam kurun sekitar 15 tahun mendatang areal genangan Danau Tempe akan berubah menjadi rawa, kemudian secara pelan tapi pasti berubah menjadi dataran rendah yang akan diluapi genagan air di musim penghujan.

Danau Tempe merupakan satu-satu danau terbesar tempat berkembangbiaknya berbagai jenis ikan tawar di Indonesia. Di sekitar danau ini pun menjadi tempat berkembang biaknya berbagai species tumbuhan dan satwa burung air tawar. Indah sebagai obyek wisata dengan aktivitas kehidupan dan tradisi nelayan danau. Sayangnya, sudah berpuluh studi dan rancangan program penyelamatan Danau Tempe dari ancaman pendangkalan yang telah dibuat sejak puluhan tahun lalu, tapi juga hingga kini belum dapat direalisasikan.

Padahal, Teluk Kendari dan Danau Tempe adalah juga bagian dari kekayaan lanskap Indonesia yang perlu diselamatkan.

Mahaji Noesa

/mahajinoesa

TERVERIFIKASI (BIRU)

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?