Menilik Kekuatan Angkatan Perang Kerajaan Wuna (Muna)

24 September 2016 03:06:42 Diperbarui: 24 September 2016 03:16:54 Dibaca : Komentar : Nilai :

Melalui  Sistem Organisasi Militer Dan Sistem Pertahanan Nyamenilik Kekuatan Angkatan Perang  Kerajaan Wuna ( Muna ) Melalui  Sistem Organisasi Militer Dan Sistem Pertahanannya

Kerajaan Wuna adalah salah satu kerajaan besar yang terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi.  Kerajaan ini didirikan oleh La Eli alias  Bhaidhulu Dhamani atau dalam epic I Lagaligo dikenal sebagai Rimandri Langik dengan gelar Bheteno Ne Tombula sekitar tahun 1321. Awalnya,  wilayah Kerajaan Wuna mencakup seluruh Pulau Muna ( saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Muna, Muna Barat dan Buton Tengah serta sebagian Pulau Buton bagian Utara ( Saat ini sebagian masuk wilyah administrasi Kabupaten Buton Utara dan Kecamatan Wakorumba Selatan, Maligano dan Pasir Putih Raya Kabupaten Muna ).

Dalam catatan sejarah khususnya tradisi lisan yang berkembang dikalangan masyarakat Muna, dikisahkan bahwa La Eli Raja Muna Pertama adalah sosok manusia fenomenal yang memiliki kesaktian. Hal itu dikarenakan La Eli ditemukan dalam ruas bamboo oleh sekelompok orang yang sedang mencari bamboo di dalam hutan guna keperluan pembuatan bangsal. Bangsal itu untuk hajatan Mieno Tongkuno salah seorang pemimpin kampong di Muna ( sebeum terbentuknya kerajaan ). Perlu dikethui, dalam tradisi tutur masyarakat Muna dikisahkan bahwa sebelum terbentuknya Kerajaan Wuna, di daratan Pulau Muna telah terbentuk Delapan Kampung yang masing-masing Empat Kampung dipimpin oleh Kamokula ( Tongkuno,Barangka,Lindo, Wapepi) dan Empat Kampung lainya di pimpin Mieno (Kuara,Kansitala,Lembo,Ndoke.). Kedelapan kampong tersebut mengikat diri dalam sebuah konfederasi dengan pemimpin tertinggi Mieno Wamelai. Dalam sejarah kebudayaan Muna dikatakan, delapan kampong yang telah ada sebelum terbentuknya Kerajaan Muna di kenal sebagai Wawono Liwu ( Negeri Permulaan ).  

Sedangkan dalam manuskrip yang dokummen nya saat ini tersimpan di Museum KITLV yang ditulis pada tahun 1257 H atau tahun 1840 M oleh Sultan Buton Idris Qaimuddin, dalam kode SBF.308 R.410, SBF.214 R.361, SBF.291 R.3.19, SBF.19 R.1.19, SBF.151 R.2.102, SBF.20 R.120, SBF.207 R.3.54, SBF.175 R.3.22, dan SBF. 184 R.3.31 menginformasikan bahwa La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. adalah anak dari hasil perkawinan Si Bataradari Majapahit dengan Wa Bokeodari Muna ( Baca: La Niampe, tanpa tahun).  Manuskrip tersebut mengisahkan tentang silsilah Raja- Raja Muna yang di katakan memiliki hubungan dengan kekerabatan dengan raja-raja Jawa ( Majapahit ), Konawe dan Buton.

Ketika Kerajaan Wuna dipimpin oleh Raja Wuna VI Sugi Manuru , terjadi reformasi secara besar-besaran dalam system pemerintahan dan hukum ( adat ). Sugi Manuru juga  meletakan   sendi-sendi dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Kerajaan Wuna yang di kenal dengan prinsip SOWITE ( untuk tanah air ). Sendi-sendi dasar tersebut menyangkut hubungan individu ( warga kerajaan ) dengan tuhan nya, individu dengan bangsanya dan hubungan antar individu. Prinsip dasar tersebut adalah :

 “ Hansuru-hansuru ana bhadha sumano kono hansuru liwu, Hansuru-hansuru ana liwu sumano kono hansuru adhati, Hansuru-hansuru ana adhati sumano tangka agama “ 

artinya biarlah badan ini hancur asalkan negara terselamatkan, Biarlah negara ancur asalkan adat tetap terjaga, biarlah adat hancur asalkan agama menjadi kuat.

Dengan memegang teguh prisip-prinsip dasar tersebutlah, kemudian Kerajaan Wuna tumbuh menjadi kerajan besar dan kuat sehingga beberapa rajanya berhasil menjadi raja di kerajaan  tetangga seperti kerajaan Wolio ( kemudian di rubah menjadi Kesultanan Buton), Konawe, Mekongga dan Selayar. Kuat dan besarnya Kerajaan Wuna tersebut tidak terlepas dari dukungan angkatan perangnya yang kuat dan terorganisir dengan baik. Untuk mengetahui seberapa besar dan solidnya angkatan perang Kerajaan Muna pada masanya, penulis akan menguraikannya sebagai berikut :

 

  •  Organisasi Angkatan Perang Kerajaan Wuna

Kekuatan angkatan perang suatu negara/ kerajaan dapat dinilai dari seberapa solid dan lengkapnya organisasi militer serta dukungan Alat Utama Sistem Pertahanan ( Alusista ) yang dimilikinya.  Suatu negara/kerajaan bisa dianggap sebagai negera/kerajaan yang kuat serta disegani  oleh negara/kerajaan tetangganya apabila memiliki angkatan perang yang solid, terorganisir, lengkap dan didukung dengan alusista yang mumpuni.

Bagaimana dengan Kerajaan Wuna ( Muna )? Apakah benar kerajaan itu pernah menjadi suatu kekuatan yang disegani pada masanya ? Untuk menjawab itu semua maka perlu ditilik  lebih jauh lagi mengenai struktur organisasi dan  system pertahanan  yang dimiliki nya. Berikut ini penulis menyajikan struktur organisasi dan system pertahanan yang pernah dimiliki Kerajaan Wuna, yaitu:

 

1.  Kapitalao( Panglima Angkatan Perang )

 Kapitalao adalah Panglima Angkatan Perang Kerajaan Wuna yang membawahi 6 komando militer masing-masing  1. Kapita ( Panglima Perang Darat ), 1 Kapitalao Matagholeo ( Panglima Armada Laut Bagian Timur ), 1. Kapitalao Konsoopa ( Panglima Armada Laut Bagian Barat )  dan 3 Bharata ( Komando Daerah Pertahanan Laut )   yang dikenal dengan Bharata Tolu Peleno.  

Tugas seorang Kapitalao adalah melakukan pengorganisasian satuan-satuan komando dibawahnya, bertanggungjawab atas kemanan dan pertahanan kerajaan dari gangguan musuh baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar, memastikan keamanan dan keselamatan Omputo ( Raja )  dan seluruh perangkat  kerajaan serta menyatakan perang.

KapitalaoMemakai daster dan baju kebesaran militer seorang Panglima Militer, bersenjatakan pedang kebesaran yang dijuluki La wiira ninggai meharono tapuaka (si penangkal isu, si penyapu badai bagai tsunami).
 Seorang Kapitalao harus memiliki kemampuan bela diri Ewa Wuna (Pencak Silat Khas Muna), sara dhiki dan balaba.

2.  Komando Pertahanan Laut

 Sebagai  kerajaan pulau yang dikelilingi lautan, Kerajaan Wuna menfokuskan system pertahanannya di daerah pesisir. Kedigdayaan masyarakat Wuna di lautan telah terbentuk  jauh sebelum terbentuknya kerajaan. Hal itu dapat dilihat dari gambar-gambar perahu  yang ada di dinding-dinding goa di situs pra sejarah Liangkobori. Menurut penelitian, gambar-gambar di situs liangkobori tersebut  telah berumur lebih dari 4000  tahun. Itu artinya bahwa jiwa kebaharian masyarakat wuna telah tubuh sejak 4000  tahun lalu.

Bukti lain adalah seperti yang digambarkan dalam epic I Lagaligo dan Sejarah Kerajaan Luwu, sebuah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan. Menurut bebera ahli, epic tersebut berkisah tentang situasi pada abad ke-14 masehi. Dalam Epic I Lagaligo secara tersirat dikatakan bahwa  Sawerigading, ( tokoh utama dalam manuskrip tersebut )    bersaudara sepupuh dengan Ri Mandri Langik Raja Wuna I yang di negeri Wuna bernama La Eli.  Kedua saudara sepupuh tersebut perna melakukan penaklukan di negeri Cina dan Jawa Wolio.  Setelah penaklukan tersebut, Sawerigading kembali ke negeri leluhurnya Kerajaan Luwu. Namun sebelum  itu mereka terlebih dahulu singgah di Pulau Muna yang dalam epic I Lagaligo dikatakan sebagai  ‘ negeri bawah’.

 Mungkin singgahnya Sawerigading dan pasukannya tertersebutlah yang melahirkan mitos tentang  terdamparnya kapal Sawerigading di kalangan masyarakat Muna, . Dalam mitos  tersebut  dituturkan bahwa terdamparnya kapal Swerigading tersebut sebagai asal mula terbentuknya Pulau Muna dan situs batu yang berbentuk sebuah kapal di Kota Wuna  dipercaya sebagai fosil kapal Sawerigading yang terdampar tersebut.

Sedangkan dalam sejarah Kerajaan Luwu dikatakan bahwa  We Tendriabeng, saudara dari Sawerigading pergi menemui pasangannya yang yang dikenal dengan Ri Mandrilangik di ‘negri bawah’. Kemungkinannya ketika  Sawerigang melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Luwu, saudara sepupunya yang bernama Rimandri Langik tetap tinggal di Muna bersama 40 orang lainnya pengikut mereka. Dalam catatan sejarah Kerajaan Wuna, Rimandrilangik atau di negeri Wuna di kenal dengan nama La Eli menjadi Raja Wuna I dengan gelar Bheteno Ne Tombula ( Baca Rene Vandeberg,2005 ).

Masih dalam sejarah Kerajaan Luwu di katakana bahwa Raja Kerajaan Luwu III yang memerintah sekitar tahun 1300 an masehi  yang bernama Simpuru Siang adalah anak dari We Tendriabeng, Sejarah Kerajaan Luwu ini memiliki kesamaan dengan sejarah Kerajaan Wuna, dimana anak dari pasangan La Eli gelar Bheteno Ne Tombula  Raja Wuna I dengan permaisurinya Wa Tandi Abe ( Wetendri Abeng ) gelar Sangke Palangga yang bernama Runtu Wulae kembali ke negeri leluhur ibunya yaitu Kerajaan Luwu dan menjadi raja di negeri leluhurnya tersebut.

Menurut  sejarah Kerajaan Luwu, Simpuru Siang atau Runtuwulae menjadi raja di Kerajaan Luwu sebagai sole watang ( raja pengganti ) sekitar tahun 1300 an Masehi. Ketika Simpuru Siang menjdi raja di Kerajaan Luwu, kerajan tersebut sedang dalam masa ke emasan di bidang kemaritiman. Hal  yang tentu saja juga dialami oleh  Kerajaan Wuna yang saat itu di pimpin oleh Raja Wuna II, La Aka Kaghua Bhongkano Fotu gelar Sugi Patola  yang juga merupakan saudara dari Runtu Wulae. Sekedar informasi, Runtu Wulae atau Simpuru Siang ( nama Runtu Wulae di Kerajaan Luwu ) anak dari La Eli gelar Bheteno Ne Tombula atau Rimandri Langik ( nama La Eli dalam Epic I Lagaligo ) dengan Wa Tandi Abe atau We Tendriabeng ( nama Wa Tandi Abe di Kerajaan Luwu dan Epic I Lagaligo ).

Dinobatkannya Simpuru Siang/ Runtu Wulae sebagai sole watang di Kerajaan Luwu akibat terjadinya kekosongan jabatan raja di kerajaan tersebut karena Sawerigading paman dari Simpuru Siang atau Runtu Wulae yang merupakan pewaris tahta di kerajaan tersebut menolak untuk dilantik sebagai raja. Sawerigading lebih memilih untuk meninggalkan kerajaan untuk menemui seora

ng gadis yang memiliki paras dan kecantikan yang sama dengan We Tendri Abeng yang tinggal dinegeri cina ketimbang menjadi raja.

Bukti yang paling fenomenal tentang kedigdayaan pasukan maritim Kerajaan Wuna adalah ketika putera Sugi Manuru Raja Wuna VI yang benama La Kilaponto ( kemudian menjadi Raja Wuna VII serta  Raja Wolio VI )  menghacurkan bajak  yang dipimpin oleh Labolontio. Sekedar informasi, bajak laut Labolontio ini sebelumnya telah berhasil membuat kekacauan di pesisir pantai mulai dari Pulau Selayar sampai pesisir Pulau Buton. Bahkan Kerajaan Wolio ( sebuah kerajaan di Pulau Buton )  terancam bubar akibat ulah Labolontio tersebut. Sebagai  raja kerajaan tetangga, Raja Wuna VI Sugi Manuru mengutus putera nya yang bernama La Kilaponto bersama  pasukannya untuk memerangi Labolontio.

Dalam sebuah pertempuran hebat di pesisir Barat  Pulau Buton, pemimpin bajak laut Labolontio berhasil di bunuh oleh La Kilaponto dan kepalanya di bawa kehadapn Raja Wolio kala itu yang bernama Lamule untuk meyakinkan raja negeri tetangga tersebut bahwa pengacau keamanan yang selama ini mengacu di Kerjaan Wolio telah terbunuh ( karena keberhasilannya tersebut, La Kilaponto di nobatkan menjadi Raja Wolio VI  setelah Lamulae Raja Wolio V meninggal dunia).

Setelah membunuh Labolontio dan menghancurkan pasukannya, La Kilaponto bersama pasukan angkatan laut Kerajaan Wuna  melanjutkan misi pembersihan terhadap sisa-sisa bajak  Labolontio dengan melakukan penyisiran di sepanjang pesisir yang pernah dikuasai oleh bajak laut tersebut. Bahkan untuk memastikan  bahwa seluruh pasukan Labolontio telah hancur lebur, maka La Kilaponto melakukan pengejaran sampai di pesisir  Darwin  Australia. Sebagai bukti kalau pasukan Kerajaan Wuna di bawah komando La Kilaponto pernah sampai ke Benua Australia adalah adanya daerah di benua tersebut yang bernama ‘Wuna Land’ atau  dalam Bahasa Muna berarti ‘Witeno Wuna ‘

Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa  La Kilaponto Raja Wuna VII dinobatkan menjadi Raja Wolio Vi beberapa saat setelah menjadi raja di Kerajaan Wuna ( 1538 ). Tiga tahun kemudian ( 1541 ), La Kilaponto mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Butuuni Darussalam yang kemudian lebih popular dengan nama Buton dalam sebuah kesepakatan antara lima kerajaan yaitu Kerajaan Wuna, Kerjaan Mekongga, Kerajaan Wolio, Kerajaan Kaledupa, dan Kerajaan Kabaena, sebagaimana kutipan berikut;

“ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah  sekalian Negeri,  karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Wuna dan Wolio, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 dalam Mahmud Hamundu, 2002).

.

Kesepkatan itu ditandatangani disebuah tempat di Kerajaan Wuna yang bernama Kape-peo sehingga kesepakatan itu diberi nama ‘ Aka ‘ ( Pakta ) Kapeo-peo ( La Ode Sirad Imbo : wawancara, 2012 ). Hal ini diperkuat oleh La Niampe dalam desertasi doctoral nya yang berjudul “Kajian Tasawuf Alam Kitab Undang-Undang Kerajaan Buton”. Dalam desertasinya tersebut  di katakan bahwa Kerajaan Wolio, Tiworo, Wuna, Kulisusu, dan Kaledupa merupakan kerajaan fatsal Buton. Dalam pembuatan desertasinya tersebut, La Niampe melakukan penelitian terhadap beberapa dokumen yang tersimpan di museum KILTV Denhag Belanda.  

1.2. Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopa ( Panglima Armada Laut Bagian Timur Dan Barat ).

Selain bertugas mengamankan wilayah pesisir laut Timur dan Barat serta melakukan koodinasi dengan Bharata Tolu Peleno, Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopajuga selalu mendampingi Omputo untuk memastikan keselamatannya.  Ketika Omputo melakukan kunjungan ke daerah-daerah ( kampong-kampung), Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopa selalu berada  di sisi kiri dan kanan Omputo. Setiap kali robongan Omputo tiba di suatu daerah, Kapitalao Matagholeo selalu berkata dengan suara menggelegar sambil mengaun- ayun kan Pedangnya: ‘Turu, turu,turu; laha lahae somogilino wampanino, bisaramo nando aitu; ainihae la wiira ninggai meharono tapuaka; turu, turu, turu (tunduk, tunduk, tunduk; siapa-siapa yang ingin menentang, katakanlah sekarang juga; ini dia si penangkal isu, si penyapu bagai tsunami). Sedangkan Kapitalao Kansoopa memegang Pandanga (Tombak Kebesaran) dalam sikap siaga penuh menunggu kalau-kalau ada penantang. Tujuan seruan tersebut adalah untuk memastikan bahwa seluruh masyarakat Kerjaan Wuna tetap setia dan patuh terhadap Omputo ( Raja ) Wuna. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kapitalao Matagholeo pada saat pelantikan Omputo yang telah disepakati oleh Sarano Wuna ( La Kimi Batoa, 1995 )

1.3.Bharata Tolu Peleno( Tiga Komando Pertahanan Laut )

Bharata merupakandaerah – daerah yang berada di wilayah pesisir dan Bandar Kerajaan Wuna.  Bharata di pimpin oleh seorang Kino Bharata. Mereka adalah pimpinan komando daerah militer di 3 Bharata yakni Bharatano Laghontoghe dan Bharatano Loghia di pesisir Timur serta Bharatano Wasolangkan di pesisir Barat. Kino Bharata   menggunakan pakaian kebesaran militer Sarano Wuna. Bharata Tolu Peleno di bentuk oleh Raja Wuna VII La Posasu yang memerintah dari tahun 1541.1551 ( baca: J.Couvreur, 1935:10).Pembentukan Bharata ini sebagai konsekuensi pengalihan jabatan Raja dari Raja Wuna VII La Kilaponto yang menobatkan diri sebagai Sultan Buton I ke adiknya La Posasu. Hal itu juga merupakan implementasi dari ‘Aka” Kapeo-peo dimana dalam salah satu dictum dari ‘Aka’ tersebut adalah pembagian wilayah kekuasan di lutan yaitu Wilayah pertahanan kerajaan Tiworo sampai Wawoni, Kerajaan Wuna sampai Sagori, Kerajaan Kulisusu sampai Murumako, dan Kerajaan Kaledupa sampai Batu Atas ( Koleksi Museum KILTV kode SBF. 168 R.2.15 )

 Tugas Bharata Tolu Peleno adalah melindungi wilayah Kerajaan Wuna dari  penyerangan musuh yang berasal  luar,  khususnya musuh yang datangnya dari laut  serta  menjaga keselamatan dan hak-hak  Omputo ( Raja )Wuna . Selain memiliki tugas di bidang pertahanan, Kino Bharata  juga dibebani dengan tugas untuk memungut bea masuk dan bea keluar dari para  pedagang  yang berlabuh di Bandar wilayah kerja para Kino Bharata. Tiap-tiap Bharata dilengkapi dengan alat utama system pertahan berupa perahu berlayar satu yang bernama bhoti dan koli-koli. Setiap prajurit Bharata dipersenjatai dengan lolabi dan leko ( senjata tradisional masyarakat muna sejenis  keris ) serta pandanga ( senjata tradisional berbentuk tombak )

Selain tugas menjaga pertahanan dan keamanan wilayah Kerajaan Wuna dan memungut bea pada kapal-kapal asing yang berlabuh di pelabuhan Loghia,Laghontoghe dan Wasolangka.   Bharata juga diberi hak otoritas untuk mengatur daerah ( kampong ) yang berada di bawah nya. Umumnya daerah-daerah tersebut berada di pesisir dan memiliki bandar. Adapun pembagian wiyayah – wilayah bharata tersebut adalah :

  •  Bharatano Loghia membawahi daerah-daerah yaitu Duruka, Banggai, Masalili, Mabolu, Mabodo, Watuputi, Bangkali, Ghonsume dan Kondongia. Semuanya ini disebut Siua Limbono, yang berarti ‘ sembilan daerah Khusus’ serta satu Bandar ( pelabuhan )  yaitu Bandar Loghia.
  •  Bharatano Laghontoghe membawahi daerah-daerah Lianosa dan Wakowanenta.
  •  Sedangkan Bharatano Wasolangka membawahi daerah-daerah  Marobo, Matombura, Matanapa, Labuandiri, Manggarai, Wabalomo, Wadolau, dan Waburanse serta satu Bandar Wasoangka      

2. Komando Pasukan Darat

2.1. PasukanPogala( Zeni Tempur );

Pasukan Pogala ( Zeni Tempur ), ialah regu perintis yang bersenjatakan tombak pemungkas (Gala). Pasukan ini betugas menyiapkan segalah infrastruktur ( jalan, kamp, dll ) untuk menunjang pergerakan pasukan lain ketika melakukan inflitrsi ke daerah musuh. Prajurit pasukan Pogala selain dibekali dengan ilmu bela diri ewa wuna dan  balaba, juga dibekali dengan kemampuan intelejen. Keberhasilan kerja pasukan pogala sangat menentukan keberhasilan operasi militer berikutnya. Selain bertugas memfasiitasi laju gerak pasukan lainnya, pasukan Pogala juga memiliki mobilitas yang besar sehingga mereka dapat bergerak cepat kedalam wilayah pertahanan musuh serta mampu bertempur satu lawan satu atau lebih dengan pasukan musuh. Olehnya itu, pasukan Pogala dibekali dengan ilmu bela diri ‘ ewa wuna, saradhiki dan balaba.

Sebagai regu perintis jalan, prajurit Pogala dibekali senjata lolabi, kapulu dan pandanga. Pasukan pogala beranggotakan  prajurit – prajurit  pilihan yang  mampu bergerak cepat. Pasukan Pogala dalam operasinya selalu membawa Tombi (bendera) yang akan ditancapkan di daerah musuh yang berhasil di infiltrasi dan  gendang Pomani (gendang perang) yang ditabuh sebagi pertanda dimulainya sebuah peperangan dan ketika merayakan kemenangan.

2.2. Sampu Moose/Kejora Hinggap ( Pasukan Kavaleri )

Anggota pasukan ini adalah prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kemahiran menunggng kuda dan menggunakan sejata berupa tombak. Pasukan Sampu Moose memiliki kemampuan gerak cepat dan mobile sekaligus befungsi sebagai penyerang dadakan atau pembuka jalan bagi pasukan infantry yang bergerak berikutnya. Untuk menunjang kinerjanya,  setiap prajurit pasukan kafaleri  dibekali dengan kemampuan bela diri ewa wuna, balaba dan kontau serta keterampilan menunggang kuda. Olehnya itu, setiap prajurit Sampu Moose ( Kavaleri ) mampu bertarung dengan menggunkan senjata atau dengan tangan kosong baik dari atas kuda maupun dibawah.

Pasukan Kavaleri Kerajaan Wuna dalam melakukan aksinya di bagi dalam regu-regu kecil yang terdiri dari 10 orang prajurit setiap regunya. Pasukan infantry berpakaian resmi Sampu Moose, menunggangi kuda berlonceng dan berkekang kuningan. Pasukan infantry memiliki kemampuan menginfiltrasi daerah pertahanan musuh dalam waktu cepat dan melakukan penyerangan yang tidak terduga oleh musuh. Pasukan Sampu Moose juga melakukan operasi sapu bersih di daerah musuh yang telah di infiltrasi untuk memastikan bahwa musuh benar-benar telah takluk.

2.3. Bobato Oaluno ( Batalion Infantri ); Pasukan ini merupakan prajurit pejalan kaki, bersenjatakan lolabi ( sejata khas muna sejenis keris ) dan dan pandanga ( tombak ) dengan pakaian kebesaran seseorang Adipati. Komandang pasukan ini merupakan  pimpinan di delapan Bobato  yaitu;  Labhoora, Lakologou, Lagadi, Watumelaa, Lasehao, Kasaka, Mantobua dan Tobea. Setiap komandan pasukan diberi kewenangan untuk memilih orang-orang pilihan di daerahnya masing-masing untuk di jadikan prajurit. Setiap prajurit infantry memiliki kemahiran bela diri ewa wuna serta balaba. Para prajuit tersebut selain dapat bertempur dengan menggunakan senjata, mereka juga mampu bertarung dengan tangan kosong. Prajurit infantri pada umum nya memiliki ilmu kekebalan terhadap senjata.

3. Bhelo Bharuga (Pasukan Pengawal  Raja)

 Selain memiliki pasukan tempur, militer kerajan Wuna juga memiliki pasukan khusus kawal istana. Adapun pasukan kawal istana yang dimiliki oleh Kerajaan Wuna adalah :

3.1.Wangkaawi (Regu pembawa senjata Kerajaan) berjumlah 12 orang terdiri dari : Tunani(perwira) 4 orang. Firisi (Opsir) 4 orang, Siriganti (Bintara) 4 orang. Wangkaawi merupakan pasukan pengawal Omputo ( Raja ) sehingga kemanapun omputo berada Wangkaawi selalu melakukan pengawalan. Jejeran Wangkaawi dalam melakukan pegawalan Omputo diatur sebagi berikut,  Tunani berada dibarisan depan, menyusul Firisi ditengah dan Siriganti dibelakang.

3.2.Kapita (Pimpinan Komando kawal Keraton); Pasukan ini bertugas melakukan penjagaan di kediaman ( istana/ Kamali ) Omputo. Kapita berpakaian kebesaran selaku Perwira Militer, bersenjata keris. Ketika Omputo melakukan kunjungan ke Daerah-daerah Kapita juga selalu menyertai Omputo dan berjalan disebelah kanan Wangkaawi.

3.3.Bhonto Kapili(perwira pilihan); terdiri dari 4 orang perwira. Seorang memayungi raj

a dengan payung kebesaran; dua orang ajudan dan seorang lainnya memegang gambi (kendaga) raja yang berisi sirih pinang serta perlengkapannya. Mereka berderet dibelakang raja.

3.4.Pasi(Prajurit Yudha); berpakaian seragam militer Sarano Wuna dan berenjata. Terdiri dari 40 orang, 5 staf masing-masing 8 orang.

3.5.Bhonto Litau (pemangku ProtokolerIstana); berpakaian resmi sebagai seorang pemangku dan bersenjata. Bhonto Litau merupakan staf istana Kerajaan Wuna yang selalu menyertai kemanapun Omputo berpergian. Ketika menyertai Omputo, Bhonto Litau berjalan berderet bersama barisan fato lindono.

B. GHUNTELI SEBAGAI DASAR MEMBANGUN SITEM PERTAHANAN DAN PEMERINTAHAN KERAJAAN MUNA

 system pertahanan dan system pemerintahan di Kerajaan Wuna menganut system pertahanan keamanan rakyat semesta ( HANKAMRATA ), maksudnya dalam menciptakan keamanan dan pertahanan kerajaan selalu melibatkan seluruh rakyat sebagai komponen  utama nya. Yang unik dari system yang dianut oleh Kerajaan Wuna ini adalah dimana dalam menyusun system pertahanan dan keamanannya dipadukan dengan system pemerintahan sehingga terjadi sinergitas yang harmonis antara keduanya.

Daam menyusun system yang terpadu tersebut, pemerintahan Kerajaan Wuna melalui Raja Wuna VIII La Posasu ( 1541 – 1551 ) menggunakan telur sebagai dasar filsafatnya ( lihat gambar dibawah ). Penggunaan telur  tersebut karena telur dianggap sebagai awal dari cikal bakal lahirnya mahluk baru.
 Untuk itu, system pertahanan dan pemerintahan Kerajaan Wuna disusun berdasarkan fungsi-fungsi dari pada telur. Untuk jelasnya dijelaskan sebagai berikut :


 Fungsi dari bagian-bagian telur tersebut yaitu:


 1. Cangkang Telur berfungi sebagai pelindung utama telur. Bagian ini memiliki pori-pori untuk keluar-masuknya udara. merupakan pasukan pertahanan kerajaan yang diterjemahkan dengan kampung/negeri siua liwu no yang berada disisi timur pulau Muna yaitu daerah  Duruka, Banggai, Masalili, Mabolu, Mabodo, Watopute, Bangkali, Ghonsume dan Kondongia. Sebagimana fungsi cangkang, siuwa liwuno berfungsi sebagai benteng/pelindung Kerajaan Wuna dari gangguan yang datangnya dari luar khususnya yang berasal dari pesisir laut kerajaan.


 2. Membran cangkang merupakan selaput tipis di dalam cangkang telur. Pada salah satu ujung telur, selaput ini tidak menempel pada cangkang sehingga membentuk rongga udara. kondisi ini merupakan fungsi dari Kapitalao Matagholeo ( Panglima Armada Laut Bagian Timur )yang mana markas besarnya di tempatkan di Loghia dan Kapitalao Kansoopa (( Armada Laut Bagian Barat )  yang di kenal dengan  Lawalangi.


 3. Rongga udara berfungsi sumber oksigen bagi embrio. diwakili oleh kampung-kampung penyuplai logistik seluruh rakyat kerajaan. Kampung-kampung ini merupakan wilayah yang subur dan dapat ditumbuhi segala jenis tanaman yang merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat kerajaan. Kampung- kampong itu adalah Mabolu, masalili, kontunaga dan sebagaian lawa.


 4. Keping germinal (zigot/sel embrio) merupakan calon individu baru. merupakan negeri yang terganbung dalam fato ghoerano ( empat daerah otonom )


 5. Kuning telur (yolk) adalah cadangan makanan bagi embrio. komponen masyarakat yang disebut bangsa phopano


 6. Putih telur (albumin) berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan dan sebagai cadangan makanan dan air. adalah para penasehat yang berasal dari imam dan pimpinan kampung yang mengitari kerajaan muna.

7. Kalaza (tali kuning telur) berfungsi untuk menahan kuning telur agar tetap pada tempatnya dan menjaga embrio agar tetap berada di bagian atas kuning telur. diterjemahkan sebagai para sara kerajaan. 



KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora
Featured Article