Ma'arif Setyo Nugroho
Ma'arif Setyo Nugroho Guru

Learning to write, writing to learn

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Ada yang Salah dengan "Bahasa Ngapak"?

17 Juni 2017   22:14 Diperbarui: 18 Juni 2017   22:03 576 8 4
Ada yang Salah dengan "Bahasa Ngapak"?
Sumber ilustrasi: ngopie.com

Sekilas bayangan Anda kemungkinan besar akan terbang menuju salah satu daerah di Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjar Negara, Kebumen), tergantung pada seberapa intens memori Anda menangkap momen atau kapan saat pertama Anda mendengar dialek khas orang-orang Jawa Tengah bagian selatan tersebut. Jika misalnya Anda baru sekali mendengar dialek itu dari orang Kebumen yang kebetulan aAnda jumpai di lingkungan Anda, maka di bayangan anda akan terlintas sosok si penutur lengkap dengan ciri fisik dan pakaiannya. 

Beda dengan kami, khususnya saya, orang Banyumas yang pernah mengalami "masa suram", masa di mana ketika dada ini menjadi lebih tinggi frekuensi degupan jantungnya demi mendengar istilah tersebut. Hingga kini teman-teman segenerasi dan beberapa generasi terdahulu masih ada yang merasakannya dan masih sulit untuk bisa move on pada euforia generasi masa kini yang justru demikian bangga menyandang status sebagai "orang ngapak". 

Sejalan dengan apa yang kami rasakan, kami pun yakin mereka yang menyebut kami sebagai "orang ngapak" masih memiliki memori itu dan juga masih ada yang memegang anggapan sebagaimana yang kami pikirkan. Bahkan hingga hari inipun, kami yakin bahwa masih banyak pihak yang menganggap "bahasa ngapak" adalah bahasa yang lucu, layak ditertawakan, bahasa yang melenceng dari pakem yang mereka pahami sepanjang usianya.

Mengapa Demikian?
Dulu, sebagian besar orang Jawa yang bertutur dengan bahasa ibu dialek Yogyakarta dan Surakarta (Mataraman), kami menyebutnya "wong wetanan", karena memang secara geografis mereka tinggal di sebelah timur Banyumas Raya (Purworejo ke timur), dan dialek mereka kami sebut dengan "Basa Bandek"(entah apa artinya kami sendiri tidak paham mengapa orang tua kami mengatakan demikian), mereka menyebut bahasa Jawa dialek Banyumasan sebagai "ngapak-ngapak". Apa sebabnya mereka mengatakan demikian mungkin karena telinga mereka menangkap pelafalan kata "apa" orang-orang Banyumas demikian dan lidah mereka tidak mampu untuk menyelaraskannya sebagaimana lidah orang Banyumas.

Hegemoni politik kerajaan Mataram mungkin yang membawa pengaruh itu, sebagaimana pendapat beberapa ahli Bahasa Banyumasan seperti penulis dan budayawan Ahmad Tohari, bahwa klaim Mataram sebagai penguasa Jawa menyebabkan budaya-budaya yang tidak selaras dengan pusat kerajaan dianggap sebagai budaya yang inferior (kasar dan rendah), termasuk bahasa Jawa dialek Banyumasan yang kemudian disebut dengan Ngapak.

Itulah, mengapa sebagian dari generasi kami dan beberapa generasi terdahulu merasa risih, malu dan terhina jika disebut sebagai orang ngapak, sehingga kami lebih sreg disebut sebagai orang Banyumas raya atau Penginyongan (ini yang secara resmi digunakan oleh orang-orang Lampung yang berasal dari keturunan orang Banyumas Raya dengan membentuk Paguyuban Penginyongan). Beberapa tahun lalu kami juga sempat sepakat membentuk grup facebook "Sinau Nulis Jawa" dengan embel-embel Panginyongan.

Seiring dengan perkembangan zaman yang dipercepat oleh teknologi, serta perbedaan pengalaman sejarah, secara perlahan dan pasti istilah ngapak mengalami transformasi nilai, dari istilah yang mengandung konotasi dan sekaligus makna denotasi negatif ke arah yang lebih positif. Tak bisa dipungkiri bahwa kini ngapak sudah diakui secara aklamasi sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, khususnya Jawa. Entah bagaimana dengan pengakuan resminya oleh pemerintah, sudah ada atau belum saya juga belum tahu.

Pro dan kontra adalah hal biasa, tinggal bagaimana mengelolanya agar transformasi tersebut tidak menghilangkan nilai-nilai positif yang sudah ada sebelumnya. Semangat generasi muda Banyumas Raya untuk bangga menjadi wong ngapak sebaiknya didukung dengan upaya pelestarian aspek-aspek pendukungnya, seperti bagaimana penulisan aksara Jawanya, musikalitasnya, puisinya, tariannya dan sebagainya. 

Demikianlah, sampai saat ini saya masih agak kurang jelas, sebenarnya yang terjadi dalam transformasi ini, perubahan apa pergeseran ? Di manakah bedanya? Mungkin ada di antara pembaca yang dapat menjelaskannya secara lebih ilmiah dan mendalam, mangga kula derekaken....

Matur kesuwun.

22 Ramadon 1438H