Hijau highlight headline

Pelajar SMP Olah Limbah yang Cemari Sungai Jadi Bioetanol

10 September 2017   00:37 Diperbarui: 10 September 2017   08:15 2943 4 5
Pelajar SMP Olah Limbah yang Cemari Sungai Jadi Bioetanol
Hafidin Soharun mengambil limbah marning dari sungai untuk dijadikan bioetanol di Kelurahan Pandanwangi, Blimbing, Kota Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.

Mahdi Romzuz Zaki (14) merasa cemas ketika melihat kenyataan sungai di sekitar rumahnya di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang tercemar limbah cair hasil pengolahan marning. Sudah sejak lama daerah tempat tinggalnya dikenal sebagai sentra produksi makanan ringan berbahan olahan jagung itu. Tujuh pabrik marning sudah berdiri selama tiga generasi di sekitar rumahnya. Selain marning siap konsumsi pabrik-pabrik itu juga menghasilkan limbah cair dari proses perendaman jagung.

Pabrik-pabrik itu memproduksi marning dari mulai jagung sampai marning siap konsumsi. Sebagian juga ada yang diolah setengah matang lalu selanjutnya dibeli dan diolah warga di rumah masing-masing untuk dijual sebagai cemilan. 

Namun pabrik-pabrik itu tidak memiliki tempat penampungan sehingga limbah langsung dibuang ke sungai. Sedikitnya setiap hari 16.000 liter limbah cair dibuang di sungai dengan cara dialirkan melalui pipa-pipa. Melihat itu Zaki cemas karena limbah-limbah itu dapat merusak ekosistem sungai. Mengingat limbah itu memiliki kadar power of hydrogen (pH) atau kadar keasaman yang cukup tinggi.

"Jagung direndam air kapur semalam lalu pagi dikupas kulitnya, air rendaman kulit ini yang dibuang ke sungai. Karena basah berbentuk cair kadar pH-nya tinggi kemungkinan besar bisa merusak ekosistem di sungai," kata Zaki di rumahnya di Jalan Simpang Teluk Bayur Nomor 20, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Sabtu (9/11/2017).

Melihat kondisi seperti itu, Zaki berinisiatif mengolah limbah cair itu menjadi bioetanol yang menjadi bagian dari biofuel. Ia kemudian mengajak Hafidin Soharun (15), koleganya sesama pegiat ekstra kurikurikuler kelompok ilmiah remaja (KIR) di SMPN 14 Kota Malang tempatnya bersekolah untuk bereksperimen. 

Ia memulainya dengan peralatan sederhana berupa erlenmeyer yang diberi selang untuk menyuling limbah cair itu. Mulanya limbah yang mengandung banyak karbohidrat itu difermentasi menggunakan asam sitrat untuk menurunkan kadar keasaman dan bakteri sacaromyces yang didapat dari ragi tape. Proses fermentasi itu selama dua pekan untuk menjadi bioetanol lalu disuling.

"Waktu pengupasan kulit (jagung) mengandung karbohidrat kalau difermentasi dari bakteri ragi tape bisa menghasilkan alkohol, seperti tape kalau didiamkan lama-lama kadar alkohol meningkat," ujarnya.

Mahdi Romzuz Zaki (kiri) bersama Hafidin Soharun dibimbing gurunya dalam membuat bioetanol dari limbah marning di SMPN 14 Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.
Mahdi Romzuz Zaki (kiri) bersama Hafidin Soharun dibimbing gurunya dalam membuat bioetanol dari limbah marning di SMPN 14 Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.

Dari ujicoba yang dilakukannya, 100 mililiter limbah marning bisa menghasilkan 3,5 mililiter bioetanol. Hasilnya pun lumayan baik, kadar alkohol bioetanol yang dihasilkan dari limbah marning itu cukup tinggi yang mencapai 86,5 persen sekali suling. Padahal sesuai teori kadar alkohol setinggi itu harus melalui setidaknya lima kali penyulingan karena rata-rata sekali suling hanya sekitar 20 persen saja.

Ia kemudian berhitung dari 16.000 liter limbah cair yang diproduksi tujuh pabrik marning di sekitar rumahnya kalau diolah akan menghasilkan 640 liter bioetanol setiap harinya. Tentu saja jumlah yang banyak dan dapat menjadi potensi sumber energi terbarukan. Bioetanol yang dihasilkan dari limbah marning ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan medis dan sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor seperti bensin yang berbahan baku fosil.

"Bisa buat penghemat bahan bakar kendaraan bermotor dengan dicampur ke bahan bakar yang takaran bioetanolnya tidak lebih dari 25 persen dari keseluruhan bahan bakar," ucapnya.

Mahdi Romzuz Zaki menyuling limbah marning untuk dijadikan bioetanol menggunakan tabung emneleyer. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.
Mahdi Romzuz Zaki menyuling limbah marning untuk dijadikan bioetanol menggunakan tabung emneleyer. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.

Zaki sempat mengikutkan hasil penelitiannya ini dalam Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat Kota Malang yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Pemkot Malang. Di lomba itu salah satu juri, Prof Dr Mohammad Amin Msi menyarankan agar ia selanjutnya dapat memproduksi massal bioetanol dari limbah marning itu. Mengingat bahan baku berupa limbah melimpah dan dapat mencemari lingkungan kalau dibiarkan. 

Namun mimpi remaja ini untuk mengembangkan eksperimennya menjadi produksi masal terbentur regulasi pemerintah yang mengharuskan produksi bioetanol harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat dengan biaya yang mencapai Rp 60 juta. Mengingat bioetanol memiliki kadar alkohol yang berpotensi disalahgunakan kalau tidak dalam pengawasan.

"Inginnya mengembangkan dan bisa produksi masal tapi biaya gak ada. Ini saja alat untuk penelitian saya beli dari uang juara II lomba Rp 900 ribu. Belum lagi kalau produksi masal itu alatnya destilasi untuk penyulingan bisa sampai ratusan juta," ungkapnya.

Mahdi Romzuz Zaki menunjukkan limbah marning dan yang sudah diolah menjadk bioetanol. FOTO: LUGAS WICAKSONO.
Mahdi Romzuz Zaki menunjukkan limbah marning dan yang sudah diolah menjadk bioetanol. FOTO: LUGAS WICAKSONO.

Di lebih dari 20 negara terutama negara maju seperti Amerika Serikat, hampir seluruh BBM kendaraan bermotor dicampur bioetanol dengan kandungan bioetanol 10 persen atau E10 sejak 2010 lalu. Bahkan terakhir bioetanol sudah bisa digunakan sebagai campuran bahan bakar pesawat. Kini 40 persen panen jagung di negara itu dimanfaatkan sebagai bahan olahan bioetanol.

Sementara itu, Indonesia menargetkan pada 2025 sebanyak 15 persen bioetanol dapat menggantikan penggunaan bensin. Pada 2006 lalu Kementerian Pertanian RI melakukan penelitian tentang penggunaan limbah jagung menjadi biofuel. Dari laporan penelitian itu disebutkan kalau limbah jagung cukup potensial digunakan sebagai salah satu energi terbarukan. Namun perlu kajian mendalam lagi agar hasilnya dapat lebih maksimal.

Di Kabupaten Malang sendiri hasil panen jagung surplus 100.000 ton pada 2016 lalu. Setiap tahunnya panen jagung di kabupaten ini mencapai 300.000 ton dari 35 hektar lahan yang merupakan salah satu panen jagung terbesar di Jawa Timur. Sebanyak 60 persen hasil panen jagung digunakan untuk makanan ternak dan sebagian sisanya untuk bahan makanan. 

Dengan melimpahnya hasil panen itu cukup potensial apabila limbah jagung dimanfaatkan untuk biofuel setelah buahnya dimanfaatkan untuk produksi makanan dan pakan ternak. Namun itu masih perlu penelitian lebih mendalam agar hasil dan keuntungan yang diperoleh lebih maksimal. (lugas wicaksono)