Survive di Era Web 2.0

30 Maret 2012 07:03:01 Dibaca :

Lowina Mindasari Br. Ginting



Survive di Era Web 2.0


Teknologi web 2.0 telah melahirkan revolusi di bidang internet. Semula informasi dari website berjalan searah, tapi sekarang semua orang bisa menjadi kreator konten di internet dengan berkembangnya layanan seperti blog dan situs jaringan sosial. Implikasi dari Web 2.0 adalah lahirnya media sosial yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan teknologi internet. Dengan media sosial, setiap individu dapat saling berbagi cerita dan informasi dengan menggabungkan teknologi berupa tulisan, gambar, video maupun audio.


Kebutuhan masyarakat semakin aktif dan kritis seiring dengan maraknya media sosial, seperti Twitter, Plurk, Facebook, dan YouTube. Dengan melihat kebutuhan masyarakat yang semakin besar dan kritis menuntut peran aktif dari jurnalis. Peranan jurnalis sangat penting dan bahkan bisa jadi lebih penting dibandingkan medianya sendiri. Jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai saluran. Tidak melulu di edisi cetak dan situs daring, tapi juga lewat Twitter, Facebook atau YouTube untuk mengunggah video atau foto lewat telepon genggam, yang saat ini sudah semakin mendukung konektivitas. Di ranah Twitter, misalnya, khalayak bisa mengikuti informasi jurnalis dan bukan organisasi tempatnya bekerja karena sifatnya yang lebih personal, serta mengutamakan reputasi dan otoritas. Informasi yang beredar harus dapat ditangkap dan disebarkan kepada khalayak luas melalui berbagai bentuk media sosial sehingga kualitas jurnalis dan media juga meningkat.


Misalnya YouTube Direct yang memungkinkan pengguna untuk mengunduh video secara langsung ke sebuah situs. Sebagai contoh, seorang jurnalis mengabadikan peristiwa kebakaran dan mengunduhnya langsung di YouTube. Ia bisa langsung menampilkan hasil beritanya secara langsung dan mudah di sebuah situs berita. Banyak peristiwa besar (seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, ledakan bom dan lain-lain), informasi tidak datang dari media tradisional namun dari warga yang mengirimkan pesan ke jaringan sosial seperti Twitter. Menjadi sesuatu yang biasa, ketika orang berada dalam sebuah peristiwa, mengambil “peran aktif dalam proses pengumpulan pelaporan, analisis, dan penyebarluasan berita dan informasi” (Bowman and Willis), dan mempraktikan apa yang disebut jurnalisme warga (citizen journalism).


Menurut Paul Bradshaw (2011), seorang ilmuwan Jurnalisme di Birmingham City University, Inggris, memprediksi tentang perkembangan jurnalisme pada masa depan. Ia menggambarkan perkembangan jurnalisme dalam 25 tahun, sebagai berikut: pertama, matinya surat kabar. Orang telah memprediksi bahwa surat kabar akan mati, ketika berkompetisi dengan media lain. Namun, sejauh ini, surat kabar masih survive, bukan  saja karena surat kabar adalah bisnis yang mendatangkan profit, namun juga karena surat kabar menawarkan benefit, lebih dari pendapatan iklan, dalam bentuk power dan status. Kedua, harga bergerak ke arah yang berlawanan. Fenomena ini ditandai dengan hadirnya surat kabar atau majalah yang diedarkan secara gratis. Namun, gratis tidak berarti kualitasnya rendah. Ketiga, jurnalisme akan menjadi karir seperti musisi, daripada pekerjaan. Berita berkembang terkait dengan reputasi dan jaringan dari penerbitnya, sejumlah jurnalis akan mendekati penerbit besar sebagai batu loncatan.Keempat, tidak ada lagi media yang berdiri sendiri. Organisasi dan industri berkomunikasi secara langsung dengan pelanggan, dan menggunakan konten sebagai cara untuk menarik mereka.  Kelima, jurnalisme online akan menjadi lebih terspesialisasi. Dalam hal ini, dibutuhkan ketrampilan untuk menangani infomasi yang makin bervariasi. Media akan mengembangkan berbagai cara untuk mengelola ruang redaksi, antara lain dengan melibatkan reporter yang bekerja secara multi-platform (teks, audio, video). Pada saat yang sama, alat produksi akan menjadi lebih sederhana.


Menyikapi perkembangan dunia digital tersebut University of Colorado, Amerika Serikat, telah menutup jurusan Jurnalisme (Journalism School). Mereka kemudian membuat program baru yang lebih berorientasi teknis, gabungan antara Jurnalisme dan Ilmu Komputer. Sekitar 30 jurusan jurnalisme seperti di University of Wisconsin, Cornell University, Rutgers University, dan UC Berkeley, juga mengubah kurikulumnya secara dramatis untuk menyesuaikan perubahan teknologi dalam komunikasi massa (Bennett Gordon, 2009). Satu pilihan lain yang bisa dilakukan seorang jurnalis dalam menanggapi perkembangan tersebut adalah menyesuaikan diri, mengikuti perkembangan teknologi.



Sumber:


· http://blogbetul.blogspot.com/2011/12/pr-20-mengadaptasi-perubahan-konsumen.html. Jumat, 16 Maret 2012, 12:55.


· http://internet-web.infogue.com/youtube_direct_2_0_era_kebangkitan_jurnalisme_publik Jumat, 16 Maret 2012, 12:55.


· http://www.masboi.com/2011/06/tantangan-jurnalisme-generasi-keempat/Jumat, 16 Maret 2012, 12:55


· http://blog.tempointeraktif.com/blog/jurnalis-dan-pers-20/16 Maret 2012, 13:40.


Lowina Mindasari

/lowina

mahasiswa Atma Jaya Yogyakarta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KENAIKAN HARGA BBM

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?