PILIHAN HEADLINE

Bara Kerikil Ridwan Kamil

19 Mei 2017 16:57:14 Diperbarui: 19 Mei 2017 20:23:18 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Bara Kerikil Ridwan Kamil
Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung / (Foto: www.mapasnews.com)

Saya bayangkan hari-hari belakangan ini, tidur seorang Ridwan Kamil tak senyenyak biasanya. Mimpinya tak seindah taman-taman yang ia bangun. Juga pikirannya, tak sedingin udara bumi Pasundan yang konon menurut M.A.W Brouwer, diciptakan Tuhan tatkala sedang tersenyum.

Musababnya tentu berasal dari sentimen negatif yang berseliweran di arteri virtual. Mulai dari kabar pembela Syi'ah dan kelompok LGBT, perkara pendirian gereja, hingga tudingan miring mengenai sikap pragmatisnya dalam menerima pinangan partai Nasdem, di gelaran Pilgub Jabar tahun depan.

Sejatinya jauh hari sebelum Emil, begitu kerap ia disapa, pada akhirnya memutuskan untuk mengamini dukungan partai Nasdem, nama Ridwan Kamil merupakan sosok media darling yang cukup fenomenal pasca Joko Widodo terpilih di Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014.

Sosok Emil yang merepresentasikan dirinya sebagai seorang figur pemimpin muda nan berintegritas, merupakan gambaran yang cukup tegas untuk dijadikan bahan berita berbagai media. Namun segudang prestasi dan popularitas yang berhasil ia bangun di Kota Bandung, kini mendadak dirisak oleh beragam kabar hoax yang melanda dirinya.

Kekecewaan Publik

Pada dasarnya, varian tuduhan negatif yang kini dialami oleh Emil diakibatkan satu hal saja; Ridwan Kamil menerima dukungan partai Nasdem untuk maju di Pilgub Jabar 2018.

Andai saja peristiwa pendeklarasian Emil beberapa bulan lalu urung terjadi, sudah barang tentu berbagai kabar miring yang kini beredar, takkan pernah ada.

Kultur masyarakat Jawa Barat yang dikenal religius dan fanatik terhadap nilai-nilai Islam (97% warga Jawa Barat beragama Islam), tentunya bersebrangan dengan platform yang diusung Nasdem, beserta partai bergenre nasionalis lainnya.

Maka tak salah, jika kemudian Teddy Muhtadin, seorang sastrawan Jawa Barat, menganalogikan hubungan Islam dan kebudayaan Sunda sebagai; "gula jeung peueutna" (gula dan tetesannya). Sangat sulit untuk dipisahkan.

Masyarakat merasa kecewa dengan keputusan Ridwan Kamil, karena dengan tanpa ba-bi-bu menerima secara gamblang dukungan Nasdem tersebut. Harapan masyarakat Jawa Barat sudah jelas, bahwa mereka menginginkan Emil kelak dipinang oleh partai beraliran Islam. Dalam hal ini, secara spesifik dukungan PKS, sebagai partai jawara dalam satu dekade terakhir di tanah Padjadjaran.

Gelombang kekecewaan masyarakat Jawa Barat makin menjadi, setelah menyadari bahwa partai Nasdem jualah yang pertama kali mengusung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilkada DKI lalu, dan kini terjerat kasus hukum penistaan agama.

Sebagai wilayah dengan kultur Islam yang kental, kenyataan ini diduga kuat menjadi bara penyulut dari puncak rasa kecewa warga Jawa Barat terhadap sosok Ridwan Kamil.

Dilematis

Pada posisi sekarang ini, Ridwan Kamil berada pada situasi yang terjepit. Di satu sisi, ia mesti mengembalikan citra positifnya (sebagai pemimpin Muslim berintegritas) di mata warga Jawa Barat, lewat berbagai klarifikasi yang ia buat di media sosial. Serta pada sisi yang lain, harus terus maju dalam meraup dukungan partai politik lainnya.

Dari desas-desus terakhir kita dapati kabar bahwa kepastian PKS dan juga Gerindra, untuk tidak mengusung nama Emil di Pilkada tahun depan hampir menjadi suatu hal yang niscaya. Ini jelas merugikan bagi Ridwan Kamil. Karena lumbung suara kelompok Islam konservatif, jelas sukar diraih.

Pada arena yang lain, pergerakan partai Golkar dengan kadernya, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, terus digencarkan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Golkar mengklaim telah mendapat kawan koalisi dengan sejumlah partai bernuansa Islam lain, seperti PKB, PAN, dan PPP. Disamping dukungan yang juga mengalir dari Hanura.

Maka dalam konteks hari ini, secara logis hanya partai-partai beraroma nasionalis saja, yang dapat dijajaki dalam membuka peluang diusungnya nama Ridwan Kamil. Partai-partai seperti PDI-P, dan Demokrat, selain Nasdem.

Kalkulasi politik semacam ini jelas tak menguntungkan bagi Ridwan Kamil. Meski kemudian ada wacana yang berkembang belakangan, bahwa kemungkinan dirinya berduet dengan Dedi Mulyadi, namun peluang ini dinilai masih terlalu prematur untuk keduanya.

Sebagai partai dengan peringkat tertinggi nomor dua di Jawa Barat, dan raihan 17 kursi DPRD, Golkar tentu tak akan begitu saja merelakan kader orisinalnya hanya ditempatkan sebagai Wakil Gubernur. Ego ini pula yang saya pikir cukup sulit untuk diterima partai di belakang Emil kelak.

Belajar dari Pilkada DKI

Gambaran politik Emil hari ini, sebenarnya hampir-hampir mirip dengan fenomena Ahok di Jakarta. Beberapa bulan sebelum menjelang Pilkada DKI dilaksanakan, elektabilitas Ahok begitu mendominasi di antara sosok lainnya. Namun pada akhirnya kita sama-sama mafhum, bahwa modal keunggulan elektabilitas di awal belum lah cukup untuk meraih suara konstituen.

Hari ini mungkin saja nama Ridwan Kamil masih mendominasi jajaran atas sosok paling populer di masyarakat Jawa Barat, berdasar pada hasil survei beberapa lembaga (Indo Barometer, Median, dan Instrat). Namun berbagai dinamika politik ke depan lah, yang sesungguhnya akan menjadi medan terjal perjalanan politik Emil menuju kursi Jabar-1.

Satu-satunya suara solid yang masih berada di barisan Ridwan Kamil sekarang, hanyalah kelompok (meminjam istilah Kuntowijoyo) Islam tanpa Masjid, sebagai basis kelompok Muslim urban yang moderat (jika tidak mau disebut liberal), di samping kantung-kantung suara kelompok minoritas.

Namun lagi-lagi, kita harus kembali mengingatkan seorang Ridwan Kamil akan proses kontestasi yang terjadi di DKI bulan lalu. Suara kelompok ini pun, pada akhirnya tak bisa menahan elektabilitas Ahok yang kian menurun dan mengalami kekalahan di Jakarta.

Pada akhirnya kelak, Ridwan Kamil harus berhadapan dengan politik identitas dalam wujud yang lain, persis dengan ramalan Huntington lebih dari dua dekade silam. Bahwa benturan dalam politik akan lebih terpolarisasi bukan hanya dalam hal ideologi, namun juga urusan identitas.

Meski memang jenis politik identitasnya tidak dalam bentuk yang dialami Ahok di Jakarta kemarin. Spektrum dan skalanya memang jauh lebih kecil, namun rasa-rasanya cukup mendalam. Bukan pada persoalan etnis, suku, dan agama. Melainkan dalam hal kultur atavistik kepartaian dan kepemimpinan di Jawa Barat.

Linggar Kharisma

/linggarkharisma

TERVERIFIKASI

Research Executive PT. Grup Riset Potensial (GRP) | Postgraduate Student of Political Science Padjadjaran University
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana