School is a Choice

29 Februari 2012 10:02:54 Dibaca :
School is a Choice

Membaca halaman-halaman pertama buku Smart Learning Technology- Menjadi Juara dalam Waktu Singkat By. Setiyo Widodo – sudah membuat kepala panas, reaksi yang selalu saya alami jika saya berhadapan dengan buku atau pendapat yang berbeda dengan apa yang sudah tertanam di kepala saya. Ini kali kedua saya mengalami seperti ini, yang pertama pada saat saya membaca pendapat dan sedikit berdiskusi dengan ibu Adi D Adinugroho-Horstman seorang lulusan PhD · Special Education/ Early Childhood Spec.Ed, Purdue University mengenai Multiple Intelligence yang bikin pusing di Indonesia, yang pada akhirnya mengubah persepsi saya tentang multiple intelegence, mengenai ini mungkin akan saya bahas lain waktu, jika riset kecil saya selesai. Jiaaah…(^.^)/.. Buku setebal 307 halaman ini selesai saya baca dalam sehari, dengan berusaha zero persepsi terlebih dahulu karena saya ingin membacanya murni dari persepsi penulis, supaya kepala saya tidak terlalu panas hehe.. Saya setuju dengan beberapa hal dalam buku ini, bahwa belajar harus dalam suasana yang positive, menyenangkan, bahagia, menarik, bergairah, sehingga seluruh kemampuan otak bisa terakomodasi dengan baik. Setiyo menggunakan teknik Neuro Linguistic Program untuk cara belajar, yaitu dalam kondisi alfa atau trance, menggunakan anchor atau semacam “cubitan” penyemangat, menuliskan tujuan dengan jelas dan rinci dan membacanya berulang-ulang setiap mau tidur atau sholat atau saat alfa, dan masih banyak teknik-teknik NLP lain yang digunakan. Menurut Setiyo tujuan belajar harus jelas, yaitu rangking 1, lulus UN dengan nilai terbaik, masuk universitas favorite dan lulus dari universitas dengan cum laude atau IP diatas 3, pengusaha sukses atau pegawai sukses. Setiyo beranggapan bahwa orang sekolah akan jauh lebih baik daripada orang yang tidak sekolah. Disinilah permasalahannya, menurut saya belajar menyenangkan tidak bisa dengan mudah didapat di sekolah, karena masih banyak sekolah Indonesia yang konservatif, pengawas sekolah konservatif, kepala sekolah konservatif, guru konservatif yang hanya mengetahui tiga metode pembelajaran yaitu ceramah, diskusi dan demonstrasi. Saya kurang sependapat dengan tujuan belajar ranking 1, karena setiap anak unik dan tidak dapat diperbandingkan. Karena setiap anak juara dengan indikator potensi uniknya masing-masing, bukan diperbandingkan dengan orang lain. Tujuan belajar semestinya untuk dapat memecahkan permasalahan hidup yang dihadapi oleh setiap anak kapan saja. Sehingga mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang sehat jasmani, rohani dan bijaksana. Menumbuhkan passion belajar sangat penting, karena mereka yang menyenangi belajar akan menjadi pembelajar sejati atau forever learner. Passion atau gairah belajar ini akan tumbuh, salah satunya jika mereka belajar sesuai kebutuhan mereka. Saya khawatir jika tujuan belajar hanya rangking 1, lulus UN dengan nilai terbaik dst, maka setelah itu semua dicapai mereka akan kehilangan gairah belajarnya. Saya melihat kebanyakan orang Indonesia, yang sudah mapan, pegawai negeri, pengusaha mapan, sudah tidak mau lagi belajar dan mengupdate pengetahuan karena mereka merasa yang diperoleh sudah cukup, dan sudah nyaman berada di comfort zone. Mereka lupa dengan kemungkinan “Who moved my cheese?”ingat cerita 2 orang tikus: Sniff dan Scurry, dan 2 orang kurcaci: Hem & Haw, suatu saat ladang mereka habis, pengetahuan berkembang pesat dan mereka tertinggal. Bisa di download disini Tahun pelajaran yang lalu, saya menggunakan teknik NLP ini untuk menyemangati anak-anak, memotivasi mereka, membuat mereka defense dengan judgment negative, dan memberikan persepsi positive untuk keberhasilan UN. Namun dalam perenungan, saya menyadari, saya melakukannya karena “putus asa”. Saya tahu tidak adil jika ukuran bodoh, pintar, sukses seorang anak adalah UN. Yang saya lihat adalah stereotip murid pintar dan sukses = rangking 1, lulus UN dst yang melekat di masyarakat kita, membuat anak-anak kehilangan kepercayaan dirinya, sehingga mereka akan menggunakan segala cara untuk mengejarnya termasuk curang dan mencontek. Tidak ada satupun murid saya yang tidak mencontek saat ujian, ketika saya tanya kenapa mencontek, karena mereka takut dimarah orang tua dan guru jika nilai mereka jelek dan takut dianggap bodoh. Jika anda mungkin akan menjawab “salahnya tidak belajar”. Jika saya memberi pengertian kepada anda, bahwa apa yang mereka pelajari terlalu banyak, abstrak dan tidak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, mungkin tanggapan anda adalah “itulah hidup, hidup memang berat dan sulit” atau yang sering saya dengar dari teman-teman guru jika menasihati anak-anak “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Bagi saya hidup itu pilihan, semua murid memiliki kebebasan untuk memilih. Jika mereka tidak nyaman belajar di sekolah, mereka bisa belajar di rumah, yang ada sekarang, sepertinya kita tidak memberi pilihan itu kepada murid-murid atau anak-anak kita. Walau saya guru, saya tidak dapat menampik kenyataan ini, saya tidak dapat memaksa seseorang untuk sekolah, bahwa jika tidak sekolah maka mati, bahwa sekolah itu candu, bahwa jika tidak belajar kimia, ekonomi, fisika, matematika, biologi, sosiologi, PPKn dan 9 mata pelajaran lainnya (karena semuanya rata-rata yang dipelajari ada 16) maka mereka akan hidup susah, bahwa tanpa selembar ijazah mereka tidak dapat berhasil dalam hidupnya. Menurut saya yang benar adalah tidak belajar maka “mati”, mati rasa, mati hati, mati ilmu, mati pengetahuan, mati cahaya. Sebenarnya belajar bisa dimana saja, kapan saja, apa saja dengan siapa saja, menggunakan apa saja. Tidak harus di sekolah, yang wajib dilakukan adalah belajar, bukan wajib sekolah. Murid pintar dan cerdas bukan hanya, jika rangking 1, lulus UN, IP cumlaude, pegawai kaya atau pengusaha kaya, namun bagaimana dia dapat menghadapi dan menjalani setiap langkah kehidupannya dengan bijaksana, dan pembelajaran untuk ini dapat diperoleh dimana saja, tidak hanya di sekolah. *Catatan : Saya membuka komentar untuk semua tulisan yang saya posting di blog ini, karena saya terus berproses dan saya akan terus berubah sesuai dengan perkembangan pengetahuan yang saya peroleh. http://untukanakbangsa.blogspot.com/2010/12/school-is-choice.html Sumber : Setiyo Widodo -Smart Learning Technology-Menjadi Juara dalam Waktu Singkat- Andreas Harefa – Sekolah tidak pernah cukup Andreas Harefa – Menjadi manusia pembelajar AS Neill – Summerhill School Mary Griffith – Belajar tanpa sekolah-Bagaimana memanfaatkan seluruh dunia sebgai ruang kelas anak anda M. Izza Ahsin – Dunia tanpa sekolah Munif Chatib – Sekolahnya manusia Roem Topatimasang – Sekolah itu candu Thomas Amstrong – Sekolah para Juara Adi D Adinugroho-Horstman - Multiple Intelligence yang bikin pusing di Indonesia

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?