PILIHAN

Cobaan Sakit Menyapa di Penghujung Ramadan: Jangan Sedih

18 Juni 2017 23:13:59 Diperbarui: 19 Juni 2017 01:53:59 Dibaca : 111 Komentar : 9 Nilai : 14 Durasi Baca :

Kejadian ini saya alami dua hari lalu. Dengan sangat terpaksa, saya membatalkan puasa karena sakit. Saya sudah tidak bisa memaksakan diri lagi. Ada rasa sedih timbul di hati. Waktu berbuka tinggal sedikit lagi, tapi saya terpaksa membatalkannya.

Sejak Sabtu pagi, lambung saya terasa sakit. Saya nekat tetap berpuasa. Ini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Momen seindah ini tak boleh saya sia-siakan.

Awalnya semua baik-baik saja. Saya masih bisa beraktivitas di luar rumah meski harus menahan sakit. Bahkan saya masih bisa datang ke studio untuk bersiaran. Allah menguatkan saya. Selama bersiaran, saya tidak merasakan sakit sedikit pun.

Setiba di rumah, barulah saya merasa tidak kuat lagi. Terpaksa sekali saya membatalkan puasa yang tinggal sedikit lagi. Rasa bersalah? Tentu ada. Sedih? Sudah pasti.

Selama beberapa jam, saya hanya bisa duduk dan berbaring di sofa. Saya tidak mengeluhkan rasa sakit pada keluarga. Selain karena keluarga saya mulai sibuk mempersiapkan Lebaran, saya tidak ingin menyusahkan dan membuat mereka sedih. Biarlah saya menyimpan rasa sakitnya sendirian. Justru saya menyesal tidak bisa membantu persiapan mereka. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk membantu mereka setelah sembuh dari sakit. So, mereka tak perlu tahu jika saya sakit.

Berjam-jam lamanya saya sendirian. Mencoba memulihkan diri, berdamai dengan rasa sakit, dan berdoa. Meski otak saya rasanya random, di kala sakit saya masih sempat mendoakan sesuatu yang saya inginkan. Berharap ada jalan keluar bagi saya untuk mendapatkan hal yang saya inginkan sejak lama.

Berdoa saat sakit ternyata lebih terasa khusyuknya. Saya merasakan Allah begitu dekat dengan saya. Saya yakin, cobaan apa pun akan berakhir dengan indah.

Kini segalanya telah membaik. Setidaknya lambung saya tidak sesakit beberapa jam lalu. Ternyata penyebabnya lantaran keletihan dan stress. Saya memang sedang memikirkan sesuatu, dan ada rasa sedih yang membekas di hati saya. Rupanya hal itu berpengaruh cepat bagi kesehatan fisik.

Cuplikan pengalaman itu bisa kita refleksikan dengan cara positif. Apa nikmat paling berharga? Kesehatan. Tubuh yang sehat membuat kita lebih optimal dalam beraktivitas, beramal, beribadah, dan berdoa. Sebaliknya, tubuh yang sakit menghalangi kita melakukan banyak kebaikan dan kegiatan positif.

Bila cobaan sakit menyapa kita di bulan Ramadhan, hilangkan rasa sedih kita dengan cara ini.

  1. Berprasangka baik pada Allah

Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kesanggupan hamba-Nya. Setiap cobaan pastilah mengandung hikmah dan makna mendalam. So, tetaplah berprasangka baik pada Rabb kita. Percayalah bahwa cobaan sakit yang diberikan Allah bukan berarti Allah tak lagi menyayangi kita. Akan tetapi, Allah ingin menaikkan iman kita. Siapa yang tidak mau naik derajatnya di mata Allah?

  1. Percayalah penyakit dapat menghapus dosa

Diuji sakit berarti dosa-dosa kita terhapus. Itu benar. Kita harus mempercayainya. Kita tak perlu sedih saat kita jatuh sakit di bulan penuh kemuliaan ini. Berbahagialah karena dosa-dosa kita gugur seiring sakit yang terasa.

  1. Yakinlah ada kebahagiaan di baliknya

Datangnya penyakit hanyalah awal untuk menyambut kebahagiaan dan keberkahan. Sakit semacam masa transisi bagi kita sebelum merasakan kebahagiaan. Pandanglah penyakit yang menimpa kita sebagai awal yang baik. Setelah sakit, akan datang kebahagiaan dan keberkahan yang sangat indah bagi kita.

Masih bersedih saat cobaan sakit menyapa?

Latifah Maurinta

/latifahmaurintawigati

TERVERIFIKASI

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana