Kompas.com
Kompas.com

Kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, ekonomi, tekno, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya.

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

"Perang" Duterte Vs Trillanes, Hancurkan atau Dihancurkan...

14 September 2017   15:30 Diperbarui: 14 September 2017   15:42 434 0 1
"Perang" Duterte Vs Trillanes, Hancurkan atau Dihancurkan...
Senator Antonio Trillanes dan Presiden Rodrigo Duterte

MANILA, KOMPAS.com - Setelah meluncurkan karir politiknya sejak dari balik sel penjara, Senator Filipina Antonio Trillanes mengaku yakin, apa yang terjadi kini bisa berakhir dengan perlawanan melalui kampanye tanpa henti, menentang Presiden Rodrigo Duterte.

Mantan Perwira Angkatan Laut yang memiliki rekam jejak upaya kudeta, datang dengan tekanan dan kampanye mengenai figur Duterte sebagai pembunuh massal yang korup.

"Orang ini adalah seorang sosiopat, dan dia memiliki pola pikir seorang pembunuh bayaran," kata Trillanes.

Di bidang kesehatan mental, sosiopat -yang dikenal juga dengan gangguan kepribadian antisosial- adalah sebuah kondisi seseorang yang tidak mampu beradaptasi dengan standar etika, dan perilaku yang berlaku dalam komunitasnya.

Baca: Remaja 17 Tahun Ditembak Terkait Narkoba, Picu Protes terhadap Duterte

Pria berusia 46 tahun itu mengungkapkan pandangannya dalam sebuah wawancara Rabu (13/9/2017), seperti diberitakan AFP.

Duterte memenangi pemilihan presiden tahun lalu di atas platform hukum yang oleh sejumlah pihak disebut brutal.

Dalam kampanye, dia menjanjikan sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memberantas obat-obatan terlarang di masyarakat, dengan membunuh 100.000 pedagang dan pecandu.

Dia bersumpah, begitu banyak mayat akan dibuang di Teluk Manila, sehingga ikan di sana akan tumbuh gemuk, karena diberi makan.

Duterte juga mengatakan, dia akan memaafkan polisi jika mereka dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi saat memberlakukan perang obat bius.

Sejak Duterte menjabat sebagai Presiden pada pertengahan tahun lalu, polisi telah melaporkan lebih dari 3.800 pembunuhan.

Sementara, ribuan orang lainnya telah dibunuh dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan.

Di sisi lain, banyak pula warga Filipina yang mencari solusi cepat untuk kejahatan itu, terus mendukung Duterte.

Berdasarkan hasil jajak pendapat, Duterte mendapat dukungan mayoritas di kedua majelis Kongres untuk langkahnya ini.

Diktator

Namun, iklim ketakutan juga muncul. Para kritikus memperingatkan Presiden yang bertekad membungkam pembangkang, dan menyeret Filipina kembali ke era diktator yang terjadi di negeri itu selama tiga dekade.

Hingga akhirnya, sebuah revolusi "People Power" menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos.

Duterte melakukan langkah antisipasi terhadap gerakan kelompok yang menentangnya.

Dia membungkam Hakim Agung di Mahkamah Agung, Komisi Hak Asasi Manusia, Gereja Katolik, dan media-media.

Duterte dan para pendukungnya melancarkan kampanye negatif yang mendeskriditkan para pihak yang menentang kebijakan pemerintah. 

Senator Leila de Lima, yang merupakan salah satu kritikus paling vokal bersama Trillanes, bulan Februari dipenjara karena tuduhan perdagangan narkoba.

Baca: Turuti Perintah Duterte, Senator de Lima Akhirnya Serahkan Diri ke Polisi

Kelompok hak asasi manusia menggambarkan penahanan de Lima sebagai tahanan politik.

Pada akhir pekan, Duterte membuat Trillanes menjadi target utama barunya.

"Saya akan menghancurkannya atau dia akan menghancurkan saya," kata Duterte kepada wartawan.

Ini terjadi setelah Trillanes menyerang anak Duterte, Paolo, dengan mengajukan pertanyaan di Senat minggu lalu, tentang dugaan bahwa dia terlibat dalam perdagangan narkoba.

Baca: Ini Jawaban Wakil Wali Kota Davao, Putra Duterte, atas Tuduhan Pembunuh Bayaran

Trillanes menuduh Duterte "junior" menjadi anggota kelompok gengster Cina yang mengimpor sejumlah besar methamphetamine ke Filipina.

Dia menantang Pablo untuk menunjukkan tato di punggungnya, yang diduga akan membuktikan bahwa dia adalah anggota geng.

Paolo Duterte mengakui bahwa dia memang memiliki tato di punggung, namun menolak menunjukkannya, dan juga menolak semua tuduhan terhadapnya.

Sejak pernyataan "menghancurkan" Duterte, para pejabat dan pendukung media sosialnya telah menuduh Trillanes menyembunyikan kekayaan yang tersembunyi di rekening bank rahasia.

Baca: Duterte Mulai Bungkam Oposan, Terbitkan Surat Penangkapan Leila de Lima

Trillanes membantah tuduhan tersebut. Dia mengatakan kepada AFP, ini adalah bagian yang diharapkan dari serangan balik Duterte, dan hal itu lebih buruk lagi.

"Duterte benar-benar memerintahkan saya, dia ingin saya terbunuh, selain dari fakta dia menginginkan kasus dibuat, sehingga saya bisa dipecat (di penjara) seperti Senator De Lima," kata ayah dari dua remaja tersebut.

Meskipun dia telah memerintahkan begitu banyak pembunuhan, Duterte telah berulang kali menegaskan tidak akan bertindak di luar hukum, atau mengizinkan pembunuhan yang disponsori negara.

Baca: Benarkah Putra dan Menantu Duterte Terlibat Jaringan Narkoba?