JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Landasan dalam Berpikir

19 Juni 2012 17:42:31 Dibaca :
JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Landasan dalam Berpikir
muslimdaily.net

JIL (Jaringan Islam Liberal) adalah Pandangan Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, dan setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan dalam satu dan lain cara adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

Dalam ulang tahun JIL, Ulil Abshar Abdalla sebagai tokoh penting menyatakan : Al-Qur’an dan Sunnah harus dipahami ulang jika keadaan berubah,. Karena bagi kaum Liberal adanya keyakinan bahwa teks Al Qur’an dan Sunnah yang dipandang sebagai ”penghenti perbincangan” dan ”palu” terakhir dalam memutuskan segala persoalan adalah hal yang tidak sehat bagi kehidupan beragama, selain itu dia juga mengungkapkan dalam pidatonya bahwa ”jika hukum-hukum agama dipandang sebagai ketentuan yang telah selesai dan tidak boleh diutak-atik, maka kita akan dihadapkan pada jalan buntu, pada dead-end.” Bujubuneng, cerdas amat ni anak.

Hebat kan pak mas bro dan buk mbak sis Presiden nya JIL ini, sampai-sampai ahli tafsir dan ahli sunnah pun dipertanyakan asas kepentingan nya didalam menafsir ayat dan sunnah oleh Kang mas kita ini, bahkan Al Qur’an dan Sunnah yang dijadikan pegangan bagi kaum muslim pun digugat keberadaan nya dan diminta untuk mengikuti perkembangan zaman. Wah, wah luar biasa si Ulil, kalo menurut gw mah Abang Ulil kita ini lebih hebat dari Yahudi itu sendiri (Yahudi kan kaum yang diberikan kelebihan dengan kepandaian mereka). Kalau lah Abang yang satu ini lebih pandai dari Yahudi, ga bisa dibayangin betapa luar biasanya si Ulil ini.

Tapi ngomong-ngomong tafsir nya Ulil apaan ya? adakah kaum Liberal yang nangkring di mari bisa beri gw pencerahan?

Ngebaca apa itu JIL dan Pidatonya Kang Mas Prabu Ulil Abshar Abdalla gw kok jadi mikir, ni anak keselek apa? jangan-jangan Abang Ulil kita ini lagi kerasukan Manusia kali ya? buset dah. Kalau lah pola pikir kaum Liberal yang tidak ingin dibatasi dan mesti mengikuti perkembangan zaman, ngapain Cuma sibuk ngurusin soalan Agama Islam? Kenapa ga mikirin gimana caranya dari botol bisa menjadi rudal aja? atau si Abang Ulil kita ini memproklamirkan Agama baru, yang disesuaikan dengan pola pikir nya sendiri? gitu aja kok repot (kata nya Gus Dur).

Kalau boleh jujur gw bukan lah ahli agama, bukan juga santri yang biasa mempelajari kitab kuning ataupun alim ulama maupun ahli ibadah apalagi ahli tafsir. Gw ya gw, bukan siapa-siapa, gw Cuma pengen sedikit bertukar pikiran dengan ahli-ahli yang mengaku Liberal yang menuhankan pemikiran dan menginginkan Keyakinan (Agama) itu mengikuti perkembangan zaman.

Begini Pak bro dan Buk mbak sis, menurut apa yang gw fahami (kalau salah tolong dikoreksi), didalam agama ISLAM sudah diberi ketentuan landasan dalam berpikir, sepengetahuan gw ada 2(dua) landasan didalam menelaah dan mengkaji agama Islam untuk memperoleh kesepakatan dalam hati lazim dipergunakan 2(dua) petunjuk dalil sebagai landasan pokok, yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Nah loe, dah pernah ngebaca atau ngedenger belom, kalau gw udah gak tau kalau sampean?.

Apa itu dalil Aqli dan apa itu dalil Naqli?

Kalau udah masuk soalan dalil kita mesti serius ni pak mas bro dan buk mbak sis, yang dimaksud dengan Dalil Aqli adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan akal untuk berpikir, merenung dan mempelajari segala permasalahan yang berhubungan dengan Islam, kalau didalam filsafat biasa nya disebut dengan Logika. Misalnya mengapa Al-qur’an itu diturunkan didalam bahasa Arab, kok nggak pake bahasa Jepang, Jerman, Inggris atau bahasa Indonesia saja? nah, mengapa hayo? ada yang bisa Bantu? Jawaban sederhana nya, karena Al-qur’an itu diturunkan di tanah Arab, kenapa diturunkan di Arab bukan nya di Jepang, Inggris atau Indonesia saja? karena zaman Jahiliyah itu bermula nya dari Arab, dan nabi-nabi yang di utus berbangsa Arab jadi ga mungkin jikalau Al-qur’an itu diturunkan menggunakan bahasa Jepang, Inggris apalagi bahasa Indonesia, mana ngarti tuh Abu Jahal ngan Abu Lahab.

Sedangkan dalil Naqli ialah semua perkara yang bersifat kodrati, alami dan segala sesuatu yang tidak dapat dibantah, tanpa diterangkan dan tak perlu dibuktikan secara konkret. Misal nya, mengapa gw laki-laki dan sampean itu perempuan Tentu saja pertanyaan seperti ini tidak bisa ditemukan jawaban nya oleh kekuatan akal manusia yang sangat terbatas, kalau istilah gw sampai botak kepala sampean ga bakalan ketemu jawab nya.

Dah tahu kan dengan pengertian Dalil Aqli dan Dalil Naqli, nah sekarang gimana cara nya mencerna sesuatu permasalahan yang secara logika tidak bisa diterima oleh akal kita, misalnya mengapa ikan itu hidup nya di Air, atau Ular kok tubuhnya panjang, atau mengapa Angsa dan Jerapah itu berleher panjang? nah loe, bisa pak mas bro Ulil Abshar Abdalla mikirin kayak ginian?

Begini penjelasan nya pak mas bro dan buk mbak sis, setiap masalah yang datang kepada kita, kita tanggapi dan kita kaji dan telaah dengan kekuatan akal, kalau ternyata akal kita mampu menganalisa maka secara rasional kita terima. Namun kalau suatu persoalan yang kita hadapi ternyata tidak terpecahkan oleh akal dan tidak terjangkau oleh pikiran kita, itulah yang nama nya irasional karena terbatas nya kekuatan akal. Jadi irasionalitas sebenarnya bukanlah semata-mata karena permasalahan nya tidak masuk akal, tapi karena akal manusia terbatas kemampuan nya dan terbatas pula penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki nya.

Jika kita berkaca pada apa yang diungkapkan oleh Kang Mas Prabu Ulil Abshar Abdalla yang mengacu pada Logika sebagai acuan nya, maka hal ini tentu saja berkaitan dengan keterangan yang dimaksudkan oleh Dalil Aqli, tapi jikalau timbul permasalahan didalam penerapan dan pengertian yang berkaitan dengan Agama Islam yang tidak bisa dicerna dengan Logika seperti yang Kang Mas Prabu Ulil Abshar Abdalla pertanyakan sepatutnya kitakembali berpatokan dengan apa yang diterangkan oleh Dalil Naqli. Jikalau Kang Mas Prabu Ulil Abshar Abdalla kembali ke dalil Naqli, tiada mungkin akan terjadi kontroversi, masalahnya Kang Mas Prabu kita itu tiada pernah kembali ke Dalil Naqli namun tetap saja Ngotot dengan menggunakan Logika sebagai acuan utama, padahal diatas sudah diterangkan bahwa akal pikiran manusia itu sangat terbatas kemampuan nya dan dijelaskan bahwa sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal kita bisa jadi disebabkan oleh kurang nya ilmu pengetahuan yang kita miliki, atau memang sesuatu itu sudah menjadi kodrat yang memang sudah seperti itu adanya.

Bila kita mengacu pada pandangan tentang pernyataan kang ulil yang mempertanyakan hukum agama sebagai panduan terakhir dan tidak bisa di utak-atik lagi, sekarang gw mau nanya, Jikalau terdapat permasalahan didalam kehidupan beragama maupun kehidupan sehari-hari kita mau berpatokan kemana? kembali lagi ke hukum manusia (seperti UU), Ataukah diselesaikan secara logika? Ataukah kang ulil sendiri yang akan menerapkan hukum yang berkaitan dengan soalan ini? Jikalau kembali kehukum manusia, yang membuat hukum/peraturan nya siapa? bila diselesaikan secara logika, emang nya sama logika sampean dengan logika gw? Kalau lah kang Ulil sendiri yang akan menerapkan hukum/peraturan nya?  tu si Ulil emang nya  siapa? weleh,weleh.

Gitu aja dulu dah, kalau mau dijelasin panjang lebar banyak soalan  yang bisa dibahas dari JIL ini.

Berhubung gw lagi kagak Ngeh nulisin soalan JIL panjang lebar (kaga mood gw ngurusin JIL ini), gw pikir cukup sekian dulu.

Lain waktu saja kita sambung lagi.

~ Salam ~

Pangeran Koeboe

/koeboe

TERUS MENCOBA UNTUK TETAP LEBIH COOL DARI PADA COOLCAS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?