Tabrakan Model Cantik yang Berujung Revolusi

14 Oktober 2012 13:59:12 Dibaca :

Di saat Jakarta akan disibukkan dengan pelantikan Gubernur baru, Jokowi-Ahok, besok, Senin 10/15/2012. Publik digemparkan dengan kasus tabrakan seorang model majalah dewasa. Diketahui dari berbagai sumber yang saya lihat dan baca, model cantik ini menabrak hingga 7 orang, termasuk polisi. Banyak juga berita-berita yang muncul kemudian tentang detil siapakah gerangan orang ini, apa motifnya, dan bagaimana polisi menginterogasinya.

Saya tidak ingin membahas detil mengenai siapakah pelaku tabrakan dan lain-lain. Saya ingin beropini mengenai maraknya kasus tabrakan di negara kita ini. Mari mulai dari yang terdekat, misalnya, tadi pagi saya nyaris tertabrak sepeda motor. Kasusnya saya sudah berhati-hati menyeberang jalan, dengan asumsi kendaraan akan datang dari arah kiri, maka saya menengok ke kiri. Adapun kendaraan yang datang dari kanan, macet, dan tentu saja tidak usah melihat jeli ke sebelah kanan, karena jarak saya dengan mobil ketika menyeberang hanya puluhan centimenter. Namun ternyata saya lupa, bahwa ada keberadaan motor yang suka nyalip-nyalip diantara kemacetan. Akhirnya, saya pun dicaci-maki oleh pengendara sepeda motor. Siapa yang salah ? Berusaha mengalah, mungkin keduanya memang salah, tapi saya rasa kejadian seperti saya tadi pagi tidak hanya pernah ditemui oleh saya, banyak warga negara yang untuk menyeberang jalan dengan hati-hati saja susah, bahkan ada yang nyawanya terenggut hanya karena ketidaknyamanan fasilitas dan kesembronoan pengguna jalan.

Ketidaknyamanan Fasilitas

Pejalan kaki, pengguna sepeda, sepeda motor, angkutan, mobil pribadi dll. saya rasa dapat dipastikan semuanya tidak puas dengan fasilitas yang ada. Tengoklah trotoar yang sudah menjadi tempat jualan-nya pedagang kaki lima, sejak saya TK hingga sekarang tidak juga ditertibkan --diberi tempat berjualan yang lebih baik, karena mereka sebenarnya juga tidak ada yang ingin menyalahgunakan fungsi trotoar. Bagaiamana dengan angkutan umum ? ke-eksistensiannya yang kurang memadai, asap knalpot yang tidak bersahabat, kaca yang pecah-pecah, mesin mobil yang sudah uzur, bangku yang bolong-bolong sudah menjadi biasa --bukanlah namanya angkot/bis kota kalau tidak begini.

Kesembronoan Pengguna Jalan

Seperti pengalaman yang saya utarakan tadi. Apalagi fakta sepeda motor dengan volume-nya yang bejibun dan nyaris tak terbendung di jalanan (apalagi kala macet, dengan body-nya yang kecil dan ramping) dapat nyalip-nyalip seenaknya. Kalau sudah begini, poin aturan sudah banyak yang langgar, jumlah pelanggar pun terlalu banyak, tidak sebanding dengan jumlah polisi lalu-lintas yang bertugas di daerah rawan macet.

Lalu apa yang dapat kita lakukan ?

Solusi apa yang kamu tawarkan, mahasiswa ?

Saya pikir, semua hal yang berkaitan dengan --kalau boleh saya sebut-- kegagalan sistem transportasi ini tidak lepas dari kegagalan sistem-sistem lainnya dalam pengaturan bernegara ini. Sistem perekonomian, pengaturan kebijakan dalam negeri, sistem hukum negara turut mempengaruhi kerusakan sistem transportasi di negera ini. Sehingga solusi yang saya kedepankan sebagai mahasiswa, dan merupakan solusi yang saya yakini merupakan solusi tuntas dan tidak pragmatis adalah ganti sistem. Revolusi.

#pergerakanpemuda

28 Oktober 1928-2012, butuh karya nyata, bukan sekedar wacana. Dimulai dari perubahan pemikiran menuju revolusi dunia.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?