HIGHLIGHT

Obrok Penggugah Sahur Rasa Dangdutan di Kampung Saya

26 Juli 2011 18:04:09 Dibaca :

Kenangan tentang puasa di kampung, memang tak ada habisnya. Banyak yang khas, yang kadang di kota besar tak ada. Kota, dengan akselerasi gerak modernitasnya, kadang tak menyediakan sesuatu yang khas, yang berakar pada satu tradisi yang turun temurun. Sayangnya, di kampung pun, yang khas kian memudar, diganti tren zaman, yang kadang mendesak tak sanggup ditolak. Seperti yang mau saya ceritakan ini.



Kala saya kecil, di kampung saya, yang di ingat kala sudah memasuki bulan ramadhan adalah grup penggugah saur. Grup ini punya tugas mulia, membangunkan warga kampung agar segera bersiap sahur, agar tak tergesa oleh mepetnya dengan waktu imsyak.



Memasuki pukul satu malam, grup penggugah saur, bersiap diri. Anggota grup adalah pemuda kampung. Mereka kala warga kampung di lelap dan didekap mimpin, sibuk menyiapkan perangkat musik pembangun sahur. Orang kampung mengenalnya dengan sebutan grup obrok.



Alat musik yang disiapkan ada sebuah bedug kecil. Bedug kecil ini ditaruh disadel boncengan belakang sebuah sepeda. Di ikat pakai karet dan nantinya akan dituntun seseorang. Satu orang lainnya akan bertindak sebagai penabuh bedug. Tentunya yang sudah terbiasa dan terlatih memainkannya.



Bedug kecil itu disebut jidur. Alat musik lainnya adalah rebana, tetabuhan yang mirip di pakai grup qosidahan. Orang kampung biasa menyebutnya sebagai genjring. Terbuat dari kayu melingkar berdiam meter tiga puluhansentian. Alat tepuknya dari kulit sapi. Di setiap sisi kayu yang berfungsi sebagai tabung di beri kecrekan yang terbuat dari logam besi tipis.



Tim pemusik obrok ini akan berkeliling kampung. Biasanya, begitu obrok dibunyikan, anak-anak kecil akan berdatangan di antar ayahnya atau ibunya masing-masing dan setia mengikuti ke mana tim obrok berkeliling. Kampung akan jadi ramai setiap tim obrok beraksi dan lewat. Lagu sunda, karena kampung saya, bahasa ibunya adalah bahasa sunda, maka lagu berlanggam bahasa sunda yang di perdengarkan.



Tapi kini, setelah era telepon genggam dan player CD, lagu sunda mulai tersingkirkan. Alat musik obrok pun, mulai ditambah. Tak lagi hanya genjring dan jidur. Namun kini, sudah dilengkapi dengan gitar listrik lengkap dengan betotan bas, dan seruling. Jidur dan genjring tetap dipertahankan. Menarik memang, karena ada modifikasi dan kombinasi yang modern dengan yang masih tradisional.


Namun yang disayangkan, kini lagu sunda jarang didendangkan lagi. Berganti dengan lagu-lagu dangdut mutakhir. Grup obrok pun kini lebih berasa dangdutan.



Alat modern kini mulai pula di pakai. Diesel kecil, diandalkan sebagai daya penghasil setrum bagi gitar listrik, juga bagi sound sytemnya, yang mulai memakai sound modern. Dulu hanya mengandalkan speaker tua. Sound system di angkut pakai gerobak. Dulu, setrum hanya mengandalkan beberapa aki.



Dan tradisi nyawer pun, mengiringi perubahan grup obrok. Kini tak segan warga yang dilewati grup obrok memesan lagu. Dengan amplop berisi sedikit lembaran rupiah, lagu favorit dipesan untuk dimainkan grup obrok. Apalagi,bila sudah ramai yang datang mudik dari kota, yang memesan lagu dangdut, lumayan membanjir. Sedikit rejeki bagi para pemain grup obrok. Amplop pesanan datang, obrok pun kian berasa dangdutan.



Kala sahur tiba, kadang grup obrok juga tak kesulitan untuk mendapatkan makanan sahur. Karena, sering ada warga yang menjamu grup obrok untuk sahur bersama. Mendekati lebaran, yang menjamu sahur bersama itu lumayan banyak.



Bahkan, saat mendekati seminggu menjelang lebaran. Grup obrok penggugah sahur itu juga, beraksi lagi. Tapi bukan untuk membangunkan warga untuk segera bersiap bersahur. Namun aksinya di gelar, menjelang buka puasa. Mereka juga akan berkeliling kampung, tapi dilengkapi pasukan yang akan datang dari rumah ke rumah, membawa karung kecil, untuk meminta sumbangan beras dari warga. Sifatnya sukarela, tak memberi pun tak apa-apa. Nantinya, beras yang terkumpul itu, akan dijual, dan hasilnya dibagikan merata pada semua tim obrok penggugah sahur, sekedar rejeki lebaran dari pengabdiannya membangunkan warga. Jika ada sisa berlebih, uang dari saweran dan beras sumbangan, akan di pakai membeli atau memperbaiki alat musik obrok yang sudah mulai rusak.



Sampai sekarang, ketika saya sudah merantau di ibukota, grup obrok itu masih eksis. Saat saya mudik ke kampung dan masih tersisa beberapa hari sebelum lebaran tiba, saya masih menikmati suguhan aksi mereka. Pemainnya sudah banyak berganti. [Telkomsel-Ramadhanku]



Agus Supriyatna

/kangagus

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Hanya Orang Sangat Biasa Saja
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?