Wisata Bandung dan Sekitarnya pada 1930-an Menurut Catatan Mooi Bandoeng dan Majalah Olahraga

08 Juni 2012 14:04:31 Dibaca :
Wisata  Bandung  dan Sekitarnya pada 1930-an Menurut Catatan Mooi Bandoeng dan Majalah Olahraga
Kawasan Braga 1930-an tempat hang out favorit.

Bandoeng! Met de mooie huizen

En je rijken bloemenschat

Met je flinke, ruime straten

Ben je, meiner trauma stadt!

Bandoeng, met je mooie winkels

S ‘ avonds schitterend verlicht

Bandoeng! Waar de kou een blos legt

Op het bleek, verwelkt gezicht!

Bandung tempat Anda bertemu rumah-rumah yang elok, kaya dengan bunga-bunga, di antara  jalan-jalan yang besar.  Anda seperti bertemu sebuah kota dalam mimpi. Bandung adalah  tempat di mana  Anda menikmati  toko-toko indah Anda pada malam hari yang cemerlang. Bandung di mana dingin menerpa dan  menempatkan malu pada wajah yang  pucat layu.

Demikian kira-kira arti   dua bait puisi dari Jan Visser, seorang penulis tetapi juga pelancong melukiskan keindahan Bandung dalam puisinya berjudul Mooi Bandoeng. Bandung, Puisi total enam bait ini dimuat  dalam Majalah Mooi Bandoeng No.2  bulan Agustus 1933 mencerminkan betapa menariknya kota itu  untuk turis pada masa Kolonial.

Pada 1933 itu Bandung sudah memiliki  tempat hiburan yang menyenangkan seperti Bioskop Elita dengan lampu-lampu benderang di malam hari.   Bioskop ini hanya salah stau dari sekitar sepuluh bioskop yang ada di Bandung masa itu dan dimiliki jaringan bioskop bernama Elita. Bioskop lainnya adalah Luxor Theater, Roxy, serta Concordia.

Majalah Mooi Bandoeng, edisi No 4, Oktober 1933 mengkritik kebijakan pemerintah yang membiarkan monopoli bioskop.  Seharusnya bioskop dimiliki beberapa kelompok agar masyarakat bisa mendapatkan harga yang terbaik.  Sementara menurut Mooi Bandoeng edisi Juli 1935  Bandung pada pertengahan 1930-an disukai pelancong terutama pada  akhir pekan, terutama yang datang dari Batavia dan sekitarnya.

Tempat rekreasi lain di dalam kota ialah Bandoeng Zoologisch Park (kebun binatang).  Tiket masuk untuk orang Eropa 25 sen Gulden dan orang Oosterlingen (Timur Asing, maksudnya orang  Cina dan Arab) 15 sen Gulden dan pribumi 10 sen Gulden. Bagi anak-anak sekolah dikenakan tarif tiap 30 anak sebesar 1 Gulden  (Mooi Bandoeng, No. 10 April 1934).

Museum Geologi di Rembrandstraat  ( sekarang Jalan Diponegoro ) pada 1930-an  sudah kunjungi oleh publik.  Museum dibuka setiap Senin, Rabu dan sabtu pukul 10 hingga pukul 12. Para pengunjung bisa melihat batu-batuan vulkanologi, hingga tengkorak manusia purba dan binatang pra sejarah.  Gedung ini dibangun pada 1928 dan selesai 1929.

Selain Museum Geologi, Bandung  para pencinta museum masa itu, juga bisa berkunjung ke  Museum Pos, telegrap dan Telepon yang buka setiap hari kerja antara pukul 7 pagi hingga pukul 14.00. Sementara untuk hari Sabtu, museum ini buka antara pukul 7 pagi hingga 12.30. Museum ini terletak di Katstaart  dibangun pada 1920 dengan arsitektur Italia. Perancangnya adalah J.Berger.  (Mooi Bandoeng, September 1935, Bandung Jacktour.com)

Bandung  mempunyai  tiga tempat pemandian, yaitu Centrum (Sekitar Jalan Belitung sekarang) , Cihampelas dan Dago. Pada masa itu kolam renang  hanya  bisa dinikmati  orang Eropa.   Bandung juga mempunyai perpustakaan yang dibuka setiap hari Senin hingga Jumát  jam 8 hingga satu siang dan Sabtu hingga pukul 12.  Buku-buku yang menjadi koleksinya di antaranya berasal dari masa Raffles (Mooi Bandoeng, Agustus 1935)

Hotel-hotel yang menjadi favorit orang-orang Eropa terutama hotel besar seperti,  Grand Hotel Homman dan Grand Hotel Preanger.  Fasilitas yang ditawarkan hotel-hotel ini memang komplit untuk ukuran masa itu.  Dalam advertensinya di Mooi Bandoeng edisi Juni 1935 disebutkan setiap kamar mempunyai kamar mandi sendiri dan dilengkapi pendingin listrik (AC masa itu), serta minuman anggur dalam botol  besar  (jika menghendaki).

Kedua hotel ini mempunyai event atau acara hiburan rutin.  Grand Hotel Homman misalnya disebutkan menawarkan pertunjukkan musik setiap  malam pukul 19.30 hingga 21.00 di lobby. Begitu juga Grand Hotel Preanger mempunyai acara musik tiap hari pada jam yang sama ditambah pertunjukkan matine tiap hari  Minggu pukul 11.30 hingga 2 siang (Mooi Bandoeng No 1, Juli 1933).

Namun terdapat sejumlah hotel lebih kecil namun tetapi megah  lainnya seperti Hotel Du Pavillon, Hotel Sumatra, Hotel Wihelmina, Hotel Pension Lux Vincet. Flat complex Olcou Park.  Jumlah penginapan jenis pension ini puluhan tersebar di berbagai sudut kota.  Untuk tempat makan yang paling banyak disebut pelancong  Maison Bogerijen di Jalan Braga dan Indisch Restaurant (utara alun-alun kemungkinan BRI Tower sekarang), serta Palais Royal.

Braga memang tempat hang out favorit masa itu yang juga disebut dalam majalah wisata Mooi Bandoeng karena tersedia sejumlah toko untuk mereka yang suka wisata belanja seperti  toko buku Van Dorp. Begitu juga toko-toko busana dan toko serba ada.  Namun yang  paling disukai para pelancong adalah makan  di teras restoran sambil melihat suasana di jalanan Braga.

Pada 1930-an tidak semua hotel milik orang Eropa. Paling tidak ada satu hotel milik pribumi, yaitu Hotel Station  yang berlokasi di Maarschalklaan  No. 3 Bandung (sekarang Jalan Stasiun Selatan).  Pemiliknya adalah seorang bernama  Moelia Atmadja.   Hotel  ini mempunyai dua kelas. Kelas dua dengan tarif untuk satu orang per malam sebesar F 1, 50 (Gulden) , sementara dua orang sebesar F 2,50 (Gulden).

Sementara  bagi para tamu yang memilih kelas satu untuk satu orang per malamnya dipungut biaya  F 2 dan untuk dua orang F 3.  Untuk menarik minat pelancong hotel ini menawarkan tarif  berdamai untuk mereka yang tinggal tujuh hari.   Jangan terkejut, karena tamu yang menginap mendapat ekstra makan pagi, yaitu kopi susu, roti dan telur. (Sumber: Majalah Olahraga, Tahoen ke I, December 1937).

Pelancong dari kalangan pribumi dengan kantung pas-pasan  untuk mencari makan bisa mengunjungi Asahi Restaurant di Residen Weg.  Rumah makan ini disebutkan meneydiakan makanan Eropa, Tionghoa dan muslim.  Bahkan mereka bsia menikmati es krim, es lilin. Bagi yang ingin mencoba makanan Jepang, Sukiyaki bisa didapati (Majalah Olahraga Desember, 1937).

Daya tarik Bandung pada pertengahan 1930-an makin bertambah dengan diadakannya berbagai festival dan even. Di antara even yang cukup besar adalah festival tahunan yang diselenggarakan 29 Juni hingga 14 Juli 1935. Acaranya antara lain pameran produk bangunan, pameran Bali-Lombok, lalu lintas dan pariwisata, pesta rumah makan, kabaret dan tari-tarian.  Festival semakin smearak dengan bunga. Rangkaian acara juga memasukan pertunjukan seniman dari berbagai negara hingga musik dari korps kavaleri Hindia Belanda  yang berkeliling kota.  (Mooi Bandoeng, Juli 1935).

Wisata Sekitar Bandung

Sejumlah kota tujuan wisata sekitar Bandung juga punya hotel, Lembang mempunyai Grand Hotel lembang dan Hotel Restoran Montgane.  Cimindi punya Rustoord Cimindi, Cisarua punya Hotel Soonnenberg, Pangalengan punya Badhotel Cileunca, Bungalow Bendrif Tjitere dan Hotel Pension T’Klafje.  Cimahi mempunyai hotel Berglust, Hotel Sonnenberg dan Pension Tyhoff.

Pada 1930-an tempat wisata favorit yang paling banyak disukai pelancong adalah Tangkubanprahu. Untuk berkunjung ke tempat wisata ini otoritas memungut bayaran  F 2,5 (Gulden)  per mobil dan satu Gulden untuk mereka yang memakai sepeda motor.  Untuk mencapai Tangkubanprahu dibutuhkan waktu tiga perempat jam dari Bandung (Mooi Bandoeng, No 11 Mei 1934).

Tangkubanprahu  pernah dikunjungi  tamu agung dari  Surakarta.  Pada 11 februari 1935 Susuhunan Surakarta dan Ratu Hemas diberitakan berkunjung.   Rombongan melihat keindahan Kawah Ratu didampingi oleh Wedana Lembang  (Mooi Bandoeng, edisi Januari-Februari 1935). Pada 16 Mei Mangkunegara ke VII didampingi Ratu Timur dikabarkan menginap di Hotel Homman dan Sabtu 18 Mei mengunjungi Tangkubanprahu ditemani Manager Hotel Homman bernama HR. Vleugees. Rombongan datang dengan 5 mobil kira-kira pada pukul 8 pagi (Mooi Bandoeng, Juni 1935).

Kawah Putih di Ciwidey pada masa yang sama juga sudah terkenal.  Sekitar 1913 permintaan balerang menjadi tinggi karena dipercaya punya khasiat bagi kesehatan. Pencarian lokasi yang ada balerangnya ini  antara lain ditemukan di Ciwidey (Mooi Bandoeng, Maret 1935). Dewan Pemerintahan Bandung mendirikan sebuah stasiun penelitian hutan di tempat wisata itu.  Ciwidey adalah tempat wisata yang juga kerap dikunjungi wanita Eropa. Mereka dilaporkan  gemar memakai celana panjang dengan sweater atau kemeja ketika berjalan-jalan (Mooi Bandoeng, September 1933).

Sekitar tiga perempat jam perjalanan dengan mobil paar pelancong dari Bandung bisa mencapai air Terjun Cisarua (bukan Ciasarua di kawasan Puncak). Lokasinya di kawasan Cimahi membuatnya kerap disebut Curug Cimahi.  Air terjun itu terletak di Desa Jampudipa yang  dipimpin seorang bernama Haji Hasan.  Pada waktu itu para pelancong tidak dipungut bayaran (Mooi Bandoeng, September 1935).

Pada 1935 Gunung Papandayan juga obyek wisata yang banyak dipromosikan terutama oleh Serikat Bandung Vooruit untuk mengaget para wisatawan. Mereka yang bukan anggota untuk masuk melihat kawah dikenakan pungutan F 2,50 yang dibayarkan pada seorang mandor untuk menjaga mobil.  Namun untuk anggota Bandung Vooruit (semacam komunitas wisata masa itu) tidak dikenakan biaya (Mooi Bandoeng, edisi Agustus 1935).

13391642281789688408
Grand Hotel Lembang 1930-an

Pada Oktober 1935 rombongan dari Kabupaten Bandung mengunjungi tempat wisata baru yaitu tempat pemandian air panas  Maribaya, Lembang  sebagai bagian promosi untuk para pelancong.  Yang ditawarkan adalah air panas yang mengandung mineral yang bermanfaat bagi kesehatan. Pengelola tempat wisata ini adalah R. Mohamad Enoch yang juga menjabat Direktur Pekerjaan air dari Kabupaten Bandung (Mooi Bandoeng, November 1935).

Obyek wisata lain di Lembang adalah Tempat Peneropong Bintang Boscha yang ramai dikunjungi setiap Sabtu.  Kawasan Jayagiri  dan Situ Lembang sudah menjadi favorit para pelancong yang punya hobi trekking.

Untuk transportasi bagi para pelancong sejak 1931 tersedia sekitar 40 mobil taksi yang tarifnya berdasarkan jam.  Untuk Bandung-Dago untuk dua jam pertama penggunanya dikenai tariff F 2,5 (Gulden), Bandung-Tangkubanprahu F 7 (Gulden) untuk dua jam dan Bandung-Curug Sinulang  F 6,50 (Gulden) dan Bandung-Curug  F,30 (Gulden) juga per dua jam. Pada 1931 itu  terdaftar sekitar 4000 mobil pribadi, 35 ribu sepeda dan 1800 delman di kota Paris Van Java ini. (Mooi Bandoeng, Mei, 1934).

Irvan Sjafari

Kredit Foto:

Old Braga (http://rintomedi.wordpress.com)

Grand Hotel Lembang (http://tyawar.multiply.com/)

irvan sjafari

/jurnalgemini

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?