irvan sjafari
irvan sjafari Jurnalis

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta headline

Angkot Bertahan atau Punah?

7 Agustus 2017   21:57 Diperbarui: 8 Agustus 2017   09:43 959 9 5
Angkot Bertahan atau Punah?
Ilustrasi angkutan umum/Foto: kompas.

Setelah Metromini tinggal menunggu waktu untuk menjadi sejarah menyusul oplet, helicak dan bemo, angkutan umum kota (angkot) berada dalam keadaan "survival for fittest" (meminjam istilah Charles Darwin), bertahan untuk cocok atau punah. Metromini -juga kopaja- memang harus tunduk pada kehendak zaman karena keberadaan Trans Jakarta, belum lagi MRT yang kalau tak ada aral melintang beroperasi pada 2019. 

Metromini, Kopaja dan sebetulnya juga angkot citranya kerap tidak baik karena ulah sejumlah oknum supir hingga persoalan internal manajemen. Sebagian dari trayek angkutan umum seperti PPD dan Kopaja sudah berintegrasi dengan Transjakarta dengan baik sebagai feeder dan merubah citra naik angkutan umum aman dan nyaman.

Sebetulnya yang saya amati angkutan umum harusnya juga bisa bertahan karena bisa mendapatkan limpahan penumpang dari Transjakarta pada titik tertentu, seperti KAB 61, Mikrolet 20 mendapat penumpang yang turun dari Halte Pertanian.

Ada juga angkot yang mengisi jalur yang tidak akan dilalui Transjakarta, seperti KWK 01 dari Pondok Labu hingga Blok M melalui jalur "kampung", jalur Benhill atau Karet menuju Roxy, jalur Ragunan ke Taman Mini atau Cijantung dan masih ada beberapa lagi.

Apalagi angkot di Depok, Bekasi dan Tangerang yang menghubungkan Jakarta dan pemukiman masih bertahan untuk waktu yang belum bisa diprediksi. Hanya manajemen koperasi masing-masing yang akan menentukan mereka bertahan atau punah.

Kalau manajemen perusahaannya bisa saja menahan diri tidak serakah dengan membatasi jumlah angkutan umum sesuai dengan jumlah penumpang, maka saya kira angkot tertentu di Jakarta dan pinggiran Jakarta bisa bertahan. Bahkan dengan keberadaan MRT dan kereta commuter pun angkot tertentu bisa sinergi. 

Sepeda Motor dan Ojek Daring

Hanya saja angkot punya tantangan lain. Awalnya hanya kemudahan orang bisa memliki motor tanpa uang muka sekalipun, membuat hitung-hitungan biaya jadi irit. Dengan bensin 2 liter, kawan saya yang berprofesi marketing mengaku bisa mengendarai sepeda motor dua hari dengan jangkauan dan waktu tempuh yang efesien. Kalau dengan angkutan umum biayanya bisa 2-3 kali lipat.

Kini angkot masih menghadapi keberadaan ojek online atau daring setahun ini populer seiring dengan kukuhnya smartphone dengan aplikasi beragamnya. Di beberapa kota di Jawa Barat supir angkot, ojek tradisional dan becak berdemo menuntut dilarangnya ojek daring.

Pemerintah Kota Tasikmalaya resmi melarang operasional ojek berbasis aplikasi di Kota Tasikmalaya dengan dalih belum memiliki izin sepertinya mengabulkan tuntutan itu (Pikiran Rakyat, 27 Juli 2017). Pemogokan juga terjadi di Sukabumi pada akhir Juli 2017 [1]. 

Pemogokan juga terjadi di Bogor, namun berkat mediasi yang dilakukan Wali Kota Bima Arya terjadi perdamaian dengan kesepakata, di antaranya Ojek online diminta tidak berkumpul menggunakan fasilitas umum untuk mengambil penumpang [2].

Bila diamati maka supir angkot yang paling gigih melawan berada di kota-kota kecil. Penumpang di kota-kota ini memang tidak banyak. Tanpa ojek online pun dengan keberadaan sepeda motor, penumpang sudah jauh berkurang.

Triawan, (28 tahun), seorang supir angkot 61 Jurusan Country (Cinere) -Pasarminggu mengaku sebelum adanya ojek online dia bisa mendapatkan Rp200 ribu untuk di bawah pulang narik setengah hari. Sesudah adanya ojek online jumlah itu bisa didapatkan narik hingga sore hari bahkan hingga mahgrib.

Di luar setoran Rp 100 ribu-an per hari dia juga harus membayar berbagai pungutan resmi dan tidak resmi yang totalnya berjumlah Rp 20.000 

Bagaimana Angkot Bersiasat?

Sejumlah pemilik angkutan umum menyiasati dengan mencari terobosan lain. Di antaranya pemilik angkot 61 mengandalkan pengangkutan sayur yang sulit dilakukan ojek online. Biasanya dilakukan malam hari hingga dini hari.

Sopir yang saya tanyakan yakin bahwa mengangkut dagangan sayur butuh ilmu sendiri. Misalnya saja menyusun sayuran mana yang ada di posisi bawah dan mana yang di tengah dan mana yang di atas tidak sembarangan orang bisa.

Sebagian lagi seperti seorang supir angkutan KWK 12-C, Ragunan-Cimpedak mengaku setorannya dikurangi. Yang tadinya Rp140 ribu menjadi Rp110 ribu. Tentu resiko bagi pemilik angkot yang kini sedang menghadapi aturan peremajaan dengan DP Rp23 juta dan angsuran di atas Rp 3 juta per bulan. Tetapi begitulah kalau ingin bertahan hidup.

Integrasi dengan Transjakarta Mulus?

Cara lain lagi berintegrasi dengan Trans Jakarta. Sejumlah rute KWK sudah melakukan hal itu. Pemprov DKI Jakarta menyebut setiap KWK yang diasumsikan mendapatkan keuntungan Rp 180 ribu sebelum integrasi per hari mendapat Rp206 ribu per-hari. 

Ketua Umum KWK La Ode Djeni Hasmar membenarkan bahwa 6.350 angkutan KWK yang akan terintegrasi dengan bus Transjakarta. Program integrasi ini memberikan keuntungan bagi KWK. Bagi penumpang Trans Jakarta mereka tinggal menunjukkan kartu khusus hingga tidak perlu bayar lagi untuk sampai ke pemukiman. Tapi bila tidak naik Transjakarta akan dikenakan tarif biasa, [3].

Namun masih ada tanda tanya bagaimana konsep ini nantinya berjalan. Apakah ke depannya smeua KWK akan diintegrasikan atau nanti semua angkot masuk Jakarta juga diperlakukan hal yang sama? Apakah cukup dengan satu kartu untuk memenuhi end to end atau firs mile to last mile?

Kalau itu terjadi akan menarik. Yang saya bayangkan dan saya inginkan naik angkot dari Cinere ke kantor saya di kawasan Jakarta Pusat cukup dengan Rp3500. Wow! Asalkan aturan ditegakkan, kendaraan pribadi tidak boleh masuk jalur Bus Way semacet apa pun jalan umum, maka waktu tempuh bisa dikurangi dan biaya transport bisa ditekan.

Kalau memang seperti apa yang di benak saya, maka ojek online dan taksi online akan dapat kompetitor yang ketat. Mereka tidak lagi alternatif termurah.

Usia SIM Dinaikan Menjadi 21 Tahun

Lalu pemerintah tinggal persulit kepemilikan kendaraan pribadi, misalnya dengan menaikan usia SIM jadi umur 21 tahun. Supir angkot pun tidak akan mungkin lagi dibawa oleh supir yang usianya remaja apalagi "anak alay" ketika membawa Metromini bikin jantung berdebar dan menimbulkan masalah. Para "sopir alay" ini biasanya berkeliaran malam hari.

Tidak mungkin remaja "unyu-unyu" itu akan nembak. Karena usia 21 tahun dan 17 tahun mudah dibedakan. Anak SMA tidak akan naik sepeda motor-kecuali diantar orangtuanya. Manajemen angkot dibenahi dengan peremajaan hingga lebih nyaman. 

Bus sekolah ditambah dan diperbaiki manajemennya dan sistemnya, aman dan nyaman, hingga orangtua punya alternatif lain untuk tidak mengantarkan anaknya dengan mobil pribadi. Tawuran akan diminimalisir, kalau perlu bus sekolah ada penjaganya seorang aparat keamanan atau mantan.

Ditambah dengan kebijakan sekolah lima hari, maka praktis tidak ada waktu untuk "nongkrong" bagi anak sekolah. Mereka akan pulang ketika sekolah usai karena pasti lelah. Sayangnya kebijakan lima hari ini sulit untuk semua sekolah dan itu diskusi sendiri. Saya hanya berandai kalau itu berjalan "waktu iseng" anak sekolah terutama yang SMP dan SMA akan berkurang.

Nasib Sopir Angkot

Namun sopir-sopir yang saya tanya menyebutkan seperti halnya pemilik metromini merugikan mereka yang sedang melakukan peremajaan. Dengan kerjasama ini sopir memang digaji (yang besaran masih dikaji). Hingga sopir tidak perlu memikirkan setoran.

Sebagian senang karena mereka tidak perlu memaksakan mengejar penumpang hingga melanggar lalu lintas, memikirkan setoran, hingga tidak perlu lagi bayar timer, apalagi pungutan liar. Hanya saja Triawan sopir yang saya tanya merasa UMR DKI sekitar Rp 3,5 juta terlalu berat bagi yang berkeluarga. 

Sebagian sopir lain merasa "kebebasannya" terganggu. Mereka kurang suka bekerja seperti kantoran harus delapan jam. Kesempatan untuk jadi sopir tembak tertutup sudah. Sekalipun sopir yang "kebebasannya" terampas ini juga senang karena pungutan di jalan akan berkurang. Ada juga sopir yang mempertanyakan sampai usia mereka kuat.

Intervensi pemerintah masih juga diperlukan misalnya dengan memberi angkot bensin harga khusus dengan kuota yang dibatasi sesuai rasio jarak dan waktu tempuh mereka. Sehingga cara ini bisa menghindari pemilik bermain jual bensin. 

Angkot masih dibutuhkan karena bisa melalui jalan kecil yang sulit dilalui Transjakarta dan memang perlu kebijakan yang cermat dengan data yang akurat untuk bisa mengintegrasikan mereka sistem transportasi massal. Dengan intervensi pemerintah angkot bisa 24 jam untuk rute tertentu.

Saya percaya untuk Jakarta satu masalah saja, yaitu transportasi bisa diselesaikan Gubernur DKI yang baru ini akan berimbas mengurangi masalah lain seperti kemacetan, mendongkrak perekonomian, mengurangi masalah sosial.

Saya juga percaya angkot tidak akan menjadi sejarah kalau kebijakannya tepat.  

Irvan Sjafari

Referensi:

  1. http://regional.kompas.com
  2. http://regional.kompas.com
  3. http://megapolitan.kompas.com