Juneman Abraham
Juneman Abraham Dosen

Juneman Abraham :: Psikolog Sosial. Konsultan dan Peneliti Psikologi; Home page: http://about.me/juneman

Selanjutnya

Tutup

Media highlight

Terpakunya Sampul Jurnal Ilmiah Indonesia

8 Maret 2016   07:53 Diperbarui: 8 Maret 2016   08:28 184 3 1

Sampul jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia pada umumnya mengikuti salah satu dari dua buah model. Model pertama adalah model yang mencantumkan “kotak informasi” pada bagian bawah halaman sampul jurnal, sebagaimana tampak pada Gambar 1. Kotak ini memuat nama jurnal, volume, nomor, jumlah halaman, tempat dan waktu terbit jilidan, nomor ISSN, serta penerbit jurnal. Kotak ini sering diwacanakan dari mulut ke mulut sebagai “kotak wajib” atau “kotak keramat”, karena –konon– kotak ini menjamin terpenuhinya syarat-perlu minimal untuk dapat mencapai akreditasi dari Ditjen Pendidikan Tinggi, meskipun kebenarannya tidak tentu. Yang jelas, pengelola jurnal boleh merasa "sedikit aman" dengan mencantumkan kotak semacam ini.

[caption caption="Sumber: www.jpio.org"][/caption]

Sumber Gambar 1

Model kedua adalah model yang mendistribusikan informasi yang ada dalam kotak model pertama ke sejumlah bagian, sebagaimana tampak dalam Gambar 2.

[caption caption="Sumber: https://www.scribd.com/doc/295719566/Jurnal-Psikologi-Indonesia-Vol-11-No-1-Juni-2014 "]

[/caption]

Sumber Gambar 2

 

Model pertama maupun model kedua dapat memuat informasi lain dalam halamannya, yakni judul-judul artikel, nama-nama dan afiliasi dari penulis artikel, atau semacam "Daftar Isi".

Apabila kita memasukkan kata kunci sampul jurnal pada Google Images, tampaklah model-model sampul jurnal yang umumnya seperti Model I atau Model II. Saya mencuplik sebagian yang menunjukkan "keterpakuan" itu, sebagaimana tampak pada Gambar 3.

[caption caption="Sumber: www.google.com/search?q=sampul+jurnal&ie=UTF-8&tbm=isch"]

[/caption]

Sumber Gambar 3

 

Saya jarang, untuk tidak mengatakan: tidak pernah, menemukan adanya sampul jurnal ilmiah di Indonesia yang dengan tandas dan bangga mencantumkan nama-nama penyunting/editornya, sebagaimana yang dilakukan oleh Journal of Personality and Social Psychology (JPSP, terindeks Scopus - Q1) yang diterbitkan oleh American Psychological Association (lihat Gambar 4).

[caption caption="Sumber: scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net "]

[/caption]

Sumber Gambar 4

Saya menduga bahwa salah satu hal mendasar yang dapat menjelaskan gejala ini adalah ketidakpercayaan diri dari para pengelola jurnal yang disebabkan oleh kurang bahkan tidak diikutinya Pedoman Akreditasi Jurnal Ilmiah, khususnya berkenaan dengan Kualifikasi Anggota Dewan Penyunting, yang menyatakan bahwa (cetak tebal oleh penulis):

"Dewan penyunting terdiri dari perorangan yang berkualifikasi dan berpengalaman serta berkomitmen dan mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang ditugaskan oleh pengelola terbitan berkala ilmiah. Pengangkatan resmi sebagai anggota dewan penyunting dilakukan bukan karena ex officio tetapi karena kualifikasi seseorang. Organisasi dan penggarisan wewenang serta tugas (misalnya penyunting penyelia, penyunting pelaksana, atau penyunting tamu) dapat dinyatakan secara tegas dan jelas. Anggota dewan penyunting diusahakan melibatkan pakar dari berbagai lembaga dan/atau berasal dari berbagai negara, dan bukan lokal. Cakupan bidang keilmuan terbitan berkala ilmiah sebaiknya terwakili oleh kualifikasi anggota dewan penyunting." (sumber: Pedoman Akreditasi Tebitan Berkala Ilmiah, halaman 5, ditemu kembali dari cek disini).

Penggarisan tugas penyunting pada JPSP, yang terbagi menjadi Editor dan Associate Editor, dinyatakan secara tegas dan jelas. Demikian pula, cakupan bidang keilmuan dari Dewan Penyunting JPSP tergambar secara terang-benderang melalui pembagian tiga bidang, yakni (1) Attitudes and Social Cognition, (2) Interpersonal Relations and Group Processes, dan (3) Personality Processes and Individual Differences. Jurnal ini mengetahui siapa dirinya. Apabila diibaratkan manusia, jurnal ini memiliki konsep diri sendiri yang jelas. Dalam hal kualifikasi dan pengalaman, penyunting-penyunting JPSP juga dapat diperiksa kredensialitasnya dengan memasukkan nama mereka pada mesin pencari akademik (seperti Google Scholar).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pekerjaan penyuntingan (editing) jurnal di Indonesia banyak (meskipun tidak pada semua jurnal ilmiah di Indonesia) diserahkan pada orang-orang tertentu yang dipekerjakan semata-mata atas dasar kualifikasi teknis (mampu mengoperasikan piranti pengolah kata, gambar, dan surat elektronik; dapat merupakan lulusan sekolah menengah atau D3) yang tidak dicantumkan namanya sebagai Editor atau Associate Editor. Dengan perkataan lain, seringkali, orang-orang yang namanya justru tercantum sebagai penyunting (editor) tidak terlibat secara nyata untuk mengerjakan bagian yang seharusnya ia kerjakan. Keahlian substantif dari orang yang namanya disebutkan dalam Sidang Penyunting Jurnal tidak teterapkan dalam proses penyuntingan (seperti komunikasi akademik antara para penyunting/editor dan para mitra bebestari/reviewer), apalagi keahlian teknis. Bukankah gejala yang saya sebut sebagai "gift editorship" ini merupakan salah satu wajah dari korupsi akademik?

Kita ingin mem-boost reputasi dari jurnal ilmiah kita dengan mencantumkan nama-nama penyunting yang “berkelas” di bidang ilmunya –biasanya kita lakukan di balik halaman sampul– tetapi kita sendiri menyadari, implisit maupun eksplisit, bahwa proses-proses yang berlangsung pada jurnal kita tidak atau belum “sehebat” itu. Proses penyuntingan jurnal yang seharusnya merupakan proses negosiatif yang "berbobot dan seru" antara penulis, sidang penyunting, dan mitra-mitra bebestari sangat jarang terjadi. Kita sudah cukup happy menjalankan pengelolaan jurnal sebagai "business as usual". Tidak mengherankan apabila sampul terdepan dari jurnal-jurnal ilmiah kita belum dioptimalkan secara kreatif sebagai etalase reputasi keilmuan jurnal. Apakah kita akan bertekad bergerak ke arah sana? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.