Kurikulum 2013 Tanpa Arah dan Tujuan?

09 Desember 2012 10:06:55 Dibaca :

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pendidikan. Tanpa kurikulum, proses pendidikan tidak akan berjalan mulus. Kurikulum diperlukan sebagai salah satu komponen untuk menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam kurikulum terangkum berbagai kegiatan dan pola pengajaran yang dapat menentukan arah proses pembelajaran. Itulah sebabnya, menelaah dan mengkaji kurikulum merupakan suatu kewajiban bagi guru.

Berbagai pendapat mengenai kurikulum telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang SNP dijelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Senada dengan pengertian di atas, Oemar Hamalik (1990:32) menyatakan bahwa kurikulum adalah suatu alat yang amat penting dalam rangka merealisasi dan mencapai tujuan pendidikan sekolah. Dalam arti luas kurikulum dapat diartikan sesuatu yang dapat mempengaruhi siswa, baik dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Namun, kurikulum haruslah direncanakan agar pengaruhnya terhadap siswa benar-benar dapat diamati dan diukur hasilnya. Adapun hasil–hasil belajar tersebut haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan, sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, relevan dengan kebutuhan sosial ekonomi dan sosial budaya masyarakat, sesuai dengan tuntutan minat, kebutuhan dan kemampuan para siswa sendiri, serta sejalan dengan dengan proses belajar para siswa yang menempuh kegiatan-kegiatan kurikulum.

Kurikulum pendidikan suatu bangsa semestinya terkait dan selaras dengan arah pembangunan nasional. Saat ini, arah pembangunan nasional tidak jelas sehingga arah kurikulum pendidikan untuk mencetak manusia unggul juga tidak jelas. Tanpa kejelasan arah pembangunan bangsa, kurikulum pendidikan menjadi kabur, bisa dijejali berbagai materi pelajaran yang tak penting, bahkan bisa disisipi kepentingan politik sesaat.

Sudah saatnya rapor memuat juga uraian komprehensif indikator perkembangan sikap-sikap utama, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, motivasi, kerja sama, dan lain-lain. Penerapan Kurikulum Tematik Integratif (KTI) untuk sekolah dasar, yang diumumkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhmmad. Nuh. Keputusan itu patut diapresiasi mengingat sedikitnya ada dua hal di dalamnya. Pertama, perampingan muatan kurikulum dari 10 menjadi enam mata pelajaran. Kedua, sifat integratif kurikulum yang akan dialirkan melalui tema-tema.

Korelasi dengan potensi

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Suyanto menambahkan, kurikulum yang sedang dievaluasi terutama menyangkut materi pelajaran yang terlalu banyak. Di sisi lain, kurikulum revisi nantinya harus bisa menjawab berbagai persoalan bangsa. (LUK). Tidak terlalu salah memang. Perubahan itu selalu terjadi. Mau atau tidak, setuju atau tidak, tahu atau tidak perubahan pasti terjadi.

Kurikulum pendidikan sebuah bangsa wajib hukumnya untuk berubah. Dinamis. Perubahan yang direkayasa. Ada yang bertujuan agar bangsanya menjadi pelopor perubahan, ada yang bertujuan sekedar mengikuti perubahan dan ada juga yang bersikukuh dengan tujuan sebelumnya yang dirasa masih sesuai dengan kebutuhan bangsanya. Kurikulum pendidikan suatu bangsa adalah cermin karakter bangsa.

Untuk bisa melihat bagaimana dan ke arah mana sebuah bangsa berkembang, cukup dengan melihat kurikulum pendidikannya serta perubahan-perubahannya. Visi dan pandangan dunia dari sebuah bangsa terlihat pada kurikulum pendidikannya. Perubahan yang terjadi ada yang karena merasa harus mencapai sesuatu yang belum diraihnya, Tahun depan perubahan kurikulum akan diterapkan. Di mana letak perubahannya? Ke arah mana perubahannya? Sudah siapkan semua aktor pendidikan? Cukupkah waktu sosialisasi? Bagaimana dengan resistensi yang akan diterima? Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya yang masih tersimpan.

Mungkin yang tidak kalah penting pertanyaannya adalah apakah perubahan itu benar-benar hasil riset yang mendalam dan terbuka? Jangan sampai kita semua bergumam apatis dan pesimistis, Semoga para ahli pendidikan telah benar-benar melalui proses dengan segala kompleksitasnya yang seharusnya dilalui tanpa dilewati satu pun dalam merekayasa/mendisain negara-bangsa ini. Kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri bila kita percaya kepada kearifan yang kita miliki. Kita bisa! Indonesia maju!

Penulis adalah Alumni Siswa SMAN 1 Tempilang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

JOKO DWI CAHYANA

/jokodwicahyana

adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta. PIN BB 311AA5B
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?