HIGHLIGHT

Anak Sekolah Berciuman di Sekolah, Siapa Salah?

04 November 2011 06:19:29 Dibaca :

Pernahkah Anda menonton sinetron tentang anak sekolah? Bagaimanakah kelakuan atau jalan cerita kisah mereka? Benarkah budaya sinetron sudah merasuki dunia anak-anak kita? Mungkin salah, tetapi mungkin pula benar. Maksudnya, kisah sinetron memang terjadi di sekeliling kita karena meniru adegan ala sinetron itu. Jika itu terjadi, siapa yang layak disalahkan? Bukan mencari kambing hitam, tetapi kita memang perlu mengingatkan mereka. Usai mengajar anak-anak di kelas, saya berjalan menuju ruang guru. Ketika berada di ambang pintu, saya melihat beberapa guru yang sedang bercerita tentang sebuah kisah. Sebuah peristiwa terjadi di sekolah. Sebuah peristiwa terjadi kala pembelajaran sedang berlangsung. Peristiwa itu adalah sepasang anak sekolah berciuman di sekolah. Alamak, romantis sekali....!!! Begitulah peristiwa itu terjadi. Sepasang anak sekolah tak merasa malu lagi untuk berciuman meskipun dilihat teman-temannya. Teman-temannya mungkin dianggap batu sehingga mereka tak perlu merasa malu. Guru pun telah dianggap buta sehingga mereka tak lagi merasa risih dilihatnya. Sekolah tak lagi dianggap sebagai tempat pendidikan untuk mendidik mereka. Sebuah anggapan yang mungkin memang telah menjadi anggapan yang dibenarkan sebagian anak muda sekarang. Atas kejadian itu, saya mencoba merefleksikan kejadian itu dengan profesiku. Saya pun berusaha menemukan pihak yang perlu disalahkan. Maka, saya menemukan lima pihak yang mestinya bertanggung jawab atas kejadian itu. Siapa sajakah mereka? Satu: Guru Saya berpendapat bahwa guru sering terlambat masuk ke kelas meskipun bel sudah berbunyi. Guru masih menunda pelaksanaan tanggung jawabnya. Guru masih mengasyikkan diri dengan berbincang di ruang guru atau tempat lain. Pada saat yang demikianlah, anak-anak itu menemukan kesempatan. Mereka memanfaatkan kelengahan guru dengan berpacaran di sekolah atau di kelas. Tak lagi ada guru yang menegur kelakuan mereka karena teman-temannya tentu akan sungkan menegur mereka. Dua: Sekolah Tatatertib sekolah tidak ditegakkan dengan baik. Setiap sekolah pasti mempunyai tata tertib. Namun, teramat disayangkan, tata tertib itu sekadar menjadi pelengkap administrasi kelas dan atau sekolah. Tata tertib itu terpampang dengan jelas di setiap kelas tetapi pelaksanaan tata tertib itu belum terpampang pada kehidupan sehari-hari. Sekolah memberikan kelonggaran yang terlalu longgar sehingga kedodoran dan akhirnya kebobolan. Tiga: Orang Tua Semestinya orang tua tidak membiarkan anak-anaknya ketika mereka sedang menonton televisi. Orang tua mestinya mengawasi dan memilihkan acara yang baik kepada anaknya. Jika dIperlukan, orang tua melarang anak-anaknya untuk menonton televisi jika nyata-nyata acara televisi itu kurang baik ditonton. Secara pribadi, saya pun melarang anak-anakku menonton televisi kecuali hari libur. Dan itu pun saya memilihkan acara agar anak-anakku tidak menonton acara yang memang belum waktunya mereka menonton. Empat: KPI Komisi Penyiaran Indonesia (KPI, semoga tidak salah) tidak berperan aktif terhadap mutu tayangan media. Begitu banyak tayangan atau acara yang ditampilkan televisi dan atau media teramat kurang mendidik para anak bangsa. Banyak televisi menayangkan acara-acara yang mengeksploitasi dunia hiburan seraya tidak mengindahkan etika. Acara-acara itu pun ditayangkan pada waktu-waktu utama (primetime) di mana anak-anak belum tertidur. Mereka sering menyaksikan acara "dewasa" itu meskipun belum waktunya. Lima: Kemeninfokom Menurutku, emerintah melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi segera bertindak ketika menemukan tayangan yang tidak edukatif. Pemerintah seyogyanya berusaha mencegah tayangan yang merusak moral dan member sanksi tegas kepada pihak terkait yang nyata-nyata melakukan pelanggaran. Namun, seakan kita masih perlu menunggu ketegasan itu karena mungkin acara-acara itu tidak dianggap melanggar ketentuan. Kita perlu menjaga generasi bangsa ini agar mereka tetap memiliki etika ketimuran seraya mendidik mereka. Salah satu cara mendidik yang efektif adalah memberikan tontonan yang baik kepada mereka. Namun, mereka dapat menjadi generasi nakal jika kita tidak memedulikan etika dan moral. Mari kita menyelamatkan generasi seraya bersikap bijak dengan memberikan mutu tontonan yang baik kepada mereka. Dimulai dari diri adalah cara yang terbaik! Sumber gambar: Sini

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?