Warning untuk Pendukung Ahok

19 Mei 2017 08:36:24 Diperbarui: 19 Mei 2017 09:41:26 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

He..he......ingin ketawa sendiri kalau lihat dan baca media-media di Indonesia, baik online maupun media cetak judul materi yang di bahas seperti judul sinetron televisi swasta yang bikin geli. Ini contohnya "Waduh Ngeri, Tak terima vonis Ahok, Ahoker kesurupan", "Semua Karena Ulah Ahoker", "Ahoker Demo Tidak Terima Putusan Hakim".

Sedih juga lihat Ahoker..........siapa ya anak atau orang-orang ini ? sepertinya Ahok bagai ARIEL atau Via Vallen atau juga Nella Kharisma yang bukak sitik jos he......yang kayaknya cetek pikirannya, yang tetep paling joss ya Gusti Allah (Tuhan) yang punya segalanya. Ahok hanya salah satu contoh manusia yang mungkin mau sedikit banyak untuk menjalankan perintahnya secara benar. 

Ahok hanya manusia biasa yang mau menjalankan perintah Gusti Allah (Tuhan) dengan lumayan benar dan beruntung (kebetulan) dia sebagai pejabat publik sehingga bisa dilihat masyarakat banyak dan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI apa yang dilakukan bisa dirasakan manfaatnya bagi semua lapisan masyarakat Jakarta dan pantaslah kalau masyarakat banyak yang bersimpati pada Ahok walau mempunyai kepercayaan yang berbeda-beda.

Kami yang merasa simpati sama AHOK seperti orang bego sendiri ketika melihat para pendukung Ahok, mengirim bunga yang begitu banyak ke balaikota dan demo di depan LP Cipinang menuntut Ahok untuk menemui mereka atau bahkan membebaskannya dari tuntutan.  Sepertinya Ahoker sudah kalap dan ingin main hakim sendiri ? apa nggak sadar bahwa negara kita itu negara hukum dan kelihatan bahwa negara Indonesia saat ini yang dibutuhkan adalah keamanan dan kedamaian sehingga orang yang mau berinvestasi tidak merasa terancam.

Dulu kami berpikir semua pendukung Ahok untuk pemahaman tentang kebangsaannya tinggi tapi ternyata masih terdapat perorangan-perorangan yang berpikir dengan emosi dan cetek pemahaman tentang kebaikan dan Allah. Setelah kami pikir betul juga karena beberapa tahun lalu di istana setiap hari minggu ada jemaat yang selalu demo di depan Istana Negara untuk meminta keadilan karena secara hukum sah di Negara ini mereka yang menang dan bisa menempati gedung untuk beribadah tetapi ternyata beberapa orang dari golongan tertentu menghadangnya.

Kalau memang orang-orang ini paham tentang ajaran Allah atau Yesus bagi mereka, mereka itu tak akan melakukan tindakan apapun sampai rumah mereka di bakar atau dia sendiri di bunuh. Karena anak-anak yang sudah mengenal secara baik ajaran ini tak punya rumah rumah ibadah ataupun kitab sucijuga why not ?, karena intinya cuma satu ketika kita punya pemahaman yang terbaik tentang Allah dan cinta sesama, kita menjadi tersenyum ketika kita teraniaya karena itu sudah ada di buku Tuhan dan ramalan Joyoboyo.

Makanya kami dengan amat sangat dan dengan rendah diri menginggatkan Ahoker untuk sadar, bahwa jangan jadikan Ahok seperti artis, alat politik untuk segelitir orang saja bahkan dewa karena Ahok adalah orang biasa, kita-kita yang sejalan dengan Ahok pastinya diam tapi akan seperti Ahok untuk memberi inspirasi kebaikan di lingkungan kami berada dan selalu mendukung kebaikan dimana saja berada. Kalau Ahoker memang mencintai Bangsa Indonesia yang BHINNEKA TUNGGAL IKA dalam wadah NKRI dari detik ini janganlah melakukan DEMO, mengirim karangan bunga dengan tulisan apapun, jangan menghujat di media sosial dan media online apapun walau tulisan itu bagi kamu semua tidak etis.

Lihat Jokowi yang selalu diam dan bekerja untuk Indonesia dari Sabang sampai Merauke, itu saja masih di hujat, habis energi bangsa ini untuk mengurusi hal yang nggak bermutu, kita baik, jahat tidak, masuk surga atau neraka Gusti Allah yang tahu. Ayo dukung pesan Jokowi STOP HUJAT MENGHUJAT KARENA HANYA MENGHABISKAN ENERGI BANGSA INI.

Salam dari BANG OONE


N K R I

/joedhyk

TERVERIFIKASI

Pengamat politik bawah sadar
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana