HIGHLIGHT

Jokowi Perlu Ikut Nyapres Atau Tunggu Dicapreskan Saja?

10 September 2013 19:02:11 Dibaca :

Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi masih tetap menjalankan tugasnya dengan baik dan warga Jakarta pada umumnya senang. Namun karena perilaku pejabat pemerintah atau pejabat negara yang kurang baik selama ini, maka sosok Jokowi yang sederhana dengan mudah menjadi pusat perhatian; bahkan tidak sedikit yang menghendakinya jadi calon presiden. Mungkin di luar dugaan, bahwa beberapa polling yang menanyakan tanggapan masyarakat tentang calon presiden 2014, pada umumnya Jokowi selalu nomor atas. Namun dengan popularitas Jokowi ini, kiranya sang gubernur perlu bersikap bijak namun berpikir cerdas juga. Pengalaman dari sosok yang sempat diidam-idamkan masyarakat seperti Nurcholish Majid, namun akhirnya tidak mendapat dukungan politik kiranya menjadi pelajaran berharga. Jokowi yang disenangi masyarakat (bukan hanya PDIP atau Bu Mega, atau Prabowo) hendaklah mengikuti keinginan masyarakat saja. Jokowi tidak perlu berupaya nyapres seperti calon-calon lain. Lebih baik Jokowi terus bekerja keras sebagai gubernur, dan nantinya biarlah masyarakat Indonesia yang mencapreskan. Melihat tingginya peminat capres 2014, lebih baik bagi Jokowi untuk tidak terlihat terlalu dekat dengan salah satu partai saja. Karena kalau itu yang terjadi, bisa muncul gerakan "asal tidak Jokowi." Untuk itu dengan baik-baik seharusnya Jokowi perlu menyampaikan kepada PDIP dan Bu Mega agar tidak perlulah ikut-ikutan berkampanye mendukung calon-calon kepala daerah yang kebetulan semuanya kalah seperti di Jabar, Sumut, dan Jatim; mungkin hanya Gubernur Jateng saja yang menang itupun karena sosok Ganjar Pranowo yang cukup baik. Seharusnya PDIP dan Bu Mega pun perlu memahami ini. Jokowi bekerjalah sebagai gubernur DKI dan biarlah anda dicapreskan masyarakat nantinya. Kalau itu yang tejadi, maka kemungkinan beberapa parpol pun tidak akan ada rasa sungkan untuk turut mencapreskan anda.

Jonny Sinaga

/jimmy1962

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat yang berarti untuk bangsa dan negara. Walau negara sedang dilanda wabah korupsi, masih senang sebagai warga. Cita-cita: agar Indonesia bisa kuat dan bebas korupsi; seluruh rakyatnya sejahtera, cerdas, sehat, serta bebas dari kemiskinan dan kekerasan. Prinsip tentang kekayaan: bukan berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak yang sudah kita berikan kepada orang lain.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?